
Hari ini Bella tengah berada di kampusnya, tiga bulan lagi dia akan wisuda jadi memang sedang sibuk sibuknya menyusun skripsi dan banyak lagi kegiatan penting lainnya.
"Eh Bella bentar sore kita akan kerjakan tugas dari dosen waktu hari Sabtu lalu." ucap Rara sambil menyesap minuman nya.
"oke deh, emang kita ngumpul di mana?" tanya Bella.
"katanya sih di rumah teman Dimas soalnya temannya itu asisten dosen jadi dia akan bantu kita ngerjain tugas" Ucap Sena.
"aku ikut saja yang penting nggak sampai malam kan" tanya Bella.
"ya ila sampai malam emang kenapa?" tanya Rara meledek.
"oh kalian ini, aku punya suami yang galak jadi mengerti sajalah" jawab Bella kesal.
"hahaha ...biar galak kalau setampan itu aku juga mau kok" Sena tertawa lebar.
"ih apa sih..." Bella semakin kesal.
Sena dan Rara terus menggoda Bella. Mereka memang suka sekali menjahili sahabat nya itu. Sampai dua orang teman satu fakultasnya menghampirinya.
"hai jadikan kita ngumpul?" tanya salah satu dari mereka yang biasa dipanggil Mirna.
"ya jadi dong" jawab Rara cepat.
"ya sudah ayo berangkat jam kuliah udah habis nih!" ajak salah satu yang bernama Dimas.
"loh katanya nanti sore" protes Sena.
"Alla... udah jam dua lewat sudah sore ini mah belum lagi macet di jalan ntar keburu malam" sanggah Dimas melirik jam tangannya.
"memang dimana kita ngumpul?" tanya Bella.
"di rumah temanku tidak jauh dari sini" jawab Dimas.
"ya sudah yuk" ucap Rara beranjak lalu membereskan buku bawaannya.
Bella dan Rara hanya mengangguk lalu mengikuti Mirna dan Dimas. Bella berjalan menemui sopir yang telah menunggu nya.
"pak....!!! bapak pulang saja saya ada tugas mau ke rumah teman dulu" ucap Bella pada sopir nya.
"tapi nyonya kalau tuan tanya saya jawab apa?" jawab supir itu khawatir.
"cuma sebentar pak nanti saya telpon kalau sudah selesai" ucap Bella.
"ya sudah kalau begitu tapi nyonya naik apa ke sana?" tanya supir dengan wajah cemas
__ADS_1
"saya ikut teman saya itu mereka sudah datang" jawab Bella menunjuk mobil Dimas yang sudah berhenti di depan nya.
"baiklah hati hati nyonya!" ucap Supir membukakan pintu untuk Bella. Mereka pun berlalu pergi menuju tempat yang dibilang Dimas.
Sang supir menatap kepergian nyonya mudanya itu. "aish ... perasaanku kok tidak enak ya?" gumam Supir itu bergegas masuk ke dalam mobil.
"lebih baik aku lapor ke tuan muda dulu. Daripada terjadi masalah bisa digantung aku. Hufff membayangkan saja jadi merinding gini" ucap supir itu. Dia pun meraih ponselnya.
***********
Sementara itu Edward tengah berada di ruang kebesaran nya. Terlihat sekretaris Kevin membawa beberapa map berkas yang akan ditandatangani oleh Presdir.
"permisi Presdir saya membawa berkas yang anda inginkan" ucap Kevin dengan sopan.
Edward pun mengambil berkas berkas itu meneliti satu persatu lalu menandatangi nya.
..."Segera persiapkan rapat dengan mereka" ucap Edward sambil menghempaskan salah satu berkas dengan kesal....
"apa ada kesalahan dengan berkas mereka Presdir?" tanya Kevin ragu.
"kau bertanya padaku? apa kau tidak membacanya dulu ?" tanya Edward dengan tegas.
"saya membacanya Presdir, saya hanya ingin memastikan saja" jawab Kevin gelagapan.
"Baik Presdir" Kevin pun membungkuk memberi hormat lalu keluar. "huffft... " Kevin menarik nafas lega saat keluar dari ruangan Presdir. seperti baru selamat dari tantangan maut.
