
Edward terbangun dari tidurnya dengan mata memerah. Terlihat jelas kantung matanya sedikit menghitam karena kurang tidur.
Tadi malam dia sudah fokus mengerjakan pekerjaannya dia berusaha menambah waktu kerjanya agar pulang lebih cepat.
Jika perhitungannya benar kurang dari seminggu pekerjaannya akan selesai. Setelah itu dia akan pulang ke Indonesia.
Edward semalam telah memantapkan hatinya. Setelah berjauhan dengan Bella ia menyadari kalau setiap dia pergi dia selalu merindukan Bella.
Ketika dia melihat Bella bersama Rendy, dia tahu kalau itu perasaan cemburu hanya saja ego dan gengsinya mendominasi. Sehingga dia tidak mengakuinya.
Dia baru menyadari dia telah jatuh cinta pada sosok lembut, paras ayu istrinya Bella. Edward memantapkan hati jika telah tiba di Mansion dia akan mengutarakan isi hatinya pada Bella.
Edward menatap pantulan dirinya di cermin. Senyuman merekah di bibirnya mengingat wajah Bella.
Drrttt... drrrtt....
Suara dering ponsel membuyarkan lamunannya. Dia pun bergegas meraih ponselnya lalu menatap nama di layar ponselnya.
"pak jo" gumamnya lalu mengangkat teleponnya. "halo pak Jo ada apa?"
"maaf mengganggu tuan muda tapi pak Arya kakaknya nyonya muda ada di sini" jawab pak Jo.
"lalu?" tanya Edward lagi.
"hmmm...anu tuan Pak Arya ingin menjemput nyonya pulang ke rumah keluarganya" sambung Pak Jo dengan terbata bata.
"Bella ingin menginap di sana katanya" lirih Edward pelan.
"tapi tuan...katanya..." Pak Jo tidak sanggup melanjutkan perkataannya.
Dia memandang Arya yang duduk di sofa.
"baiklah berikan pada Arya aku ingin bicara" titah Edward.
"baik tuan" jawab pak Jo segera menghampiri Arya.
"pak Arya tuan muda ingin berbicara dengan Anda" ucap Pak Jo kepada Arya.
Arya pun segera meraih ponselnya lalu menjawab teleponnya. "halo..." ucapnya.
"jadi apa maksud kedatanganmu?" tanya Edward langsung.
__ADS_1
"saya ingin menjemput Bella karena kemarin dia menelpon menyuruhku menjemputnya" jawab Arya.
"Baiklah kalau begitu" ucap Edward.
"Sebelumnya terima kasih sudah menjaga adik saya dari awal sampai akhir kontrak ini, Terima kasih juga sudah membantu keluarga kami kami berhutang Budi kepada tuan muda" ucap Arya menegaskan kata katanya.
Edward tersenyum getir mendengar perkataan Edward jadi inilah akhirnya pikirnya. "baiklah... jika itu pilihannya" jawab Edward dengan nada datar.
Setelah itu Edward pun mengakhiri panggilannya. Dia mendudukkan diri di ranjang menangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya lalu menjambak rambutnya kesal.
"aarrrghhh...." Edward mengerang frustasi. "Bella..." gumamnya dengan nada sendu.
Sementara itu Bella masih terduduk lesu di kamarnya memandangi setiap sudut kamarnya. Ada rasa tak rela meninggalkannya namun apa daya waktunya sudah berakhir di sini.
Dia menatap cincin kawin dijarinya lalu perlahan dia melepaskannya lalu menyimpannya di sebuah kotak kemudian menaruhnya di laci nakas.
"ini sudah bukan milikku lagi" batinnya. "jadi aku mengembalikannya" sambungnya.
Dia pun beranjak pergi, Bella pergi tanpa membawa apa apa karena menurutnya saat pertama datang pun dia tidak membawa apa-apa.
Dia meninggalkan semua kartu ATM dan ponselnya di laci nakas karena semua itu pemberian Edward.
Setelah menyimpan semuanya. Bella pun keluar kamar dan turun ke bawah menemui Arya.
"tidak baru sebentar" jawab Arya. "apa kau sudah siap" tanyanya.
"iya sudah, tunggu sebentar kak!" ucap Bella
Bella kemudian berjalan menghampiri Bu Marni dan pak Jo yang sedari tadi memandang sedih.
