
Bella menatap kepergian Edward akhirnya dia bisa pulang ke rumah bertemu ibu dan neneknya. Dia terlihat bersemangat sekali.
"kak Arya ayo pulang aku sangat merindukan ibu dan nenek" ucap Bella sambil menarik tangan Arya.
kakek hanya menggeleng kepala melihat ulah Bella "kita semua akan pulang makan siang bersama" ucap kakek.
sepanjang perjalanan Bella terus berbicara saking senangnya.
Tak berapa lama mereka pun sampai di rumah. Terlihat ibu dan neneknya sudah menunggu di teras. Bellapun segera turun dan Berlari memeluk ibunya.
"ibu aku merindukanmu...hiks...hiks..." Bella menangis tersedu sedu. "nenek..." kini Bella memeluk neneknya. Mereka semua menangis haru.
"ayo masuk sayang" ibu Shinta mengajak Bella masuk. Mereka lalu duduk mengobrol di ruang tengah.
"cucuku semakin cantik" ucap Nenek mengelus lembut punggung Bella.
"ah Nenek bisa saja" jawab Bella tersenyum.
"ini ibu bawakan cake kesukaanmu" kata Ibu Shinta sambil meletakkan piring berisi cake
"wah... ibu yang buat pasti enak sekali" ucap Bella senang sekali. Mereka pun menikmati cake sambil mengobrol melepas rindu.
Tak lama turunlah Bibi Susi, Risya dan Rina. Mereka terkejut melihat Bella datang.
"wah wah ada nyonya Zhenghong rupanya! kukira dia sudah melupakan kita" ucap bibi Susi dengan sinis.
"bibi apa kabar?" jawab Bella tersenyum manis.
"wah kakak semakin cantik saja ya?" ucap Rina dengan polos. Sedangkan Risya sedari tadi sudah sangat iri melihat Bella memang lain dari biasanya.
Bagaimana tidak semua kebutuhannya tercukupi. Satu set skincare termahal disediakan untuknya. Bella yang punya kulit bagus makin tambah cantik.
"ibu lihat pakaiannya gaun itu edisi terbatas yang kulihat kemari." bisik Risya pada ibunya.
"benarkah? tasnya juga bagus sekali dan lihat perhiasannya sepertinya berlian asli" jawab bibi Susi berbisik.
"kak Bella kakak pakai apa sampai putih begini glowing lagi" tanya Rina penasaran.
"kakak juga tidak tau memang sudah tersedia disitu" jawab Bella jujur.
__ADS_1
"tas dan perhiasan kamu apa ini asli? berapa harganya?" tanya bibi Susi sambil menatap sinis.
"maaf bibi aku juga tidak tau, semuanya sudah tersedia di situ bukan aku yang membeli." jawab Bella dengan jujur.
"Enak sekali hidupmu tinggal pakai tanpa harus susah susah bekerja." Ucap bibi Susi semakin iri apa lagi Risya dia benar iri melihat Bella dari ujung kaki sampai ujung rambut semuanya terlihat mahal dan mewah.
"sudahlah Susi apa yang dilalui Bella demi kita itu tidak mudah" tegur Nenek tak suka dengan kata kata bi Susi.
"alla bu kita siang malam mengkhawatirkannya sedangkan dia enak enakan bergelimang harta" protes bibi Susi.
"iya tuh lihat saja pakaian dan perhiasannya semuanya barang branded ternama" tambah Risya membela ibunya.
"kalian ya selalu saja berdebat. Sebaiknya siapkan makanan ini sudah waktunya makan siang" Kakek menegur dengan suara lantang.
Mereka pun pergi ke dapur menyiapkan makanan. Bella pun ikut membantu.
"sayang kamu duduk saja biar ibu yang siapkan" ujar ibu Shinta kepada Bella.
"ibu biarkan aku membantu ibu" jawab Bella bersikeras.
"apa disana kau juga memasak" tanya Ibu Shinta.
"apa tuan muda itu baik padamu" tanya nenek pada Bella.
"dia sangat baik nenek tidak seburuk yang kita bayangkan" jawab Bella berbohong kenyataanya Edward seperti raja iblis tak berperasaan.
"ah syukurlah kami semua mengkhawatirkanmu" ujar nenek tersenyum lembut.
