
Selena berjalan menyusuri setiap sudut ruangan mencari keberadaan Edward. Matanya tertuju pada laki laki yang mengisi hatinya selama bertahun tahun. Rasa sesal dalam hatinya teramat dalam.
Senyum terlukis di wajahnya kala melihat Edward sedang berdiri sambil menyalami tamunya. Selena pun memberanikan diri mendekati Edward.
"Edward...!" tegurnya dengan nada manja.
Edward melirik ke arah suara yang memanggilnya. Dia memalingkan wajah kasar saat menatap mantan kekasihnya itu sudah berada di depannya.
"Edward bolehkah kita bicara sebentar" ucap Selena dengan wajah memelas.
"tidak ada yang perlu dibicarakan, aku tidak ada waktu" jawab Edward dengan kesal.
"Aku mohon untuk kali ini saja" ucap Selena mengatupkan tangannya. "kali ini saja"
Edward terlihat gusar dan akhirnya dia mengiyakan dengan harapan Selena tak akan menggangunya setelah ini. Mereka pun berjalan menuju ruang tunggu tamu hotel.
Bella berjalan memasuki ballroom setelah dari toilet. Namun baru saja beberapa langkah matanya tertuju pada Edward yang tengah berbincang dengan Selena. Dia terus memperhatikan gerak gerik mereka. Terlihat Edward dan Selena berjalan keluar dari ballroom.
"mau kemana mereka?" pikir Bella. Karena penasaran dia pun mengikuti mereka sambil menjaga jarak agar tidak ketahuan.
"mau bicara apa lagi?" Tanya Edward dengan nada tegas.
"aku sangat merindukanmu" ucap Selena berlinang air mata.
"benarkah? bukankah selalu ada tempat yang bisa kau meluapkan rindu." jawab Edward dengan nada sinis.
"Aku minta maaf waktu itu aku mengaku salah tapi itu semua tidak seperti yang kamu pikirkan" jelas Selena dengan wajah memelasnya.
"haha...oh ya? lalu seperti apa ha?" Ucap Edward tergelak.
"waktu itu aku sedang stress, apalagi kau tidak pernah mengangkat telponku. Aku menerima ajakan temanku ke club dan aku minum sedikit untuk menghargai ajakan temanku dan ternyata aku malah mabuk" ungkap Selena meyakinkan.
"kau pikir aku percaya padamu?" Edward mulai kesa.
"dengarkan dulu, saat aku mabuk dan tidak sadar Felix datang dan mengantarku pulang dan setelah itu aku tidak sadar lagi" Ucap Selena berderai air mata.
"sudahlah Selena semua itu sudah berlalu. Asal kau tahu aku sudah menikah" ucap Edward.
"menikah? ya aku tau kau sudah menikah dan aku juga tau kalau semua itu hanya sandiwara" kata Selena membuat Edward terkejut darimana dia tau pikirnya namun dia mempertahankan wajah datarnya.
__ADS_1
"aku tau dia hanya pelarianmu kan? aku tau kau masih mencintaiku hanya aku di dalam hatimu" ucap Selena percaya diri.
Dari balik pintu Bella mendengar setiap kata kata mereka. Hatinya sangat sakit mendengar kalau dirinya hanya pelarian semata.
"kau terlalu percaya diri, banyak yang sudah berubah Selena, aku bukan yang dulu lagi" ucap Edward hendak berlalu pergi namun tiba tiba Selena memeluknya dan nekat mencium bibir Edward.
Bella melihat dengan jelas mereka berciuman tadinya dia hanya ingin mendengar tapi entah apa yang mendorongnya sehingga dia membuka celah pintu.
Edward yang tak memprediksi ciuman dari Selena hanya mematung karena terkejut. Saat itu pun Bella sudah membuka pintu tadinya dia akan menutupnya kembali namun terlanjur Edward telah melihatnya.
"Bella...!" ucap Edward melepas ciuman dan pelukan Selena dengan kasar saat melihat Bella membuka pintu.
"maaf aku tidak tau kalian di sini" ucap Bella berbohong, dengan sekuat hati dia menahan air matanya mempertahankan mimik wajahnya agar tidak terlihat.
"kau dari mana tadi aku mencarimu" kata Edward mengalihkan suasana dia menelisik wajah Bella dengan saksama. "apa Bella melihat yang tadi, bagaimana kalau dia salah paham?"
"aku dari toilet, tadi aku mau istirahat sebentar di sini, aku tidak tau kalian ada di sini" jawab Bella berusaha santai.
"apa dia tidak merasa cemburu melihat Selena" batin Edward. Ada rasa kecewa dalam hatinya saat Bella terlihat santai setelah kejadian tadi.
"hai Bella kami hanya berbincang tadi sekedar melepas rindu kau tau kan aku baru datang dari luar negeri" kata Selena dengan lemah lembut agar terlihat baik di mata Edward.