"Bu Marni Pak Jo, saya pamit! Terima kasih atas semuanya, saya sudah menganggap kalian sebagai orang tua saya, saya tidak akan melupakan pak Jo dan Bu Marni" ucap Bella meneteskan air mata.
"nyonya kenapa harus pergi?" ucap Bu Marni menangis tersedu dia sudah menganggap Bella sebagai putrinya. Dia pun memeluk Bella sambil menangis.
"Semoga tuhan menakdirkan nyonya kembali kesini lagi" Ucap pak Jo seakan tak rela kalau Bella meninggalkan mansion itu.
"Pak Jo terima kasih sudah menjaga saya selama ini" ucap Bella kepada pak Jo.
Setelah berpamitan pada pak Jo dan Bu Marni, Bella beralih kepada pelayan yang sedari tadi mengintip di balik pintu dengan mata berkaca-kaca.
"semuanya terimakasih sudah melayaniku dengan baik selama ini, aku sudah menganggap kalian sebagai teman dan saudara sekaligus" ucap Bella berlinang air mata.
__ADS_1
semua pelayan menangis haru mendengar Bella. Selama ini Bella tidak pernah berkata kasar dia selalu lembut dan tak pernah menyusahkan orang orang di rumah itu. Membuat semua orang menyayanginya.
Setelah itu Bella kembali menemui Arya. "ayo kak kita berangkat" ucap Bella kepada Arya.
Pak Jo dan Bu Marni mengantar mereka sampai di teras. Bella dan Arya pun memasuki mobilnya lalu meninggalkan Mansion.
Bella menatap Blue moon Mansion dengan tatapan sedih. Akhirnya dia meninggalkan mansion mewah itu. Dia merasa beruntung pernah menjadi bagian dalam mansion itu.
Sementara itu Edward sedari tadi hanya terdiam menatap kosong. Dia masih mencerna semuanya.
"terlambat..." gumamnya lirih. Baru saja dia memantapkan hatinya kepada Bella akan tetapi Bella memilih pergi.
Edward merutuki kebodohannya memberi waktu 6 bulan kontrak pernikahannya. Seharusnya dia tidak menuliskan waktunya.
Ini benar benar di luar prediksinya. Dia tidak menyangka akan jatuh hati pada Bella dan bodohnya dia baru menyadarinya.
"tuan muda anda baik baik saja?" tanya Aron pelan. Sudah sejam lebih dia menemani Edward yang hanya duduk terdiam tanpa sepatah kata pun.
"Dia pergi Aron... Dia sudah pulang ke rumah orangtuanya" ucap Edward dengan nada bergetar.
Aron hanya mendengarkan tanpa menjawab dia pun tak tau harus berkata apa.
"Dia bahkan tidak menungguku pulang" kata Edward lagi. "Menurutmu apa yang membuatnya pergi Aron"
"saya akan menyelidikinya tuan" jawan Aron
"harus...!!! kau harus menyelidiki nya!" tegas Edward. " Aron memang nya aku ini kurang apa" lirih Edward.
"ini bukan tentang kekurangan atau kelebihan tuan mungkin ini adalah takdir" jawab Aron ragu.
Untuk ke dua kalinya Aron melihat tuan mudanya kehilangan. Terlihat jelas raut kesedihan dalam wajahnya. Bedanya dengan Selena Edward yang memilih pergi berbanding terbalik dengan Bella.
"takdir? jadi maksudmu aku tidak di takdirkan bersama Bella" ucap Edward dengan getir.
"maksud saya bukan begitu tuan" Aron menjadi serba salah. kenapa juga aku berkata seperti itu tadi pikirnya
"jadi maksud kamu apa?" Edward menundukkan kepalanya sambil memejamkan mata.
"tuan kalau Anda dan nyonya di takdirkan bersatu pasti akan ada jalan untuk bersatu kembali" jawab Aron. Akhirnya aku menemukan kalimat yang bagus batin Aron.
"benarkah? tapi bagaimana kalau dia ditakdirkan bersama orang lain" Edward malah berpikir negatif lagi.
__ADS_1
Aron menghela nafas panjang, bagaimana membujuk orang yang patah hati pikirnya sedangkan dirinya saja tidak pernah merasakan jatuh cinta.
Hah... ternyata nasibnya lebih menyedihkan dari tuannya setidaknya Edward pernah merasakan jatuh cinta.