Cinta Penebus Hutang

Cinta Penebus Hutang
kemarahan kakek


__ADS_3

Terlihat semua orang tengah berkumpul di ruang depan kediaman keluarga Bella. Ibu Marissa terlihat sedari tadi mondar mandir di depan pintu sesekali melihat keluar.


Semuanya tengah menunggu kedatangan Bella. Semalam setelah Bella menelpon, Arya memberi tahu kepada keluarganya tentang kepulangan Bella.


Kakek dan nenek terlihat termenung memikirkan nasib Bella. Baru semalam mereka tahu tentang perihal pernikahan Bella dan Edward.


Dia sangat menyayangkan semua ini terjadi pada cucunya membuat kesehatan kakek menjadi memburuk apalagi setelah dia tau dia adalah alasan utama Bella melakukannya.


"kalian benar benar keterlaluan! bisa bisanya kalian menukar cucuku dengan harta, apa kalian terlalu takut untuk hidup miskin" ucap Kakek dengan nada tinggi sambil memegang dadanya.


"Jangan terlalu keras ingat kesehatanmu" tegur nenek sambil mengusap punggung kakek.


Yang lain hanya diam tak berani berbicara. Apalagi paman sanjaya dan bibi susi. Mereka gemetar ketakutan.


"bagaimana bisa kalian mempermainkan pernikahan yang sakral" sambung kakek dengan nada penuh penekanan.


"maaf kan kami ayah! kami tidak punya pilihan saat itu apalagi ayah sedang kritis" ucap Ayah.


"memangnya kenapa, aku tidak takut mati umurku memang sudah tua, kalau sudah ajal mau bagaimana lagi" ucap kakek menggebu gebu. Kini raut wajahnya berubah sendu penuh kesedihan.


"aku tua bangka yang tidak berguna" kakek menangis tergugu. Raut wajah tua yang selalu bijaksana itu terlihat memendam amarah dan kesedihan.


"ayah ampuni kami ayah" ayah Hendra dan paman sanjaya berlutut di hadapan ayahnya memohon maaf.


Suasana di dalam rumah seperti mencekam semua terlihat menundukkan kepala tak adah yang berbicara.


Setelah beberapa saat terdengar suara mobil. Dengan cepat ibu Shinta keluar menjemput putrinya.

__ADS_1


Terlihat Bella turun dari mobil dengan wajah sendunya. Dia menatap ibunya yang sedari tadi menunggu dari dalam terlihat ayahnya dan semua orang menunggunya.


Perlahan dia berjalan menghampiri ibunya dia sudah tidak dapat menahan tangisnya lagi ketika dia memeluk sang ibu begitu pula semua orang yang ada. Seakan sedang menangisi pahlawan yang pulang selamat dari medan perang.


"ibu...hiks...hiks..." Bella menangis tersedu sedu dalam dekapan ibunya. Entah apa yang ia tangisi. Apakah kepulangannya ke rumah keluarganya ataukah kepergiannya dari Mansion.


"semuanya sudah berakhir nak... jangan khawatir" ucap Ibu Shinta mengusap punggung Bella lembut.


Setelah itu mereka pun masuk ke dalam rumah. Bella kemudian menghampiri Ayahnya lalu memeluknya. Kemudian kakek dan neneknya.


"Bella maafkan kakek nak... gara gara kakek kau menderita" ucap kakek pelan sambil memeluk Bella.


"kakek bicara apa, Bella tidak menderita malah Bella bahagia bisa melihat keluarga kita berkumpul lagi" jawab Bella membalas pelukan kakek.


Setelah itu Bella pun masuk kedalam kamarnya dia mendudukkan dirinya di ranjang menatap sekeliling kamarnya. Entah mengapa perasaannya menjadi sedih.


"kenapa rumah dan kamarku begitu asing" gumam Bella dengan wajah sedih.


"apa dia mengingatku atau sudah melupakanku" ucapnya menatap langit langit. "apa kita akan bertemu lagi?"


Tak terasa buliran air matanya mengalir. kilatan kebersamaannya dengan Edward kembali terlintas, bahkan senyum Edward dan suaranya seperti berada di depan matanya.


"aku sangat merindukannya" ucapnya menangis tergugu. Karena lelah akhirnya Bella pun tertidur.


**********


Edward membanting kasar ponselnya entah sudah berapa kali dia mencoba menelpon Bella namun nomor Bella tetap tidak aktif.

__ADS_1


Dia pun berjalan meraih botol wiski di atas meja. Keadaannya menjadi kacau Dia yang selalu rapi dan tampil sempurna kini berantakan. Rambutnya yang tersisir rapi kini sudah acak acakan.


Sesaat aron kemudian masuk ke dalam ruang kerja Edward.


"Tuan anda sudah terlalu banyak minum" ucap Aron khawatir dengan kondisi Edward.


"apa kau sudah tau siapa yang ditemui Bella di Cafe itu?" Tanya Edward.


"sedikit lagi tuan aku menyuruh anak buahku memeriksa cctv cafe, mereka sedang disana" jawab Aron.


"ck... kenapa kau jadi lamban begini Aron? begitu saja lama sekali" umpat Edwar sambil meminum kembali minumannya.


Sementara itu di Mansion utama Ibu Marissa tengah menangisi kepergian Bella yang di laporkan pak jo pada ayah Kenzo.


"lakukan sesuatu! bawa menantuku kembali" ucapnya di sela sela tangisnya. Rasanya baru sesaat dia merasakan kebahagian dari menantunya namun semuanya hancur begitu saja.


"putramu telah membohongi kita bu, dia benar benar ahli bersandiwara. Untuk pertama kali dia benar benar membuatku kecewa" ucap Kenzo dengan nada kecewa.


Dia bersandar pada meja kerjanya memejamkan mata sambil memijit pelipisnya. Setelah mendengar Bella pergi secara tiba tiba ayah Kenzo dengan cepat menyelidikinya.


Dia benar benar kecewa mengetahui semua ini hanya sandiwara apalagi tertulis pernikahan kontrak.


"tapi setidaknya lakukan sesuatu, aku sudah menyayangi Bella seperti putriku sendiri, dari mana lagi Edward akan dapat gadis sebaik Bella" Ibu Marisa sangat sedih dengan hal itu.


"Biarkan dia menyelesaikan permainannya sendiri, aku sudah memperingatkannya untuk tidak bermain main tentang pernikahan. Biarkan dia menanggung konsekuensinya" tegas Ayah Kenzo.


"tapi ayah ini terlalu rumit bantulah putramu, setidaknya kita bisa menemui Bella dan keluarganya ya kan?" ucap ibu Marissa dia sudah tidak memikirkan statusnya lagi sebagai nyonya besar antonio.

__ADS_1


"jangan bertindak bodoh bu! kita lihat saja sejauh mana usaha Edward" Ayah Kenzo kembali menegaskan.


Ibu Marisa hanya bisa diam tak ingin membuat suaminya tambah kecewa lagi. Dia harus memikirkan cara lain untuk menyatukan kembali Edward dan Bella.


__ADS_2