Cinta Sedarah

Cinta Sedarah
Menjadikan aku spesial


__ADS_3

.


.


Mobil Akmal berhenti tepat didepan kantor Dimana Aneeta bekerja.


Saat Aneeta hendak turun, Akmal mencegahnya. "tunggu !!"


"Ada apa ??"balas Aneeta.


"Jika kau ingin kita seperti biasa, Kenapa tidak pindah kerja dikantor kakakmu saja ??"Ucap Akmal tanpa menatap Aneeta


"Kalau itu aku tidak bisa. Soalnya masih banyak visi dan misi dikantor ini. Kakak harus fahamlah.."balas Aneeta denga. Tenang.


Akmal.tak lagi berkata, Aneeta pun segera turun. Tak sengaja Haidar juga baru sampai hingga membuat Aneeta segera menyapa atasannya itu.


"Pagi tuan.."Sapa Aneeta.


"Pagi.. Kau diatar kakakmu ya,"Balas Haidar.


"Tentu saja... Apa kakak tadi kerumahku ??" Aneeta mencondongkan tubuhnya pada Haidar.


"Tidak. Waktu akumasih dijalan, sudah membaca pesanmu.."Haidar beralih menatap Akmal yang tidak pergi-pergi.


"Apa mau mampir tuan Akmal ??" Sapa Haidar.


"Tidak.. Terima kasih.."Akmal segera menutup kaca mobilnya dan segera meninggalkan kantor Haidar.


Sepeninggal mobil Akmal Aneeta tersenyum kepuasan.


"Kau sengaja ya ??" terka Haidar.

__ADS_1


"Tidak juga.. Aku hanya mau membuktikan pada dia kalau aku ini sudah bisa menerima semua kenyataan. Setidaknya agar dia sadar saja dan menyudahi mengganggu hidupku."Tutur Aneeta.


"Kau ini.. Sudah ayo masuk.."Ajak Haidar. Aneeta pun mengangguk dan mengekor dibelakang Haidar.


Didalam lift, Aneeta berkata. "Kak, nanti siang kepanti yuk ?? Kangen sama anak-anak."


"Kebetulan, aku juga mau kepanti nanti setelah makan siang. Ada anak yang sakit ibu baru saja menghubungiku."Balas Haidar


"benarkah ?? kasihan sekali.."Timpal Aneeta.


"Oh ya, untuk laporan yang kemarin diselesaikan dulu saja. Yang hari ini kalau tidak sempat besok juga tidak apa-apa. Hari ini aku kan free tidak bertemu Klein, jadi kau bekerja santai saja."Tutur Haidar.


"Kakak bicara seperti itu bukan karna dengan ku kan ??"Aneeta mencondongkan tubuhnya pada Haidar. Seketika Haidar menghindar dan tersenyum tipis. Tingkah ini sama persis dengan Aneeta kecil dulu.


"maksudmu apa??" balas Haidar.


"Ya siapa tau, kakak menjadikan aku spesial.."balas Aneeta.


Aneeta seketika memanyunkan bibirnya. Sungguh sesuatu yang begitu menghibur sekali hingga membuat tawa Haidar terdengar.


.


.


Dikantor, Akmal tetap tidak fokus mengerjakan pekerjaannya. Bahkan ia terus saja memegangi kepalanya. Entah mengapa otaknya terus saja memikirkan tingkah Aneeta yang mulai terbiasa dengan ksebutan kakak.


"Kenapa kau mudah sekali melupakan cinta kita Aneeta.. Kenapa ?? Bahkan aku saja masih mencintai kamu.."Gumam Akmal penuh frustasi.


Tak lama ponsel Akmal berdering hingga membuat ia terpaksa menerima panggilan itu


"Halo."akmal bersuara tak bersahabat.

__ADS_1


"Akmal...ini mama Nak.." balas Marimar.


"Oh.. Mama, ada apa ??" Akmal.berusaha biasa.


"kamu kenapa ?? Kok kayak jutek begitu ?? Ada masalah sayang ??" Marimar bertanya seketika.


"Em...tidak ma.. Aku fikir tadi siapa.."Timpal Akmal dengan cepat.


"Sungguh ??"


"Iya Ma.. Mama tenang saja ya.."


"Syukurlah, Nak.. Mama mau kasih tau kamu, Besok mama pulang. Tapi.." Msrimar tidak melanjutkan perkataannya.


"Tapi kenapa Ma.??" Akmal


"Papamu harus mama bawa. Dia sudah kritis Nak, dan dia ingin ada diantara kita. Mama Mohon, buka hati kamu untuk memaafkan papa ya.."Pinta Marimar.


Akmal.kembali mengusap kasar wajahnya. "Ma..aku tidak tau hati mama terbuat dari apa.. Bagaimana bisa mama malah meminta maaf hanya demi pria seperti papa..yang tidak pernah menghargai mama.."


"Jangan fikirkan semua itu Nak.. Mama sudah iklas dengan apa yang telah terjadi.. Please sayang,"Balas Marimar.


"Baiklah.. Demi mama aku akan membiarkan dia tinggal dirumah kita."Timpal Akmal segera.


"Terima kasih Sayang.. Baiklah mama tutup dulu, mama mau mengurus administrasi dan yang lain.. Selamat bekerja sayang, Hati-hati."Pesan Marimar sebelum menutup panggilannya.


Akmal melempar ponselnya begitu saja diatas meja. Masalah dengan Aneeta saja belum.beres, ini malah pembawa masalah akan datang.


.


.

__ADS_1


__ADS_2