Cinta Penebus Hutang

Cinta Penebus Hutang
hari tanpamu


__ADS_3

sudah seminggu lebih kepergian Edward ke paris. Selama itu pula Edward dan Bella tak saling berhubungan. Terakhir Bella hanya mendapat kabar dari pak jo sewaktu Edward sampai di sana.


Kini tinggallah Bella termenung di taman kampusnya. Memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada hidupnya. Entah mengapa hatinya terus menjadi sesak kala mengingat perceraian.


"kau bahkan tidak pernah menghubungiku sekedar bertanya kabar. Apa kau sudah melupakan ku? atau hanya aku yang merindukanmu? kau jahat...." batin Bella matanya berkaca kaca.


"Hai Bella... kau melamun?" tiba tiba Rendy datang menghampirinya.


"tidak aku hanya menikmati angin" ucap Bella tersenyum kaku.


"kau sendiri mana temanmu?" tanya Rendy heran biasanya ada sena dan rara.


"mereka sedang menyetor skripsi punyaku sudah selesai" jawab Bella.


"o... selamat ya sepertinya sebentar lagi kamu lulus" ucap Rendy tersenyum manis.


"bukankah seharusnya aku yang mengucapkan selamat padamu, ku kukira kau tak akan ke kampus lagi" jawab Bella heran pasalnya Rendi sudah menyelesaikan s2nya.


"ada urusan tadi dan sekalian liatin kamu mumpung yang mulia raja tidak ada. hehehe..." Rendy terkekeh.


"raja...? hahaha... kamu bisa saja kalau dia mendengarmu dia akan marah" tanpa sadar Bella ikut tertawa lebar mendengar Rendy menyebut Edward yang mulia raja.


"tapi dia tidak ada disini. tidak mungkin dia mendengarnya di eropa. hahaha..." Rendy tergelak.


"kau tau dia ke eropa?" tanya Bella polos.


"dia yang mulia raja kami para bawahan tentu tahu kemana dia pergi" jawab Rendy.


Bella hanya menggeleng kepala mendengar Rendy. "ya dia memang seorang raja dan siapalah aku hanya hamba sahayanya" Hati Bella miris memikirkan.


Sementara itu di sebuah apartemen mewah terlihat Edward memandangi ponselnya. Dia tersenyum miris menatap foto yang baru saja dikirim anak buahnya yang menjaga Bella.


Terlihat foto Rendy dan Bella duduk berdua di taman tersenyum bahagia. Edward memandang lekat foto itu. Dia melihat raut ceria Bella sedang tertawa lebar bersama Rendy.

__ADS_1


"apa kau bahagia bersamanya?" batin Edward miris. "berapa kali ku larang dan kuhalangi kau tetap saja bertemu dengannya. Aku tau memang kebetulan tapi seharusnya kan kau berusaha menghindarinya"


Edward menghempaskan ponsel itu karena kesal. Sejak dia tiba dia terlalu sibuk mengejar deadline. Dia benar benar fokus sampai dia tidak punya waktu sekedar menelpon Bella.


Dia tidak sabar menyelesaikan pekerjaannya untuk pulang menemui Bella. Sudah cukup rasanya menahan rindunya.


Sementara itu Bella yang telah pulang dari kampus berjalan gontai memasuki kamarnya. Dia melembar tas dan sepatunya sembarang arah tak bersemangat.


Lalu berjalan menuju kamar mandi membersihkan diri dan mengganti baju. setelah itu dia membaringkan tubuhnya lalu tertidur.


drrrttt....drrrtttt.. .


Terdengar ponselnya berbunyi. Bella yang tertidur lelap seperti bermimpi, dia menyadarkan dirinya pelan lalu perlahan melihat ke arah ponselnya.


Matanya terbelalak sempurna seperti mendapat kejutan listrik saat melihat tertera panggilan video call dari Edward. Dia segera bangkit dari tidurnya hendak mengangkat telpon.


Tiba tiba dia tersadar bukankah dia baru bangun pasti mukanya masih muka bantal dan acak acakan. Dia pun secepat kilat berlari ke depan cermin merapikan rambutnya memberi sedikit bedak tabur di wajahnya tak lupa lipglows di bibirnya.


Terlihat Edward dengan wajah segar sehabis mandi dengan rambutnya yang masih acak dan basah membuat Bella bersemu semakin rindu.


"kau sedang apa?" tanya Edward kepada Bella yang masih diam.


"ha... aku sedang tidur" jawab Bella asal.


"aku mengganggu tidurmu tadi?" tanya Edward.


"ti...tidak maksudku sedang berbaring saja tidak ada kerjaan" Bella merutuki dirinya tadi yang langsung bilang sedang tidur.


"baguslah...! maaf baru menghubungimu aku sedang sibuk banyak kerjaan" jelas Edward masih menatap Bella. Pandangannya tertuju pada bibir Bella yang ranum seperti buah chery.


"ah cantiknya rasanya aku ingin mengecupnya" batin Edward nelangsa.


"oh... tidak apa" jawab Bella tak tau harus bilang apa ingin rasanya memaki suaminya itu. hanya sekedar mengirim pesan atau setidaknya menelpon biar cuma sepata kata apa tidak ada waktu begitu pikirnya.

__ADS_1


"apa itu menara eifel" tanya Bella melihat ke belakang Edward. Disana memang masih terang sedangkan di indonesia sudah gelap.


"hmm...? oh iya... apartemen ini dekat dengan menara Eifel, lihatlah..." Edward saat itu sedang berada di balkon lalu mengarahkan kameranya ke arah menara Eifel.


"cantik sekali" Ucap Bella tersenyum. "andaikan aku di sana" batinnya.


"lain kali aku akan membawamu" kata Edward seperti tau apa yang ada di dalam hati Bella.


"ah... ya lain kali" Bella pun tersenyum senang.


"ck..." Edward berdecak lalu mengalihkan pandangannya.


"kenapa?" tanya Bella heran.


"kau terlihat seksi, kenapa memakai baju seperti itu saat aku tidak ada" jawab Edward berdecak. Saat Itu Bella hanya memaakai pakaian tidur tipis singlet menampilkan belahan dadanya.


"apa..??" Seketika Bella tersadar dia pun menunduk melihat bajunya.


"kau menggodaku?" tanya Edward menggoda Bella.


"tidak aku tidak sengaja" Bella jadi merona menahan malu. "oh ya besok aku akan mengunjungi ibuku, bolehkan?" Bella memasang wajah memelas.


Edward terlihat berpikir sejenak lalu mengiyakan. "baiklah... pergilah" jawabnya.


"terima kasih" ucap Bella sumringah tersenyum senang.


"baiklah tidurlah sudah malam" ucap Edward.


"ya...!!" balas Bella mereka pun mengakhiri sambungan teleponnya.


Bella yang tadinya terlihat lemah lesu seketika menjadi bugar kembali setelah menerima telepon Edward hatinya mendadak berbunga bunga.


Begitupun Edward yang tadinya malas seakan mendapat moodboster menjadikan dirinya kembali semangat bekerja.

__ADS_1


__ADS_2