Drrrtt..... drrrtt..,..
Tiba tiba ponsel Edward bergetar tanda ada panggilan masuk. Edward pun meraih ponselnya.
"halo ada apa?" tanyanya langsung.
"anu tuan muda nyonya pergi dengan teman nya katanya ada tugas kuliah yang akan dikerjakan" terdengar suara Supir pribadi Bella.
"pergi kemana dia?" tanya Edward lagi dengan nada serius.
"sepertinya ke rumah temannya tuan" jawab Supir.
"Kamu ikuti dia dari jauh, terus laporkan ke saya" ucap Edward gelisah.
"baik tuan saya mengerti" jawab sopir itu panggilan pun terputus. Dengan cepat Supir pun mengikuti Mobil Dimas yang ditumpangi oleh Bella.
Terlihat mereka berhenti di depan sebuah gedung apartemen. Mereka pun turun lalu masuk kedalam gedung. Supir itu pun mengikuti mereka dengan hati hati.
Mereka kemudian berhenti di depan sebuah apartemen terlihat satu persatu dari mereka masuk kedalam apartemen. karena takut ketahuan sopir itu pun baru terlihat saat semua orang telah masuk kecuali Bella yang terakhir karena bukunya terjatuh.
__ADS_1
Di dalam apartemen Seorang pria menyambut mereka membuat Sena dan Rara terbelalak.
"Kak Rendy kok bisa disini" tanya Sena heran.
"loh inikan apartemen ku" jawab Rendi dengan santainya.
"oh aku baru tau" ucap Rara singkat.
"kalian bersama Bella?" tanya Rendy pura pura padahal dia sudah merencanakan semua ini.
"Iyya Bella tadi masih di depan" jawab Mirna. Sedangkan Dimas mulai menyusun bahan materi tugas mereka.
"oh..." Rendi pun segera keluar menyambut Bella. Dia membuka pintu Apartemen nya. Terlihat Bella sudah akan masuk.
"hai Bella...!!" sambut Rendy dengan senyuman cerahnya.
"kak Rendy...?" Tanya Bella heran hatinya menjadi takut terbesit perasaan tak enak di hatinya.
"ayo masuk teman temanmu sudah menunggu di dalam" ajak Rendy.
Bella terlihat terbata bata masuk ada sedikit ketakutan dihatinya. saat melangkah maju tiba tiba dia tersandung dengan cepat Rendy menahan tubuh Bella. Sehingga terlihat seperti sedang berpelukan.
Tanpa disadari mereka sopir itu ternyata sudah tersambung video call dengan Edward. Dengan camera menghadap ke mereka.
Sehingga Edward mengira Bella sedang Berpelukan dengan Rendy. Seketika darah Edward terasa mendidih karena marah.
Dia pun menutup ponselnya lalu menelpon Bella. Namun sudah berapa kali Bella tidak mengangkatnya.
"brengsek....!!! berani sekali dia..." pekik Edward sangat marah. "Aron.... aroooonn....!!!" teriaknya memanggil Aron.
"ya tuan anda memanggil saya" tanya Aron denga cepat.
"ayo ikut aku menjemput Bella di apartemen Rendy" Perintah Edward dengan nada tinggi.
"oh ya Tuhan nyonya anda punya berapa nyawa sih bisa seberani itu" batin Aron cemas setelah mendengar nama Rendy sudah pasti akan terjadi ke kacauan.
"tuan muda biar saya yang menjemput nyonya. Kevin akan mengantar anda pulang." bujuk Aron dia tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan kalau Edward langsung yang pergi.
"tidak aku sendiri yang akan memberi pelajaran anak ingusan itu" jawab Edward kesal.
"saya mohon anda jangan tersulut emosi tuan. Jangan mengotori tangan anda, biarkan saya mengurusnya" bujuk Aron kembali.
Setelah beberapa kali akhirnya Edward pun setuju dengan Aron. Aron pun bergegas menuju Apartemen Rendi sedangkan Edward diantar oleh Kevin pulang ke mansion.
Dilain tempat Selena tersenyum senang setelah Rendy menghubunginya. "akhirnya kau masuk jebakanku Bella selamat bersenang-senang" Selena tersenyum licik.
__ADS_1