Cinta Penebus Hutang

Cinta Penebus Hutang
Sistem Barter


__ADS_3

Edward berjalan keluar dengan wajah yang masih memerah, dia membanting pintu membuat Aron yang menunggu di luar terperanjat.


Aron mengikuti Edward tadi karena dia sudah bisa menebak Edward pasti akan mengamuk.


Melihat Edward benar marah dan pergi cepat cepat dia masuk memeriksa keadaan Bella. saat membuka pintu dia terbelalak.


"sudah kuduga..." kata Aron yang melihat kamar berantakan seperti kapal pecah. Terlihat Bella masih menangis terduduk di lantai.


"nyonya anda baik baik saja" tanya Aron segera berlutut membantu Bella berdiri "apa tuan melukaimu?" tanya Aron dengan wajah cemas.


Bella hanya menggeleng kemudian menghapus air matanya.


Aron pun meraih telepon rumah untuk memanggil bu Marni.


"bu Marni segera ke kamar utama" ucap Aron kepada bu Marni kemudian menutup telpon.


Dia beralih duduk di samping Bella yang masih terisak.


"berhentilah menangis tidak baik" ucap Aron menenangkan.


"Dia marah sekali padaku" ucap Bella tambah menangis.


"jangan membuat hal yang bisa membuat tuan muda marah karena kemarahan tuan muda sulit untuk diredakan" kata Aron mengingatkan.


"aku tidak melakukan apa apa. Dia hanya teman biasa" jawab Bella mulai berhenti menangis.


"kau menganggapnya teman biasa tapi mungkin dia berharap lebih lagi pula laki laki dan wanita tidak ada yang namanya hanya teman biasa tetap akan timbul rasa lain seiring waktu"


ucap Aron lirih.


"begitukah menurutmu? kalau begitu maukah kamu menjadi temanku?" tanya Bella menatap Aron.


"jangan menyalah artikan perkataanku nyonya!" ucap Aron menghindari menjawab Bella.


"kenapa? apa kalau kita berteman akan timbul juga rasa yang lain?" tanya Bella menatap lebih dalam.


Aron tidak menjawab dia hanya menghela nafas kasar sambil membuang muka. "ya nyonya kalau kita berteman aku takut aku juga akan menyukaimu. Kau adalah wanita yang sangat menarik tidak mungkin ada yang tidak jatuh hati padamu bahkan tuan muda yang berhati dingin saja meleleh karenamu" batin Aron.


Tak lama Bu Marni pun masuk. "astaga nyonya apa yang terjadi? anda baik baik saja?" tanyanya kaget melihat kamar berantakan.


"bersihkan semuanya" perintah Aron kemudian Berlalu meninggalkan kamar.

__ADS_1


Di ruang kerja Edward duduk bersandar di kursinya sambil memejamkan mata. Aron pun masuk ke ruang kerja bersama Pak Jo membawakan secangkir kopi.


"tuan muda saya membawakan kopi" kata pak Jo sambil meletakkan cangkir.


"hmm..." hanya dijawab deheman oleh Edward tanpa membuka matanya. Pak jo pun keluar.


"kenapa kau lama sekali? apa yang dia katakan padamu?" tanya Edward lirih.


"aku hanya menyuruh bu Marni membereskan kamar tuan" jawab Aron tak ingin bercerita lebih banyak.


"apa kau juga berbohong padaku sekarang?" tanya edward tersenyum miris.


"saya tidak berani tuan" jawab Aron menunduk.


"pergilah! tinggalkan aku sendiri!" titah Edward kepada Aron.


Aron pun membungkuk hormat keluar tapi dia tidak langsung pulang dia menunggu di ruang tengah berjaga jaga kalau kalau ada kejadian lagi.


******


Setelah beberapa hari berlalu Edward berubah menjadi dingin terhadap Bella. Edward bahkan tidak tidur di kamar bersama Bella. Dia lebih memilih tidur di ruang bacanya.


"besok kesempatan terakhirku masuk kampus kata Sena dan Rara tapi aku tidak berani membicarakannya." ucap Bella lirih "tidak... aku akan mencoba membujuknya"


Bella pun berjalan ke luar kamar ingin menemui Edward. saat keluar dia berpapasan dengan pa Jo yang membawa nampan berisi secangkir kopi.


