
.
.
"Ini benar-benar enak.."Puji Akmal saat tengah menyantap makanan yang dihidangkan Ibu Niken.
"Benarkah ?? Habiskan, Ibu sudah selesai. Mau melanjutkan membuat kue lagi.."Balas Ibu Niken yang langsung kedapur lagi dengan membawa piring kotornya.
Melihat Akmal begitu bersemangat makan,Aneeta menegurnya agar jangan sampai Akmal tersedak ksrna terlalu terburu-buru. "Sayang.. Pelan-pelan dong.."
"Iya.. Maaf, ininsangat enak.."Balas Akmal.
"Bukannya mamamu juga bisa masak ??"Timpal Aneeta.
Akmal segera menggeleng. "Mama tidak pernah didapur sayang..bahkan membedakan garam dan gula mama tidak akan tau. Semua pelayan yang mengerjakan."
"Yah, jika aku punya banyak uang, aku juga sangat ingin menyewa pelayan, Agar Ibu tidak terlalu repot."Aneeta membalas.
"Mau aku carikan ?? Nanti biar Aku yang bayar pelayan itu" tawar Akmal.
"Tidak..tidak.. apa nanti kata orang, Pasti mereka mengira aku sedang memerasmu."Balas Aneeta dengan cepat.
Akmal tersenyum lebar setelah meneguk air putih hingga tandas, Tanda jika ia sudah menyudahi makannya. "Hanya ocehan orang. Buat apa kau fikirkan. Aku saja tidak berfikir begitu, kan memang aku yang menawari.."
"Tapi tetap saja. Tidak usah. Sebentar lagi aku kan sembuh, Aku bisa bantuin Ibu dirumah. Maaf ya sayang, Aku tidak bisa menemanimu dikantor lagi.."Manja Aneeta.
Akmal mengusap kepala Aneeta dengan lembut. "Sebenarnya aku sedikit sedih, Tapi mau bagaimana lagi, Ibu juga penting."
"Sering-sering kemari.. Biar kita bisa makan siang bersama disini. Nanti biar aku yang masak.."Ucap Aneeta.
__ADS_1
"Memang kau bisa memasak ??"Akmal memastikan dengan candaan.
"Kau mengejekku..Tentu saja aku bisa.."Balas Aneeta dengan segera.
Akmal.tertawa seketika. Lalu mengangguk. "Baiklah.. Aku harus kembali kekantor. Terima kasih ya makan siangnya. Maaf ya tidak bisa menemanimu."
"Iya. Hati-hati ya.."Balas Aneeta, Akmal menuju dapur guna berpamitan dengan Ibu Niken. Setelahnya ia segera kembali kekantor karna memang pekerjaannya sudah sangat banyak.
.
.
Setelah beberapa hari, Aneeta sudah bisa beraktivitas kembali. Ia juga mulai membuat Kue pesanan. Adanya Aneeta menambah rame toko kue Milik Ibu Niken. Apalagi Aneeta begitu ramah dengan semua pelanggan.
Pagi itu Toko Ibu niken kedatangan pelanggan.
"Saya mau memesan kue Ulangtahun."Balas pria berjas itu.
"Baiklah.. Silahkan dipilih model seperti apa yang anda inginkan."Chika menyodorkan sebuah lembaran pada pria itu. "Didepan juga ada beberapa contoh kue jika Tuan berminat."Tambah Chika seraya menunjuk.
Pria itu mengerti lalu membuka lembaran demi lembaran dihadapannya. Hingga tak sengaja pria itu melihat Aneeta yang tengah menghias sebuah kue dibelakang. Sekat yang hanya separuh badan antara dapur kue dan ruang depan memang bisa melihat Ibu Niken dan Aneeta membuat Kue.
Pria itu menatap lama Aneeta, hingga sudut senyumnya sedikit terangkat.
"Saya mau pesan yang ini.."Tunjuk Pria itu.
"Baiklah.. Saya tulis ya tuan.. Untuk tanggal berapa tuan ??" Tanya Chika
"Bisa saya bertemu yang akan membuat kue saya ?? Ada beberapa yang ingin saya sampaikan padanya."Pinta Pria itu.
__ADS_1
"Baiklah.. Tunggu sebentar ya.."Chika segera menuju dapur Kue bebricara sebentar dengan Aneeta dan Aneeta pun mengikuti Chika keluar
"Selamat siang tuan. Ada yang bisa saya bantu ??" Sapa Aneeta dengan sangat ramah.
"Anda yang akan membuat kue untuk saya ya ??" Terka Pria itu.
"Iya.. Apa yang anda inginkan dalam kue itu..??" Tanya Aneeta yang kemudian duduk didepan pria itu.
"Saya mau tulisan nama ini."Pria itu menyodorkan tulisan nama seseorang.
"maaf apa dia kekasih anda ??" Tanya Aneeta.
"Bukan dia putri saya."Balas Pria itu.
"Oww maaf kalau begitu. jadi kata-kata ini.yang akan ditulis ya ??" Timpal.Aneeta.
"Iya. Saya mau lusa sekitar sore saya akan ambil."ucap Pria itu.
"Baiklah tuan akan saya catat dulu."Aneeta mulai mencatat pesanan.
"Atas nama siapa ??" Aneeta menatap pria itu.
"Haidar."balas pria itu dengan membalas tatapan Aneeta. Keduanya sesaat saling tatap. Membuat Aneeta seakan larut dalam tatapan itu. Tatapan yang begitu ia kenali namun tidak dengan wajahnya.
.
.
.
__ADS_1