Bella pun keluar dari ruangan itu. Dia tak mampu berlama lama menahan gejolak di hatinya. Matanya rasanya memanas dan perih karena menahan sesuatu aliran yang ingin keluar. Jantungnya berdebar kencang. Entah kenapa kakinya terasa lemas dan bergetar. Dia berjalan tak tentu arah tanpa terasa dirinya telah berada di balkon hotel.
"ah tuhan kendalikan diriku! hiks...hiks... ada apa denganku? hiks...hiks... Bella sadarlah! Bangunlah dari mimpimu jangan terlena! hiks...hiks...." Bella menumpahkan air matanya tak mampu lagi menahannya.
"sakit...rasanya sakit....melihatnya dengan wanita lain. hiks...hiks... berilah hambamu kekuatan cabutlah rasa ini di hatiku ya tuhan!" Bella menangis sesegukan sambil memukul mukul dadanya.
Sementara itu Edward terpaku menatap kepergian Bella. Entah rasa apa yang melandanya. Satu sisi dia senang Bella tidak marah karena kejadian tadi, tapi disisi lain membuatnya kecewa karena Bella terlihat bisa saja tidak merespon kejadian tadi. "hanya seperti itu kah hubungan kita Bella, apa tidak ada rasa lain dihatimu melihatku dengan wanita lain" batin Edward.
Edward kemudian keluar dari ruangan itu dengan wajah gusar meninggalkan Selena yang terus berusaha menahannya. Dia berjalan menuju toilet, sesampainya disana dia membasuh wajahnya mendinginkan pikirannya. Lama dia menatap pantulan dirinya di cermin.
"arrghh.... memangnya rasa apa yang kuharapkan darinya? Kenapa perasaanku seperti ini, aku bahkan tidak bisa mengendalikan perasaanku lagi" Batin Edward, dia memegang kepalanya dengan kedua tangannya lalu menghempaskan kembali dengan kasar.
Selena yang kesal berjalan meraih minuman yang dibawa pelayan. Dia meneguk minuman dengan cepat tak tersisa menandakan kekesalannya.
"hai sayang kau terlihat kepanasan apa perlu apa perlu aku mendinginkanmu?" Kata Felix dengan nada sinis.
"semua ini terjadi karena dirimu" ucap Selena kesal.
__ADS_1
"kau menyalahkanku? memangnya apa pernah aku memaksamu bahkan kau menikmati dengan sukarela, haha..." Felix tergelak.
"lihat saja semua akan kembali seperti semula, aku yakin itu" ucap Selena teguh.
"kau begitu optimis" Felix memanas manasi Selena.
"kau tau ini hanya permainan, mereka hanya bersandiwara." ungkap Selena.
Felix terperanjat kaget "benarkah? kau tau darimana?" tanyanya.
"itu tidak penting yang jelas Edward tidak mencintai Bella, hubungan mereka sebatas kontrak yang saling menguntungkan" ungkap Selena.
"kau yakin?" ucap Felix tak percaya sambil menatap Bella yang terlihat sangat cantik dengan body semampai.
"aku yakin" ucap Selena tegas.
"kau yakin Edward tidak akan tergoda dengannya. Lihatlah betapa cantiknya dia! aku saja yang baru melihatnya tergoda apalagi Edward yang pasti siang malam bersamanya, kecuali dia bukan laki laki normal Selena" ucap Felix sambik menatap Bella dari kejauhan.
Seketika Selena terhenyak, didalam hatinya kata kata Felix ada benarnya juga. Tapi dia menepisnya rasa cinta dan egonya mengalahkan segalanya. Karena kesal dengan Felix dia pun meninggalkan Felix.
Felix masih terus menatap Bella. Lalu pelan pelan dia menghampiri Bella, dia berjalan lalu dengan sengaja menabrak bahu Bella untuk menarik perhatian Bella.
"aduh..." Bella terperanjat kaget saat seseorang menyenggol bahunya.
"eh maaf saya tidak sengaja" ucap Felix pura pura. Lalu dia pura pura mengernyitkan dahi berpikir. "ah sepertinya kita pernah bertemu"
"ah...?? dimana?" tanya Bella heran tapi sepertinya dia memang pernah melihat pria dihadapannya itu.
"o...aku ingat kau wanita yang menabrakku di pesta lalu, berarti kita sudah impas ya kan? hahaha..." ucap Felix tertawa lebar.
"o iya aku baru ingat ya kita impas" jawab Bella tadi dia baru saja habis membasuh mukanya dan memperbaiki riasannya karena menangis.
"kau ingatkan namaku Felix dan kau belum memberi tahu namamu" Felix kembali pura pura tak tau nama Bella.
"nama saya Bella...!" ucap Bella mencoba tersenyum
"nama yang cantik secantik orangnya" Felix tersenyum penuh arti. Jika yang dikatakan Selena benar pikirnya berarti masih ada kesempatan mendapatkan Bella.
Bella hanya tersenyum simpul mendengar pujian Felix.
__ADS_1