
Tak terasa sudah dua bulan lebih setelah pernikahan Bella dan Edward. Hari ini Bella terlihat bersemangat dia ingin sekali menelpon ibunya. Terlihat Bella sedang memakaikan dasi Edward.
Edward terus menatapnya intens wajah Bella membuat Bella risih. Bayangan tubuh Bella yang polos selalu terbayang apa lagi entah sudah beberapa kali dia memergoki Bella di kamar mandi. Membuat sesuatu dalam tubuhnya bangkit ketika mengingatnya.
"kenapa menatapku seperti itu?" tanya Bella sudah tak tahan dengan tatapan Edward. Edward hanya tersenyum tanpa menjawab di langsung membungkam mulut Bella dengan ciuman panas. Bella sudah biasa dengan itu dan tidak pernah menolak, toh itu hanya ciuman menurutnya.
"tubuhmu sangat indah..." Ucap Edward pada Bella masih tetap melanjutkan ciuman.
"apa...!!! apa kau memperhatikan tubuhku?" tanya Bella terbelalak langsung mendorong tubuh Edward menjauh.
"memangnya kenapa, kau istriku? apa yang salah dengan itu? aku bahkan berbaik hati tidak menyentuhmu" jawab Edward kesal karena Bella menghentikan ciumannya.
"iya ya tidak ta...tapi kita berbeda dari pasangan suami istri pada umumnya" jawab Bella lirih sambil menunduk.
"ah terserahlah... Aku berangkat sekarang" kata Edward sambil berlalu keluar. Bella menghela nafas lega.
"hufft...!!! akhirnya dia berangkat juga. Tapi tubuhku yang mana yang sudah dia lihat? jangan jangan dia melihat semuanya? aaaa...tidak mungkin...!!!" pekik Bella sambil menutup wajahnya.
"aaa... aku jadi lupa meminta izin menelpon ibu dan ayah" kata Bella dengan kesal "tapi mungkin dia belum berangkat aku akan turun melihatnya."
Dia pun segera turun menyusul Edward. Terlihat Edward sedang sarapan dan Bella pun ikut sarapan. Setelah selesai sarapan Edward berjalan keluar dengan cepat Bella mengikuti dari belakang.
"tuan tunggu sebentar!" kata Bella menghentikan langkah Edward.
"ada apa lagi?" Tanya Edward.
"Boleh kah aku menelpon ibuku? please... boleh ya?" jawab Bella sambil mengatupkan kedua tangannya dengan wajah memelas.
"terserah..." jawab Edward malas karena dia sedang terburu buru.
"o..yes terima kasih... mmuaach...!!!" Karena terlalu senang Bella tak sadar memeluk dan mencium pipi Edward.
Edward terkejut mendapat ciuman mendadak dari Bella. "berani sekali dia menciumku. ck... dasar bocah..." ucap Edward menggeleng kepala.
Sementara itu setelah mencium Edward dia memasang jurus lari seribu menuju kamarnya. "kenapa aku menciumnya? aku terlalu senang tadi, ah ya sudahlah yang penting aku bisa menelpon ibu." kata Bella sambil meraih ponselnya menekan nomor telpon rumahnya.
Tak berapa lama terdengar suara lembut ibu Shinta di seberang telpon.
"halo Bella kau kah itu?" tanya ibu Shinta tak percaya mendengar suara putrinya.
__ADS_1
"ini Bella bu. Aku sangat merindukan keluarga di sana" jawab Bella mulai berkaca kaca meneteskan air mata.
"bagaimana kabarmu sayang? kau baik baik saja kan? kami juga sangat merindukanmu." kata Ibu Shinta mulai menangis haru.
"aku baik bu bagaimana keadaan kakek?" tanya Bella.
"kakek sudah sehat nak, sudah bisa berjalan sendiri. kami selau menghubungimu tapi tidak bisa." jawab Bella.
"Shinta apa itu Bella?" terdengar suara nenek dari jauh.
"nenek...nenek Bella rindu sekali" ucap Bella sambil menangis sesegukan.
"cucuku sayang... oh bagaimana kau di sana nak? apa mereka memperlakukanmu dengan baik?" tanya nenek ikut menangis.
"kalian jangan khawatir, aku bahkan tambah gemuk sekarang karena tak ada kerjaan!" ucap Bella menghibur ibu dan neneknya.
