Cinta Penebus Hutang

Cinta Penebus Hutang
menyesal


__ADS_3

Edward berjalan mendekati Brangkar Bella. Dia menatap wajah pucat Bella yang masih tertidur, pelan pelan dia meraih tangan Bella, menggenggam jemari Bella.


"maafkan aku Bella, aku telah membuatmu jadi begini" ucapnya seraya menggenggam jemari Bella.


"aku tidak tau rasa apa yang ada di dalam hatiku, membayangkan kau bersama orang lain membuatku tersulut emosi," tambah Edward lirih, dia membelai wajah Bella menyelipkan anak rambut yang menutupi wajahnya.


Tak lama kemudian Aron pun masuk ke dalam. Dia menghampiri Edward yang sedang menemani Bella.


"Tuan muda saya ingin bicara sebentar" ucap Aron kepada Edward.


Edward pun beranjak menuju sofa agar tak mengganggu istirahat Bella. Aron mengikuti dari belakang.


"ada apa?" tanya Edward kepada Aron.


"mengenai kejadian kemarin di apartemen Rendy" jawab Aron. "saya ingin menunjukkan rekaman cctv dari apartemen Rendy" tambahnya.


"kau ingin aku melihat kemesraan mereka begitu" ucap Edward berdecak kesal.


"tidak tuan mungkin ini tidak seperti yang Anda bayangkan, menurut mang Kardi nyonya tidak sendirian ke sana, dia bersama dengan beberapa temannya" jelas Aron.


Edward menatap Aron seksama "apa kau yakin dengan itu?" tanya Edward tegas.


"sangat yakin tuan" jawab Aron.


"baiklah...!" ucap Edward meraih tab yang disodorkan oleh Aron. Dia pun membuka tab lalu melihat rekaman cctv itu.


Edward menatap serius tab itu, mimik wajahnya berubah ketika melihatnya. Dia meletakkan tab itu di atas meja, tangannya memegang bibirnya, raut penyesalan tergurat di wajahnya. Dia menghembuskan nafas beratnya.


"kenapa aku bersikap Sekasar itu kemari. Aku bahkan tidak mendengarkan penjelasannya, ya Tuhan bagaimana aku harus menghadapinya saat dia tersadar nanti" Batin Edward dia sangat menyesalkan perbuatannya. Namun semua sudah terlanjur terjadi.


Edward terus memandangi Bella, sejak tadi siang dia tidak meninggalkan ruangan Bella. Kini jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat. Namun Bella masih terlelap.


"tuan muda saya membawakan makan malam untuk anda" ucap Aron yang baru saja masuk.


"hmm..." hanya di jawab deheman oleh Edward.


"makanlah selagi hangat tuan" bujuk Aron karena sedari tadi siang Edward tidak mau makan.


"letakkan saja disitu aku akan memakannya sebentar lagi" jawab Edward.

__ADS_1


"baiklah kuharap anda benar mau makan" ucap Aron dengan wajah khawatir.


"kau terlalu berlebihan, khawatirkan saja dirimu sendiri, pulanglah istirahat" jawab Edward tegas.


"apa tuan akan tidur di sini?" tanya Aron


"aku akan menemani Bella di sini"jawab Edward.


"kalau begitu saya juga akan tinggal bersama tuan" ucap Aron.


"tidak usah, pulanglah! kau harus memimpin rapat besok pagi" perintah Edward.


"tapi tuan kalau Anda perlu apa apa bagaimana?" tanya Aron khawatir.


"ada banyak penjaga di depan" Jawab Edward.


"baiklah, saya akan pulang dulu tapi kalau Anda butuhkan sesuatu hubungi saya" ucap Aron.


"ya pergilah" perintah Edward.


Aron pun keluar dari ruangan Bella. Dia berjalan keluar menuju mobilnya. sesampainya di mobil dia mengeluarkan ponselnya. Menghubungi seseorang, terdengar nada panggilan tunggu di seberang sana.


"apa anda tidak salah nomor asisten Aron?" terdengar suara wanita di seberang telepon.


