
" semua ini adalah salahmu Hendra. Kalau kau tidak melakukan kesalahan semua ini tidak akan terjadi" tiba tiba Sanjaya menuding Hendra.
"maksud paman apa menyalahkan ayah bukankah paman juga terlibat atas kekacauan ini" Arya membela ayahnya.
"itu karena kebodohan ayahmu yang tertipu dengan orang baru" Sanjaya kembali menyalahkan Hendra.
" itu tidak benar semuanya diluar kendaliku Sanjaya. harusnya kau membantu menyelesaikan masalah" Hendra pun mulai tersulut emosi.
"jangan mengalihkan pembicaraan mas Hendra ini semua salahmu kau tidak becus memimpin perusahaan" bibi Susi pun menyalahkan Hendra.
"jangan melimpahkan semuanya kepada ayahku. kenapa kalian sangat jahat" Arya kembali membela ayahnya. dan pertengkaran pun terjadi diantara keluarga.
Bella yang menyaksikan hanya bisa menangis dan beran dai andai "andai saja aku bisa membantu keluargaku. aku pasti akan melakukan apapun. apapun itu" ucapnya dalam hati.
terlepas dari itu Asisten Ferdi kemudian meminta bertemu dengan Hendra dan Arya serta Sanjaya.
" pak semuanya semakin memburuk semua telah melepaskan sahamnya perusahaan kita terancam di akuisisi. bahkan semua aset terancam terjual bahkan rumah kediaman pun harus direlakan....kita benar2 bangkrut pak" asisten Ferdi menjelaskan.
__ADS_1
"tidak bisa begitu kita tidak boleh jadi gelandangan aku tidak rela" ucap sanjaya emosi.
"bagaimana ini kita kan harus menyiapkan dana untuk operasi kakek. apa yang harus kita lakukan?" Arya mengingat kondisi kakeknya dirumah sakit.
"kita sudak tidak punya apa apa lagi bahkan itupun belum menutupi semuanya" asisten Ferdi kembali menjelaskan.
"tenanglah pasti ada solusi kita tidak boleh berdiam diri kita harus mencari solusi" Hendrawan meyakinkan mereka.
Disisi lain Bella yang tak sengaja mendengar pembicaraan mereka di balik pintu hanya bisa terdiam dia tak menyangka keluarganya ternyata benar benar terpuruk. kini mereka mengalami kesulitan bahkan biaya operasi kakek pun tidak ada sementara dokter sudah dari tadi mendesak untuk menindaklanjuti pengobatan.
********
"presdir, salah satu perusahaan textil yang dikelola oleh Hendrawan dan Sanjaya terancam bangkrut sudah dipastikan tidak ada harapan." seketaris Kevin memberi informasi.
"apakah presdir tertarik untuk mengakuisisi perusahaan tersebut" ucap sekertarid Kevin dengan hati hati tak ingin membuat kesalahan melihat Tuan muda yang merupakan President Directur itu tak bergeming. menambah aura ketakutannya ditambah asisten Aron yang menatap bagaikan akan menelan hidup hidup.
"Aron, bagaimana menurutmu?" Edward bertanya kepada Aron tampa mengalihkan perhatiannya pada berkas dihadapannya.
__ADS_1
"sebenarnya cukup menjanjikan tuan muda, walaupun cuma perusahaan kecil kalau dikelola dengan baik sepertinya akan menjadi besar mengingat peminat tekstil akhir2 ini cukup besar." jawab Aron datar penuh keyakinan.
"baiklah selidiki lebih dalam dapatkan celah untuk kita masuk dan pastikan menguntunkan pihak kita, aku tidak ingin hanya membuang waktu!" perintah Edward kepada sekertaris Kevin dengan tegas.
"baik presdir sesuai perintah anda, dan oh ya satu lagi point tambahan menurut penyelidikanku Sanjaya memiliki pinjaman yang cukup besar di salah satu Bank milik Zhenghong dan sepertinya telah menunggak, dan kemungkinan pelunasannya sangat tipis mengingat keaadaan perusahaan mereka saat ini" asisten Kevin menambahkan informasi.
"bagus itu bisa menjadi kelemahannya dan kau pergilah menemuinya ajukan pertemuan dengan Sanjaya, kita liat apa yang bisa dia tawarkan kepada kita" perintah Edward dengan tersenyum licik menandakan telah ditemukannya mangsa yang baru begitulah kira2.
" baik presdir. akan saya laksanakan" sekertaris Kevin pamit untuk melanjutkan pekerjaan. Dia keluar dari ruangan dan langsung menghembuskan nafas lega karena presentasinya berjalan dengan lancar. Bagaimana tidak Edward adalah atasan yang sulit dipuaskan dia sangat teliti dalam berbagai hal satu kesalahan kecil bisa berujung masalah besar.
"hufft... akhirnya. serasa sedang melakukan tugas militer jika berhadapan dengan presdir. aku sampai berkeringat dingin bahkan aku bisa membuat jus dengan keringat dingin ini. oh ya ampun..." keluh Kevin setelah sampai di ruangannya.
"cih, kau bahkan terlihat pucat." ucap salah seoran stafnya meledek.
"hei kau tidak tau saja disana seperti banyak aura mistis apalagi tuan Aron kau tidak akan mampu menatap matanya" Kevin bergidik ngeri.
"ya sudahlah, jika mereka mendengarmu kau akan menjadi pajangan dimenara Zhenghong, hahahha..." roy yang merupakan wakil sekertaris mengingatkan dengan nada horor.
__ADS_1
"aiih...kalian ini" ucap Kevin menggelengkan kepala."ayo lanjutkan pekerjaan" ucap Kevin duduk dikursinya.