Cinta Penebus Hutang

Cinta Penebus Hutang
puncak kemarahan


__ADS_3

Suasana apartemen Rendy terlihat ramai dan gaduh karena kehadiran Bella dan temannya. Mereka tengah mengerjakan tugas kuliah diringi canda tawa. Suasana sumringah terpancar dari wajah mereka.


Hanya saja Bella terlihat berbeda sudah berkali kali dia melirik jam tangannya. Entah mengapa hatinya menjadi was was. Ada rasa gelisah dalam hatinya. Apalagi jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


"apa kau sudah menyiapkan kan obat itu?" tanya Selena kepada Rendy di seberang telepon.


"sudah kurang menunggu waktu. Kalau temannya pergi aku akan menaruh nya ke dalam minumannya" jawab Rendi terbata.


"bagus pastikan berjalan dengan lancar" tegas Selena lalu menutup telepon secara sepihak.


Rendy menatap Bella dari jauh ada rasa khawatir dan bersalah di dalam hatinya atas apa yang akan dilakukan nya. Namun rasa cinta itu telah menggelapkan hatinya. Dengan ragu dia memasukkan serbuk obat kedalam minuman Bella.


Perlahan dia menghidangkan minuman itu dan sengaja dia sendiri yang membagikannya satu persatu. Agar tidak tertukar maksudnya.


"wih seger nih pas dengan suasana" ucap Dimas terkekeh sambil mengambil segelas minuman.


"kak Rendy pengertian deh" ucap Mirna.


"ya sudah ayo tunggu apa lagi ayo di minum, ehmm... Bella ayo minum" kata Rendy tersenyum manis.


"iya kak terima kasih" Bella pun mengambil minuman di depannya namun baru saja mau meminumnya tiba tiba bell berbunyi.


*Ting tong....


Ting tong*...


semua menoleh ke arah pintu bertanya tanya siapa yang datang.


"biar aku buka dulu" ucap Rendy bergegas menuju pintu.

__ADS_1


Bella yang akan meminum minuman seketika berhenti dan menatap ke arah pintu penasaran. Rendy segera membuka pintu.


"Selamat malam" Ternyata Aron yang datang dengan wajah menatap tajam.


"hmm... malam tuan Aron ada yang bisa saya bantu?" tanya Rendy gugup.


"saya menjemput nyonya Bella" ucap Aron singkat.


"dia ada di dalam tunggu saya panggilkan" jawab Rendi sedikit ketakutan. "apa dia tau rencanaku dengan Selena yah?" pikirnya.


"Bella tuan Aron ada di luar katanya Ingin menjemputmu" ucap Rendy sedikit kecewa berharap Bella bisa tinggal lebih lama terlepas dari rencananya.


"apa...!!!" Bella seketika terperanjat takut bercampur khawatir tubuhnya bergetar. Dengan cepat dia bergegas keluar menemui Aron.


"mari nyonya" Ucap Aron dengan tatapan tajam.


Sebenarnya Edward mengira kalau Bella dan Rendy hanya berdua di apartemen itu karena melihat dari video tadi karena sopir terlalu jauh di belakang akhirnya dia datang ketika hanya Bella yang belum masuk dan ada Rendi yang menyambut apalagi dengan pose tadi seakan Bella dan Rendy berpelukan.


Wajah Bella terlihat khawatir dan takut ia sudah membayangkan kemarahan Edward yang tengah menunggu nya. Tak berapa lama mereka pun sampai.


Terlihat Edward telah menunggunya dengan sorotan tajam. Baru saja Bella memasuki rumah Edward sudah berteriak marah.


"darimana kamu?" pekik Edward dengan nada tinggi.


"ak...aku..." Bella tergagap ketakutan.


"Berani sekali kau" hardik Edward langsung menarik lengan Bella mencengkram pergelangan tangannya dengan kasar.


Edward menyeret Bella dengan kasar menaiki anak tangga. Tak menghiraukan Bella yang menangis kesakitan. Aron mengerang frustasi melihat kasarnya perlakuan Edward. Dia membuang muka kadar ingin menghentikan tapi tak berani.

__ADS_1


Pak Jo menelan Saliva tak tega melihat Bella. Bu Marni menangis sambil menutup mulutnya. "ya Allah nyonya...." ucap Bu Marni pelan. Mereka tidak ada yang berani menghentikan.


Edward menghempaskan tubuh Bella kasar di atas ranjang. Matanya memerah penuh amarah.


"apa yang kau lakukan bersamanya ha..." ucap Edward mencengkram bahu Bella erat.


"tidak ada kami tidak melakukan apa-apa, hiks..." Bella menangis tersedu sedu ketakutan.


Edward terlihat sangat marah, terlihat wajah sangarnya. Bella sudah dua kali ini melihat kemarahan Edward tapi kali ini sangat menyeramkan baginya.


"bohong....!!!" hardik Edward dia melucuti pakaian Bella memeriksa seluruh inci tubuh. Bella menangis histeris ketakutan. Tak puas sampai di situ Edward kemudian menyeret Bella ke kamar mandi.


"bersihkan tubuhmu hilangkan bekas Lelaki brengsek itu" ucap Edward mengguyur tubuh Bella dengan air dingin. "berani kau...ha...!!!"


"tidak...hiks....tidak...!!!" Bella terduduk diantai Badannya menggigil ketakutan dan kedinginan. "aku tidak melakukan apa-apa! tidak...tidak..." ucapnya dengan nada bergetar.


Edward mengerang frustasi menjambak rambutnya kasar. Dia seperti kehilangan kesadaran dan akal sehat. Dia keluar dari kamar tanpa mempedulikan Bella yang menangis.


Bu Marni yang melihat Edward turun segera berlari ke atas. Dia berlari memasuki kamar mengedarkan pandangannya mencari Bella. Kemudian matanya tertuju pada pintu kamar mandi yang terbuka. Matanya membulat melihat Bella terduduk lemas menggigil tanpa sehelai benang di tubuhnya.


"ya Allah nyonya....!!!" tangis Bu Marni pecah dengan segera dia mengambil handuk lalu memakaikan ke tubuh Bella.


"aku tidak melakukan apa-apa. hiks...hiks...." Bella terus mengulang kata kata itu sambil menangis tersedu sedu.


Bu Marni kemudian memapah Bella menuju ke ranjang nya. Tubuh Bella sedingin Es dia menggigil. Bu Marni merebahkan tubuh Bella di kasur. mengambilkan baju tidur lalu menyelimuti Bella dengan selimut tebal.


Bu Marni menatap iba wajah Bella terdengar sesegukan memejamkan matanya. Kenapa tuan muda bisa sekasar itu pikirnya.


Sementara itu Edward memasuki ruang pribadinya. "Arrggghhhh.... brengsek" teriaknya. Dia menyapu seluruh benda melempar apa pun yang diraihnya.

__ADS_1


Aron hanya berdiri mengawasinya lalu setelah Edward sedikit tenang Dia pun meraih ponselnya. "aku harus menyelidiki ini semua." ucapnya dia pun menelpon seseorang.


Terdengar Aron memberi perintah kepada seseorang untuk menyelidiki kejadian itu


__ADS_2