"tidak, mataku masih jelas mengingat nomor anda nona Selena" jawab Aron dengan nada sinis.


"apa anda tidak tau waktu? ini sudah malam" ucap Selena kesal.


"saya rasa wanita seperti anda sudah terbiasa keluar malam jadi dimana salahnya" ucap Aron dengan nada sinis.


"kau menyindirku?" ucap Helena tambah kesal.


"jika anda merasa tersindir" jawab Aron dia pun mematikan sambungan telponnya secara sepihak. Lalu melajukan mobilnya menuju cafe.


setelah beberapa menit menunggu akhirnya Selena pun datang. Dia melihat Aron tengah duduk di sudut ruangan menikmati secangkir kopi


"apa kabar asisten Aron," sapa Selena mendudukkan dirinya di hadapan Aron.


"baik" ucap Aron singkat sambil menyesap kopinya.

__ADS_1


"apa ada yang penting?" tanya Selena.


"saya rasa nona Selena tau maksud saya" ucap Aron.


Mimik wajah Selena berubah mencerna perkataan Aron. Suasana hening sejenak Selena menatap arah lain.


"CK... asisten Aron dulu kau menjagaku dengan ketat, tapi sekarang kau sepertinya berubah haluan" sindir Selena dengan wajah sendu.


"saya hanya menjaga keluarga Antonio, lebih dari itu bukan tanggung jawab saya" ucap Aron tegas.


"kau sesetia itu pada tuanmu?" kata Selena.


"aku bukan orang yang bermuka dua, aku akan memastikan keselamatan dan kenyamanan tuan muda dari orang orang licik dan tidak tau malu seperti anda nona Selena" ucap Aron dengan nada sarkas.


"kau mengancamku" tanya Selena menatap tajam kearah Aron.


"itu peringatan untukmu nona Selena, jika kau masih ingin hidup dengan damai" ancam Aron tegas.


"kau berani mengancamku" Selena menjadi emosi.


"saya bisa melakukan lebih dari sekedar ancaman jika anda melampaui batasan anda" Aron meninggikan suaranya.


"camkan itu baik baik" tegas Aron kemudian beranjak meninggalkan Selena. Selena menatap kepergian Aron.


"arrggghhhh....!!! dasar brengsek....!!! lihat saja apa yang bisa kulakukan setelah ini" Selena menyapu meja dengan frustasi. "kemari bole gagal tapi lain kali aku tidak akan gagal untuk kedua kalinya"


Sementara itu Aron pulang menuju apartemennya. Dia benar emosi menghadapi Selena. Sebenarnya dia mengetahui kalau kejadian kemarin adalah ulah Selena. Walaupun sempat gagal tapi tetap saja menimbulkan kekacauan seperti itu.


Akan tetapi melihat kondisi Bella dia tidak melaporkannya kepada Edward. Aron hanya ingin Edward fokus menjaga Bella. Hitung hitung sebagai hukuman atas kelakuan kasarnya kemarin malam.


Setelah beberapa menit berkendara Aron pun sampai di gedung apartemennya. dia berjalan masuk kedalam lift menekan tombol lantai teratas tempat apartemen nya.


Setelah sampai di depan pintu apartemennya dia pun menekan kode smart lock dan pintu pun terbuka. Dia berjalan masuk ke dalam menuju kamarnya.


Aron menghempaskan tubuhnya di ranjang king sizenya. Dia menatap langit langit kamarnya.


"sepertinya tuan muda sudah jatuh cinta pada nyonya Bella, dia terlihat sangat khawatir dengan keadaan Bella" gumamnya pada diri sendiri.


"haa... apa masih ada ya di dunia ini yang seperti nyonya Bella. Kuharap tuhan menyisakan satu untukku" ucapnya lirih sambil tersenyum simpul memikirkannya.

__ADS_1


Entah kenapa sejak melihat Bella jiwa kesendiriannya yang dulu melekat pada dirinya seperti memudar. Melihat tuan mudanya memiliki pasangan membuat hatinya menjadi tahu kalau berkeluarga ternyata membahagiakan.


__ADS_2