Cinta Penebus Hutang

Cinta Penebus Hutang
tersisa dua puluh hari


__ADS_3

Edward terpaku menatap layar laptopnya, setumpuk map di depannya menandakan banyaknya pekerjaan hari ini setelah kemarin sore dan tadi pagi dia tidak masuk.


Sebenarnya dia berencana masuk besok saja tapi mendadak ada meeting penting yang mengharuskan dirinya langsung yang memimpin. Setidaknya ada ibu Marissa yang menemani Bella di rumah.


Tak lama kemudian Sekertaris Kevin masuk membawa berkas lagi.


"Presdir saya membawa berkas untuk ditanda tangani" ucapnya sambil meletakkan berkas itu di atas meja.


"hmm..." hanya di jawab deheman oleh Edward matanya masih fokus ke laptopnya.


"saya juga akan mengambil berkas tadi yang sudah di tanda tangani" ucap Kevin sambil mengambil berkas lain yang sudah di tanda tangani.


"hemm..."lagi lagi dijawab deheman oleh Edward.


Kevin pun segera keluar dari ruangan kebesaran Edward.


"panggilkan Aron kemari" perintah Edward.


"Asisten Aron belum selesai rapat presdir" jawab Kevin.


"setelah dia selesai rapat" tambah Edward.


"baik Presdir" ucap Kevin sambil membungkuk memberi hormat lalu keluar.


Setelah menyelesaikan rapat Aron pun masuk ke ruangan Edward.


"tuan muda ini hasil rekapan rapat tadi, silahkan di periksa kalau sudah sesuai dengan keinginan Anda, saya akan memberi perintah untuk segera di laksanakan" ucap Aron.


Edward pun meraih berkas itu membaca halaman demi halaman. "bagus, lakukan secepatnya!" ucapnya sambil memberi stempel perusahaan dan membubuhkan tanda tangannya.


"baik tuan" jawab Aron meraih berkas itu lalu berjalan keluar. Namun langkahnya terhenti setelah dia mengingat sesuatu.


"oh ya tuan muda..." ucap Aron kembali berbalik menghadap Edward.


Edward berhenti mengetik lalu menatap Aron penasaran.


"kemarin sebelum pergi saya sempat bercerita dengan pak Arya" ucap Aron.


"Arya? apa yang dia katakan?" tanya Edward penasaran.

__ADS_1


"Pak Arya mengingatkan kalau masa kontrak anda dengan nyonya Bella kurang dari tiga Minggu lagi" jelas Aron dengan hati hati. Dia menatap Edward menelisik bagaimana reaksi Edward.


Benar saja Edward seperti mematung tak tahu harus menjawab apa. Dia menyandarkan kepalanya di kursi sambil menerawang jauh entah apa yang dipikirkan olehnya.


"hanya itu yang mau saya sampaikan tuan" Aron pun berjalan keluar dari ruangan.


"kurang dari tiga Minggu, ya tersisa dua puluh hari lagi," gumamnya pada diri sendiri. "kenapa cepat sekali enam bulan itu"


Ada perasaan sedih dalam hatinya, Seperti akan kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya.


"apa yang harus kulakukan setelah itu, setelah dia pergi aku harus apa" Edward mengucapkan kalimat bodoh berbolak balik. Rasanya seperti akan kehilangan separuh jiwanya. Dia mengerang frustasi.


*********


Malam harinya Edward pulang sedikit larut karena terlalu banyak pekerjaan. Dia berjalan memasuki mansion di sambut oleh ibunya.


"kau baru pulang?" tanya ibu Marissa yang baru saja dari dapur mengambil air minum.


"iya ibu aku banyak pekerjaan" jawab Edward mendudukkan dirinya di ruang tengah.


"kau ini istrimu baru pulang dari rumah sakit kau malah sibuk tak memperhatikannya" ucap ibu Marissa sedikit kesal.


"pekerjaanmu itu tidak ada habisnya kalau kau turuti, kapan kau bisa punya anak kalau terus sesibuk ini" umpat ibu Marissa benar benar kesal.


"ibu..." sanggah Edward


"ingat umurmu berapa! ibu dan ayah waktu seumur kamu kamu sudah ada" ibu Marissa menasehati anaknya.


