
.
.
Saat Aneeta dan Akmal masuk.bersamaan, Marimar dan Fairuz menoleh kearah pintu. Nampak disana suster masih membenahi beberapa alat untuk dipakai Papa Fairuz.
Jujur saja, Dalam hati Akmal masih begitu membenci pria itu atas apa yang telah ia lakukan, Namun mau bagaimana lagi, pria yang amat ia benci itu adalah papanya.
Sementara Aneeta cukup canggung sekali. Apalagi saat Fairuz menatapnya dengan lekat.
"Mereka datang. Kau mau bicara apa pada mereka.."Ucap Marimar.
Fairuz menerbitkan senyumnya. "Terima kasih sudah mau mengunjungiku."ucap Fairuz dengan lirih.
"Papa sakit apa ?? Kenapa sampai seperti ini ??" Aneeta mulai bertanya, Seketika Fairuz pun mengarahkan tatapannya pada Aneeta.
"Jangan tanya sakit Nak.. Papa hanya ingin minta maaf sama kalian berdua."Balas Fairuz
"Kenapa papa harus minta maaf ?? Bukannya selama ini papa selalu merasa benar dan tidak pernah salah ??" Timpal Akmal
"Akmal..." sanggah Marimar. Akmal seketika menatap kearah lain.
"Kau boleh membenci Papa Akmal.. Tapi setidaknya dengarkan permintaan maaf papa.. Penyakit papa sudah cukup parah, Papa juga sudah menyerah untuk berobat, Papa hanya ingin disisa usia papa bisa bersama dengan kalian anak-anak papa.."Tutur Fairuz menjeda perkataannya, sebab ia harus mengatur nafasnya beberapa kali.
"Jika saja sejak dulu aku tidak melakukan hal-hal aneh, pasti aku bisa bersama kalian cukup lama.."Tambahnya.
__ADS_1
"Pa.. Kami pasti memaafkan papa.. papa sekarang jangan terlalu banyak berfikir. Yang telah terjadi biarlah terjadi. Sekarang yang penting kesehatan papa.."Balas Aneeta.
Fairuz mengembangkan senyumnya. Aneeta tak sekeras dimana ia bertemu terakhir. "Kau memiliki sifat yang sama seperti ibumu Nak..Terima kasih.."
Aneeta mengulas senyumnya. "Tapi maaf, aku harus pergi jika papa sudah selesai berbicara. Ada hal penting lain yang ingin aku lakukan."
"Apa kau merasa tidak nyaman Aneeta ??" Timpal Marimar.
"Tidak Ma.. Aneet sudah bisa menyikapi semuanya. Tapi sungguh aku harus pergi karna ada kepentingan."balas Aneeta.
"Pergilah Nak.. Tapi sering-seringlah kemari."Ucap Fairuz.
"Iya pa.. Aneeta pamit dulu.."Aneeta langsung pergi dari ruangan itu.
Tiba diluar Wajah Aneeta berubah kawatir seketika, sebab baru saja ia mendapat pesan dari Gland jika Anak yang ditunggu Haidar tengah mengalami kejang dan sedang ditangani.
Tiba disana, Aneeta melihat dengan jelas Haidar yang menangis terduduk dengan tubuh lemahnya. Dan Aneeta dibuat tak percaya saat dari ruang IGD keluar brankar berisi seseorang yang sudah ditutupi kain seluruh tubuhnya.
"Kak.."Gumam Aneeta yang langsung berlari mendekati Haidar.
Aneeta berjongkok dan memegangi pundak Haidar. "Kak.. Ada apa dengan Imel ??" Tanya Aneeta.
Wajah Haidar sangat pucat sekali. "Kita kehilangan dia An.. Kita kehilangan dia.."
Aneeta seketika menutup mulutnya tak percaya. Lalu dengan spontannya Haidar memeluk Aneeta dengan erat. Menumpahkan kesedihan dalam pelukan Aneeta.
__ADS_1
"Aku gagal An.. Aku gagal menjaga adikku.."Ucap Haidar dalam tangisannya.
"Tidak kak.. Kau sudah berusaha.. Kakak jangan bilang seperti itu.."Balas Aneeta berusaha menenangkan.
.
.
Hampir sepekan Haidar kehilangan adik asuhan yang juga bernasib seperti dia. Kesedihan seolah masih saja melekat didalam dirinya. Bahkan Haidar tak begitu peduli dengan jam makannya, Hingga Aneeta selalu berinisiatif menjaga pola makan Haidar.
Siang itu, Haidar terus fokus pada layar laptopnya. Hingga Ketukan pintu terdengar.
"Masuk.."
Segera Aneeta masuk dengan membawa kotak makanan dan tak lupa senyum ia kembangkan.
"Kakak.. Sudah waktunya makan siang, Kau kerja terus.."Protes Aneeta seraya mendekat.
"Kau makanlah dulu.. Aku nanti menyusul."Balas Haidar.
"Tidak mau. Mau makan bareng kakak aja.."Aneeta bertingkah manja sekali. Hingga menimbulkan senyuman pada wajah Haidar.
"Kau lucu sekali jika manja seperti itu.. Kemarilah.."Panggil Haidar, Aneeta pun patuh dan mendekati Haidar, ia selalu berhasil membujuk Haidar meski hanya dengan cara konyol seperti itu.
Namun tanpa disangka, Hhaidar malah menarik Lengan Aneeta hingga Anreeta oleng dan terjatuh dalam pangkuannya Haidar.
__ADS_1
"Aakkhhh !!!"
.