
.
.
.
Sampai tengah malam Ibu Niken tak tidur, sebab saat siang Akmal bilang jika akan menginap dirumahnya, namun entah mengapa setelah kedatangan Haidar tadi Akmal malah pergi tanpa pamit. Meski tak nampak, namun kekawatiran Ibu Niken cukup besar mengingat Bagaimana perasaan Akmal saat ini.
"Kau dimana Nak ?? Apa kau kembali kerumah mamamu ??"gumam Ibu Niken yang hendak menghubungi Mama Marimar, namun masih ragu.
Tak sengaja Aneeta keluar dari kamarnya guna mengambil minum, Ia terjaga karna rasa haus yang melanda. Aneeta cukup terkejut saat melihat sang Ibu mondar mandir diruang tamu.
"Ibu.. Sedang apa disitu ??" tegur Aneeta.
Ibu Niken hampir terjengit, namun segera ia menerbitkan senyumnya. "Kau terbangun Nak ??"
"Iya.. Aku haus.. Ibu sendiri sedang apa ?? Ini pukul 3 buk.."Aneeta mengulang pertanyaannya.
Ibu Niken bingung harus menjawab apa. Kediaman Ibu Niken membuat Aneeta langsung faham.
"Ibu nungguin Kak akmal ya ?? Dia belum pulang ??" terka Aneeta.
"Ah.. Maaf kan Ibu sayang, Tadi kakakmu bilang akan menginap disini. Tapi sampai jam segini kok dia belum pulang ya ??" Akhirnya Ibu niken jujur.
"Mungkin dia kembali kerumah Mama Marimar. Atau malah kerumah sakit."Terka Aneeta berusaha berkata positif agar sang Ibu tidak kawatir.
__ADS_1
"Apa iya ya ?? Em.. Baiklah, Ibu akan tidur kalau begitu.."Ibu Niken segera menuju kamarnya, meninggalkan Aneeta yang mematung.
"Akmal.. Kau kemana sih. Kenapa tingkahmu seperti anak-anak ?!!! Apa dia tidak kasihan sama Ibu.."Umpat Aneeta yang menjadi kesal karna akibat menghawatirkan Akmal, Ibu Niken tak tidur.
.
.
Sinar mentari sudah muncul lagi. Pagi Itu Aneeta sengaja membuat sarapan karna sang Ibu terlambat bangun.
"Wah.. Anak Ibu rajin sekali.. Sudah siap sarapannya ya ??" Tegur Ibu Niken yang baru tiba didapur.
"Iya buk.. Ibu pasti lelah. Cuma sarapan Aneeta bisa membuatnya.."Balas Aneeta.
Aneeta pun melayani Ibu Niken dari mengambil makanan hingga menyiapkan susu.
"Ibu harus minum susu, Ini susu baik untuk usia ibu yang bertambah."Ucap Aneeta.
"bertambah tua ya ??" canda Ibu Niken.
"Anet nggak bilang loh buk.."Keduanya tertawa ringan bersama dan menikmati sarapan bersama pula.
.
.
__ADS_1
"Apa ?? Bagaimana bisa ?? Memang Akmal kemana kok tidak memeriksa ??" Marimar sangatlah terkejut saat mendapat laporan dari direktur perusahaan.
Penjelasan direktur cukup membuat Marimar tak percaya. Dengan lemah Marimar meletakkan ponselnya. Ia mengusap kasar wajahnya. Hal itu membuat Fairuz penasaran.
"Ada masalah apa Marimar ?? Akmal berulah ??" terka Fairuz.
"Perusahaan koleb Pa.. Beberapa investor mundur, dan proyek yang digagas Akmal ditolak, mereka rugi puluhan Milyar. Dan Akmal, dia sudah 3 hari tidak masuk kantor, tidak memeriksa laporan, dan tidak hadir saat rapat darurat."Tutur Marimar suaranya nampak lemah hingga membuat Fairuz bisa merasakan kesedihan istrinya.
"bagaimana bisa begitu ?? Biasanya Akmal tidak pernah membuat kesalahan ?? Dia bertanggung jawab Marimar.."Fairuz seolah tak percaya.
"Tapi ini kenyataannya. Akmal sudah berubah pa.. Dia sudah jauh dari yang mama kenal.. Aku sedih sekali.."Marimar menutup wajahnya. Ia merasa miris sekali, setelah apa yang terjadi, ternyata malah membuat putranya menjadi salah jalan.
"Coba kau hubungi dia ?? Suruh dia kemari.."Pinta Fairuz
"Kau mau apa ?? Mau memarahi dia ?? Jangan memperkeruh suasana pa.."Timpal Marimar.
"Tidak. Aku hanya ingin mendengar penjelasan darinya."Balas Fairuz.
Meski awalnya ragu. Namun Marimar akhirnya menghubungi Akmal. Siapa tau Jika papanya yang bicara Akmal bisa menurut, ya meski harapannya hanya setipis tisue.
.
.
.
__ADS_1