"benarkah itu? kapan kau kemari ini sudah lama sekali tak melihatmu?" tanya nenek berharap.
"entahlah nek, aku akan mencoba meminta izin kepada tuan muda nanti" jawab Bella memberi harapan karena dia pun ingin sekali mengunjungi keluarganya.
"semoga tuan muda memberimu Izin" ucap Nenek. Dia pun memberikan telepon kepada ibu Shinta.
"ayahmu ada urusan kalau jimmi ke sekolah. tapi Kakakmu ada di kamar?" jawab ibu.
"kakak ada? bolehkah aku bicara denganya?" mohon Bella tak sabar.
"tentu saja. tunggu ibu bawakan!" jawab ibu Shinta.
Terdengar langkah kaki ibu menuju kamar Arya. "Arya buka pintunya adikmu menelpon!"
"siapa ? Apakah Bella?" tanya Arya sangat senang dia pun meraih ponsel.
"kakak...kau sedang apa di sana?" pekik Bella sangat senang.
" Bella bagaimana keadaanmu disana ha? kau baik baik sajakan? mereka tidak melukaimu kan? ha?" rentetan pertanyaan di lontarkan Arya sangat khawatir dengan adiknya.
"kakak pertanyaanmu banyak sekali. aku baik baik saja tidak usah khawatir." ucap Bella tertawa mendengar pertanyaan Arya.
"syukurlah tapi benarkan kau sedang tidak berbohong kan?" Arya bertanya kembali.
__ADS_1
"benar kak serius!" jawab Bella meyakinkan.
"kamu yang sabar disana tinggal 4 bulan lagi semuanya akan berakhir." ucap Arya.
"iya kak. jangan terlalu khawatir di sana!" ucap Bella.
"jaga dirimu baik baik. Jangan biarkan dia menyentuhmu! kau mengerti?" Arya mengingatkan dengan penuh penekanan.
"i...iya kak! D...dia tidak menyentuhku sama sekali" jawab Bella terbata dia menjadi takut bagaimana kalau dia tak bisa menahan Edward, bagaimana kalau dia terlena bujuk rayunya bahkan dirinya saja tidak bisa menjamin.
"halo...Bella kau masih di sana?" tanya Arya tidak mendengar suara Bella.
"ya..ya kak masih" jawab Bella tersadar dari lamunannya. "baiklah kak sudah dulu aku ada tugas dari kampus aku ingin menyelesaikannya"
"kau masih kuliah? memangnya dia mengijinkanmu kuliah?" tanya Arya sedikit heran dia kira kuliah Bella sudah terputus.
"iya kak tapi tidak ke kampus Rara dan Sena membantuku menyetor tugas" kata Bella menjelaskan
"baguslah setidaknya kau masih bisa kuliah" jawab Arya sedikit senang.
"iya kak. ya sudah aku tutup dulu sampaikan salamku pada ayah kakek dan jimmi" ucap Bella menutup telpon.
"iya, ingat jaga dirimu" Arya mengakhiri telpon.
Sementara itu Edward juga mendengar semua percakapan keluarga Bella. Dia merasa geram mendengar Arya sok menasehati Bella.
"brengsek dia itu sepertinya akan jadi pengganggu" kata Edward kesal.
"tapi dia bisa apa disana. hahaha... cecunguk sepertinya tidak akan menghalangiku. ck..." Edward berdecak kesal.
"pantau terus keluarga itu terutama si Arya itu" perintah Edward kepada Aron.
"baik tuan" jawab Aron mengangguk hormat.
"lihat saja apa yang bisa kulakukan." kata Edward sambil tersenyum licik. "aku selalu mendapatkan yang aku inginkan, tak kan butuh waktu lama aku akan memiliki Bella sepenuhnya" ucapnya sangat yakin.
Aron hanya menatap serius tuannya. "ah sepertinya tuan muda sudah benar benar menyukai nyonya Bella, kalau sudah terobsesi begitu akan susah untuk menghentikannya. Mudah mudahan tidak akan terjadi hal buruk"
Aron sangat tau tabiat dari tuan Mudanya. Saat menginginkan sesuatu dia tidak akan berhenti sampai mendapatkannya. Berbagai cara akan dilakukannya sampai diluar akal sehat manusia normal. Tentu saja di balik semua itu ada Aron yang membantu mewujudkannya.
__ADS_1