Edward hanya terdiam tak tau harus bilang apa. "bagaimana kalau ibu dan ayah tahu kalau semua ini hanya kebohongan saja, kami bahkan akan segera berpisah" batin Edward.


"kau malah melamun" umpat ibu Marissa memukul Bahu Edward.


"aku lelah ibu" ucap Edward.


"ya sudah sana ke kamar temui istrimu mungkin dia sudah tidur" kata ibu Marissa beranjak juga menuju kamarnya.


Edward pun berjalan menuju tangga menyusurinya menuju ke kamarnya. Sesampainya di kamar dia membuka pelan pintu kamar lalu berjalan masuk.


"kau belum tidur?" ucapnya pada Bella yang sedang berbaring di ranjang sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


"belum..." jawab Bella singkat. Dia pun bangun dan turun dari ranjang.


"kau mau kemana?" tanya Edward sambil membuka jasnya.


"aku akan menyiapkan air mandi untukmu" jawab Bella.


"tidak usah kau sedang sakit, aku bisa sendiri" ucap Edward datar.


Bella pun kembali duduk di tepi ranjang. Edward kemudian masuk kamar mandi membersihkan tubuhnya.


Setelah beberapa saat dia pun keluar dan berjalan menuju ruang ganti untuk berpakaiann. Dia melihat Bella sudah berbaring memejamkan matanya.


setelah berpakaian dia pun naik ke ranjang lalu membaringkan tubuhnya di samping Bella. Suasana hening tercipta, Edward menoleh kearah Bella yang memunggunginya.


"apa kau sudah tidur?" ucap Edward. Dia tau kalau sebenarnya Bella belum tidur hanya pura pura tidur untuk menghindar dari dirinya.


Sesaat tidak ada Jawaban dari Bella, Dia pun merapatkan tubuhnya pada Bella. Memeluk Bella dari belakang merasakan aroma tubuh Bella. Tangannya membelai rambut panjang Bella.


Bella dari tadi hanya terdiam hatinya terasa terbagi dua, yang satu merasakan sakit teramat dalam akan tetapi yang satu merindukan sentuhan dari suaminya itu.


Kenapa ada perasaan seperti ini batinnya. Tak terasa air mata yang sedari tadi dia bendung lolos tak tertahankan. Dia berusaha menahan suara tangisnya namun tetap saja tak bisa.


Edward mendengar isakan tangis Bella pun memeluk erat Bella dan berusaha membalikkan tubuh Bella menghadap dirinya.


"Bella maafkan aku?" ucap Edward kata itu berhasil lolos setelah bertaruh melawan egonya. Dia menghujami Bella dengan kecupan sambil terus minta maaf.


Bella tetap tidak menjawab hanya suara sesegukannya yan terdengar. "tapi kau sudah menyakitiku" batinnya.


Edward tidak tau seorang wanita akan selalu mengingat rasa sakit yang ditorehkan pasangannya walaupun sudah termaafkan. Akan tetap saja selalu terbayang di dalam hati dan pikiran.


Edward pun mencumbui seluruh inci tubuh Bella. Mencium bibir indah Bella dan seluruh wajah Bella. Cumbuannya kemudian turun ke leher jenjang Bella mengecupnya dengan lembut.


Cumbuan yang mulanya dingin kini memanas. Entah sejak kapan pakaian mereka sudah terlepas. Edward menjelajahi tubuh Bella, Bella hanya menurut melayani Edward seperti patung tak bereaksi.


Dalam pikiran Edward dia pikir bukankah orang mengatakan orang berumah tangga biasa menyelesaikan masalahnya diatas ranjang.


Namun dihati Bella malah menambah goresan luka. Bagaimana lelaki itu tidak memperhatikan kondisinya yang masih lemah akibat perlakuannya. Dengan egoisnya dia menikmati kembali tubuhnya.


Tubuh yang kemarin seakan ditatap menjijikkan olehnya sehingga dia telanjangi. Dia guyur dengan air sedingin es tanpa sehelai benang pun seakakan dia berharap kotoran hina itu akan hilang dari tubuhnya.

__ADS_1


Lalu kenapa dengan buasnya dia menikmatinya lagi tanpa rasa bersalah. Satu lagi yang meyakinkan Bella. Dirinya memang tidak pantas untuk Edward. Selamanya dia akan menjadi pemuas ***** Edward. Sepertinya kalimat itu akan terus berdampingan dengannya.


__ADS_2