Cinta Penebus Hutang

Cinta Penebus Hutang
Panggilan masuk kampus


__ADS_3

Setelah selesai menelpon keluarganya Bella berjalan menuju Balkon menghirup udara segar. Hatinya sedikit lega setelah mendengar keluarganya baik baik saja.


Setelah cukup lama di balkon Bella pun masuk kembali ke kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya menatap langit langit.


"Jangan biarkan dia menyentuhmu" kata kata Arya seakan terngiang ngiang di telinga Bella. Bak sebuah peringatan untuknya.


"menyentuh... menyentuh seperti apa? apa ciuman juga berarti menyentuh seperti kak Arya bilang. Tapi bagaimana aku menolaknya, aku bahkan terlena dan menikmatinya" Batin Bella. Dia mengguling gulingkan tubuh di kasur sambil menghentakkan kaki dan tangannya.


"oh ya tuhanku yang maha pengasih... jagalah aku dari iblis berwajah tampan itu. ku mohon! aaa..." ucapnya memohon doa konyolnya sambil menghatukkan kepalanya dikasur.


Setelah itu Bella mencoba memejamkan matanya mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Tak lama dia pun terlelap.


*****


Di kantor Edward tengah disibukkan dengan berkas berkas pentingnya.


"apa kau sudah menyelidiki si Rendi itu?" tanya Edward kepada Aron.


"sudah tuan ini filenya" jawab Aron memberikan sebuah map berisi biodata tentang Rendi. "Dia anak pertama dari keluarga Pratama."


"Pratama...?" tanya Edward mengernyitkan kening.


"Keluarga pratama yang mengelola hotel Sakura. Sepertinya mereka sudah saling kenal sejak SMA"


"apa mereka pacaran?" tanya Edward penasaran.


"saya kurang tau pasti tuan sepertinya tidak tapi mereka kerap bersama apalagi mereka satu kampus.


"awasi terus gerak geriknya" peritah Edward.


"baik tuan" jawab Aron.


*******


Setelah beberapa jam terlelap Bellapun terbangun dari tidurnya. Dia beranjak menuju kamar mandi setelah itu dia meraih ponselnya dan seketika terkejut.


"Sena dan Rara, mereka menelpon sudah beberapa kali ada apa ya? sebaiknya kutelpon ulang" Kata Bella sambil memencet tombol memanggil dari poselnya.


"halo sena...!" kata Bella setelah mendengar suara sena.


"halo Bella ya ampun kami menelponmu berapa kali tapi tak kau angkat" ucap Sena kesal.


"sorrya sen aku ketiduran tak mendengar panggilanmu" jawab Bella.


"Ayo video Call kita sambungkan dengan Rara." usul Sena.


"ok" Bella setuju kemudian mengalihkan je Video call. Tak lama munculla wajah ke dua sahabatnya itu.


"halo Bella. kau lagi dimana ini?" tanya Rara melihat pemandangan dibelakang Bella sangat mewah.


"aku lagi di kamar" jawab Bella cuek.

__ADS_1


"mau dong lihat kamar kamu"sahut Sena penasaran. Bella pun mrngalih kan kamera ke penjuru kamar.


"waoww.... Seperti hotel mewah" ucap Rara berdecak kagum.


"Eh Bel, apa kalian tidur sekamar?" tanya Sena menggoda.


"iya lah memang kenapa?" jawab Bella polos.


"aa...so sweat! Apa kalian melakukannya?" tanya Rara.


"melakukan apa? dasar kalian otak mesum, eh jado lupa kenapa tadi menelponku?" tanya Bella kembali ke inti.


"oh ya jadi lupa. Bella dosen memanggilmu masuk kampus kalau kau tidak datang maka kuliahmu dianggap selesai. Soalnya sudah dua bulan lebih kau tidak hadir" jelas Sena.


"iya Bella padahal kurang beberapa bulan loh Bel, sebaiknya kamu pikirin baik baik deh!" tambah Rara.


"benarkah aku harus gimana dong! kau kan tau aku ini terpenjara" ucap Bella menjadi panik.


"ya coba cobalah untuk bujuk suami kamu itu siapa tau di izinkan" ide Rara.


"iya Bella kan sayang kalau gagal di semester akhir begini" ucap Sena.


"ya deh nanti aku coba" ucap Bella pasrah.


"lagian kita rindu banget mau ketemu kamu Bella udah lama banget tau" ucap Rara.


"ya aku juga rindu sama kalian. doakan aku mudah mudahan ada jalan keluar" kata Bella.


"ya sudah dulu aku tutup ya bye!" Bella mengakhiri sambungan.


"bye...!" sahut Rara dan Sena bersamaan.


Usai menelpon Bella terpaku mengingat nasibnya. Rasanya sangat sedih jika kuliahnya harus dihentikan di detik detik terakhir.