"Pak Jo apa itu untuk tuan? dimana dia?" tanya Bella.


"iya nyonya. tuan ada di ruang baca" jawab pak Jo.


"biar aku saja yang membawakannya" kata Bella mencari alasan menemui Edward.


"baiklah nyonya" kata pak jo sambil menyodorkan nampan.


Bella pun berjalan menuju ruang baca dan masuk perlahan ke dalam. Terlihat Edward tengah serius membaca berkasnya.


"tuan aku membawakan kopi" ucap Bella memulai percakapan sambil tersenyum manis. Edward hanya melirik sekilas lalu fokus kembali pada berkasnya.


Bella yang tak dianggap berpikir keras. Di kemudian merapatkan tubuhnya ke samping Edward. Dia meraih lengan Edward dan memeluk lengan kekar itu sambil menyandarkan kepalanya di bahu Edward.


"ada apa kau kemari?" tanya Edward dingin.

__ADS_1


"apa tuan masih marah padaku" tanya Bella sambil bergelayut manja mencoba merayu Edward.


"katakan apa maumu?" tanya Edward kembali dia tidak tahan dengan pelukan manja Bella. Dia mengalihkan dirinya jangan sampai dia meleleh.


Bella pun terdiam sambil mengumpulkan keberaniaanya dan mencoba berbicara kembali.


"apa boleh aku masuk kuliah lagi? Dosen bilang kalau aku tidak masuk kuliahku akan berakhir" ucap Bella takut sambil meremas ke dua tangannya.


"jadi maksudmu kau ingin ke kampus? begitu?" tanya Edward menoleh ke arah Bella.


"ya kalau tuan mengijinkan, aku sudah di semester akhir kan sayang kalau harus berhenti" kata Bella dengan nada manja masih memeluk tangan Edward.


"kau sudah melampaui banyak perjanjian kita" kata Edward masih dingin.


"maaf kalau aku membuatmu susah" ucap Bella dengan mata berkaca kaca mulai meneteskan air mata dia sudah pasrah mungkin takdirnya memang begitu. Perlahan dia melepaskan pelukan tangan Edward "bahkan aku membuang malu bergelayut padanya tapi dia tidak menghiraukanku" batin Bella.


Edward memperhatikan Bella saat Bella sudah akan berdiri dia pun menahannya. "bagaimana kalau kita melakukan sistem barter?"


"barter? apa yang bisa di barter?" tanya Bella mengingat dirinya tidak punya apa apa.


"aku akan memberimu kebebasan dan kau juga memberiku kebebasan" kata Edward dengan seringai licik.


" kebebasan apa?" tanya Bella heran.


"aku akan membebaskanmu ke kampus dan bahkan aku membebaskanmu mengunjungi orang tuamu" jawab Edward menatap Bella penuh Arti.


"lalu kebebasan apa yang kau minta dariku, bukankah kau bebas, aku tidak punya hak atas dirimu" tanya Bella masih bingung.


"kebebasan memilikimu seutuhnya" ucap Edward sambil membelai rambut Bella.


"bu...bukankah kau memang memilikiku" jawab Bella terbata mulai tau kemana arah perkataan Edward.


"Bella kau pasti tau itu, aku lelaki normal bukan hanya sekedar ciuman yang kubutuhkan. Aku menginginkan yang lebih" ucap Edward kini tangannya menyentuh paha putih milik Bella yang hanya memakai lingeria kimono.


Bella terperanjat kaget dia sudah tau apa yang Edward maksud. Dia tak mampu berkata kata lagi. Rasanya antara hidup dan mati. Tangannya mulai dingin jantungnya berdetak karuan.


"kau tidak perlu menjawab sekarang, jika kau memutuskan untuk pergi ke kampus besok berarti ku anggap kau setuju denganku." kata Edward sambil menyandarkan tubuhnya menatap Bella yang diam tertunduk.


"baiklah kau boleh kembali ke kamar, aku sedang ada kerjaan!" ucap Edward lagi sambil membuka kembali laptopnya.


Bella pun beranjak kembali ke kamar tanpa berkata apa apa lidahnya terasa keluh. Bagai memakan buah simalakama.

__ADS_1


__ADS_2