Setelah selesai mereka pun segera makan siang bersama. Terdengar canda tawa mereka memenuhi ruangan terkecuali Risya dan bibi Susi yang dari tadi termakan iri dengki.
"Bella bagaimana kuliahmu ayah dengar kamu melanjutkan kuliah?" tanyah ayah Hendra.
"iya ayah kuliahku lancar hanya masuk saat ada yang penting selebihnya kukerjakan di rumah saja" jawab Bella sambil menikmati cemilan kesukaannya.
"baguslah ayah senang mendengarnya" ucap ayah tersenyum senang. Arya hanya diam memperhatikan Bella.
"sepertinya Bella baik baik saja sepertinya tidak terjadi apa apa. Baguslah" pikir Edward dalam hati.
Tidak terasa satu hari telah berlalu dengan cepat kini Bella tengah menunggu cake buatannya matang rencananya dia ingin membawa cakenya pulang. Dia tadi membuatnya dengan ibunya.
__ADS_1
Kini telah berganti malam jam sudah menunjukkan pukul 8 lewat bahkan mereka sudah makan malam tapi Edward belum datang menjemput. Bella menjadi khawatir sendiri kalau kalau Edward tidak datang.
"kenapa dia lama sekali apa dia tidak akan menjemputku ya?" guman Bella yang sedang berada di muka jendela kamarnya yang dulu sambil terus memperhatikan jalan.
"tapi kan seharusnya aku senang kalau dia tidak menjemputku aku bisa menginap di sini tapi tetap saja rasanya aneh sekali" Bella membatin dia kemudian beranjak menuju ranjangnya merebahkan tubuhnya.
Tak lama terdengar suara mobil datang. Bella langsung berlari turun, dia yakin itu Edward yang datang dan benar saja terlihat Edward turun dengan gagahnya sambil berjalan memasuki rumah.
Bella menjemputnya di depan rumah dengan senyum manis dibalas senyum tipis oleh Edward.
"ayo masuk dulu!" ujar Bella.
"baiklah, hanya sebentar aku lelah" jawab Edward dia sebenarnya malas hanya tak ingin Bella kecewa.
Mereka pun masuk kedalam rumah. Terlihat semua keluarga tengah duduk di ruang tengah. Tak ketinggalan Bibi Susi dan Risya yang ingin mencuri pandang tuan muda. Kapan lagi bisa bertemu langsung dengan tuan muda Edward menurut mereka.
"Mari tuan muda silahkan duduk" ujar kakek mempersilahkan duduk. "Tuan Aron mari silahkan"
Edward kemudian duduk di samping Bella. Dan Aron di kursi yang bersebelahan. Edward mengedarkan pandangannya baru pertama kalinya dia menginjakkan kaki di rumah mertuanya itu. Lalu dia pikir tidak akan pergi ke rumah ini tapi entah kenapa dia sampai di sini.
Terlihat pelayan membawa teh dan cake. Bella dengan sigap melayani suaminya. Dia meletakkan secangkir teh dan mengambil sepotong cake.
"Silahkan tuan dinikmati" ucap ibu Shinta kepada Edward dan Aron.
"Terima kasih" jawab Aron dengan wajah datar.
"ayo dimakan cakenya! aku dan ibu membuatnya tadi" kata Bella kepada Edward masih dengan senyum manisnya.
"oh ya benarkah" jawab Edward kemudian mengambil piring cake yang di sodorkan Bella.
"Bagaimana rasanya?" tanya Bella antusias.
"ini enak, enak sekali" ucap Edward sehabis mencicipi masih dengan aura dinginnya.
"aku dan ibu membuat banyak aku akan membawanya ke Mansion" sahut Bella bersemangat.
"baiklah ayo pulang ini hampir larut" jawab Edward sambil melihat arlojinya.
"aku akan mengambil barang barangku" ucap Bella sambil berlari kecil ke belakang.
__ADS_1
Ada sedikit senang diwajah keluarga Bella. Mereka sangat senang melihat wajah Bella terlihat berseri seri. Kecuali Risya ia sangat iri melihat Bella bisa sedekat itu dengan Edward. Dia selalu berandai andai andaikan dia yang jadi istri Edward.