"bagaimana ini? aku tidak rela kuliahku hancur begitu saja sebaiknya aku bicarakan dengan Edward." pikir Bella sambil menghela nafas kasar. Tiba tiba ponselnya kembali berbunyi.


"kak Rendi" ucap Bella saat melihat panggilan video call dari ponselnya. kemudian dia pun mengangkatnya.


"halo kak rendi" ucap Bella saat melihat wajah tampan Rendi.


"hai Bella kamu tambah cantik saja" jawab Rendi terpesona melihat Bella.


"ah kak Rendi bisa saja" Ucap Bella tersipu.


"beneran... aku semakin rindu padamu" kata Rendi merayu.


"aku juga rindu sama kak Rendi" ucap Bella.


"kalau rindu ketemu dong. Sudah lama sekali Bella kamu sebenarnya dimana? aku kerumah kamu, kamu pun tidak ada di sana" tanya Rendi.


"ah hanya sedang berlibur kak!" jawab Bella berbohong.

__ADS_1


"cepat lah pulang kuliahmu di ujung tanduk!" kata Rendi.


"iya Sena dan Rara tadi memberi tahuku" jawab Bella.


"sebaiknya kamu masuk kurang beberapa bulan kau wisuda kan sayang!" terang Rendi.


"ya secepatnya aku masuk" jawab Bella.


Mereka pun bercerita satu sama lain tanpa disadari Bella sudah malam saking asyiknya. Bahkan Bella tidak menyadari kalau Edward sudah pulang dan sudah ada di belakangnya.


"bicara dengan siapa kamu?" kata Edward dengan wajah garang.


Bella terperanjat langsung mematikan ponselnya. "bu...bukan siapa siapa hanya teman kampusku" jawab Bella merasa takut melihat wajah Edward memerah.


"teman hanya teman ha? siapa temanmu itu?" tanya Edward menguji Bella padahal dia sudah tau semuanya.


"te...temanku Se...sena dan Rara." Bella berbohong membuat Edward semakin marah.


"kau ternyata pandai berbohong ya" Edward memegang dagu Bella dan menekannya sangat kuat. Bella sudah mulai meneteskan air mata menahan sakit dan ketakutan.


"jawab...!" teriak Edward dengan nada tinggi membuat Bella memejamkan mata kaget.


Bella menggeleng tak sanggup menjawab dia menangis sesegukan .


"kau tidak bisa menjawab ha? apa dia kekasihmu?" tanya Edward sambil menepis kasar dagu Bella.


"bu...bukan bukan siapa siapa di..dia hanya temanku...hiks...hiks..." jawab Bella disela tangisnya.


"oh ya lalu kenapa tadi kau berbohong tidak menyebut namanya?" Edward menatap Bella intens.


"ma...maaf" Jawab Bella meraih tangan Edward tapi langsung di tepis oleh Edward.


"jangan jangan aku bukan yang pertama kali menebusmu ha? apa ada orang lain yang sudah menyentuhmu sehingga kau begitu merindukannya...!!!" Edward memekik dengan suara tinggi.


Bagai di sambar petir hati Bella terasa sakit mendengar tuduhan Edward. "apa aku serendah itu dimatamu tuan muda?" tanya Bella menatap Edward.


Edward tidak menjawab dia semakin marah. Kata kata manis dan canda tawa Bella dan Rendi di telpon seakan terngiang ngiang di telingannya. Dia tidak bisa lagi menahannya di belaralih menyapu meja menghamburkan barang barang melempar ke segala arah seperti kesetanan.


Bella sangat takut melihat wajah Edward yang memerah rahangnya mengeras dengan tangan sudah meraih apa pun dan membatingnya.


"stop... berhenti...!!!" teriak Bella namun tak dihiraukan oleh Edward.


"hentikan...hentikan...kau melukai dirimu" Bella terisak sambil pelan pelan dia mencoba memeluk Edward dengan Erat.


"hentikan... hentikan...dia hanya temanku hanya teman bukan siapa siapa" ucap Bella memeluk erat Edward berharap kemarahannya mereda.


Edward yang mendapat pelukan Bella mulai tersadar dia menatap Bella yang masih memeluknya. Perlahan dia membalas pelukan Bella mengusap lembut rambut Bella dan menciuminya. Bella menangis tersedu sedu.


"maafkan aku! maaf aku tidak bisa menahan amarahku" ucap Edward sambil mencium puncak kepala Bella yang masih terisak.


"jangan membuatku marah Bella" ucap Edward lagi sambil melepaskan pelukan Bella lalu berlalu keluar kamar. Bella yang melihat Edward keluar kamar dengan amarah hanya bisa menatap dan terduduk di lantai sambil menangis tersedu sedu.

__ADS_1


__ADS_2