
Matahari bersinar terang diufuk timur tanda pagi hari telah bermula, menandakan dimulainya aktifitas para penduduk bumi.
Bella telah siap didepan cermin sedari lama dia menatap dirinya dicermin mengumpulkan keyakinan dan memantapkan hatinya dengan segala kemungkinan yang akan terjadi padanya.
"huufth...bismillahi rahmani rahim..." ucapnya kemudian keluar kamar menuju meja makan yang sudah hadir paman dan bibinya.
" paman bibi, aku sudah memikirkan semuanya. Demi keluarga kita aku siap menikah dengannya" ucapnya kepada paman dan bibinya. seketika paman dan bibi tersenyum gembira mendengarnya.
Paman sanjaya pun langsung menghubungi Sekertaris Kevin.
" halo tuan Kevin!"
"ya halo pak sanjaya apa bapak sudah membuat keputusan?" tanya Kevin to the point.
"ya tuan, sesuai yang saya janjikan saya sudah siap dengan gadis itu." jawab paman Sanjaya.
" baiklah temui saya direstoran xx kita akan membahas lebih lanjut dan bawa gadis itu!"
"baik tuan sesuai perintah anda." balas paman Sanjaya lega.
*******
"presdir sesuai rencana gadis itu sudah menyetujui rencana kita. Apa yang harus dilakukan lebih lanjut?" tanya Kevin kepada Edward diruangan kebesarannya.
__ADS_1
"bagus segera temui mereka. dan ajukan surat kontrak aku tidak ingin menambah masalah kalau kalau gadis itu berubah pikiran dan jangan sampai merugikan pihak kita." perintah Edward.
"baik presdir...tapi apa anda tidak ingin menemui gadis itu?" tanya kevin hati hati takut salah bicara.
"cihh...untuk apa menemuinya ini hanya pernikahan kontrak bukan sesungguhnya yang penting semua berjalan sesuai rencana" tukas Edward menyeringai.
"Aron buatkan kontraknya jangan sampai ada kesalahan" tambahnya.
"baik tuan muda akan saya susun segera" jawab Aron membungkuk hormat disusul Kevin.
"hmm.. " Edward hanya mendehem menjentikkan jarinya tanda menyuruh mereka keluar dan ia pun bersandar dikursinya yang empuk sambil memejamkan matanya.
*******
Paman Sanjaya dan Bella sudah berada di restoran. Mereka tengah menunggu Sekertaris Kevin yang telah membuat janji. Dan tidak menunggu lama Sekertaris Kevin pun datang dan segera duduk dihadapan Bella dan pamannya.
Kevin yang menyadari pandangan Bella pun melirik sekilas. "ternyata lebih cantik aslinya bahkan sempurna...ah...andaikan dia tidak berurusan dengan presdir aku pun tertarik mengenalnya. Huffth..." batin Kevin yang sesekali melirik Bella.
"selamat datang tuan Kevin" sapa paman sanjaya.
"terimakasih pak, langsung saja. Apakah ini nona Isabella putri?" tanya Kevin memastikan.
"benar tuan ini Keponakan saya. Panggil saja Bella tuan" jelas paman Sanjaya seramah mungkin.
__ADS_1
Bella yang ditunjuk hanya mengangguk sopan kepada sekertaris Kevin.
"baik nona perkenalkan saya Kevin sekertaris presdir Edward, saya kemari membawa surat kontrak pernikahan anda dengan Presdir" ucap Kevin seraya mengeluarkan map Hitam dan menyerahkannya kepada Bella.
Bella yang mendengarkan segera membuka map itu seraya berpikir " ternyata bukan dia hanya sekertarisnya... seperti apa rupanya kira kira ya?" batin Bella sambil membuka map itu dan mulai membaca.
Surat Kontrak Pernikahan
pihak 1 : Edward Antonio
pihak 2 : Isabella putri
pihak kedua menyetujui pihak pertama untuk menikah dalam kurung waktu 6 bulan dan melakukan setiap peraturan yang ditetapkan pihak pertama.
apabila pihak kedua melanggar akan dikenakan finalti 3 kali lipat dari nilai yang telah didapat dari pihak pertama sebelumnya.
Begitulah kira kira ya surat kontraknya authorpun kurang mengerti karena author tidak pernah mengalami.
he..he..he....
Dengan membaca surat tersebut Bella terhenyak memikirkan kembali keputusannya.
"iya ini sudah betul... semua demi keluargaku. semoga semuanya kembali berjalan lancar" ucapnya dalam hati dan menghembuskan nafas panjang. Dan akhirnya dia membubuhkan tanda tangannya diatas materai map tersebut.
__ADS_1
"terima kasih atas kerja sama anda nona kedepannya saya akan menghubungi kembali" Sekertaris Kevin mengambil berkas kemudian pamit undur diri.
Bella masih terdiam mencoba mencerna dan menerima semua yang telah terjadi dan berharap dia telah mengambil keputusan yang tepat. Yang terbaik untuk semua orang tanpa memimikirkan perasaannya sendiri. tak terasa air matanya lolos di wajah cantiknya namun cepat dia tepis. Dia tidak ingin terlihat lemah dia harus kuat mulai sekarang.