Cinta Sedarah

Cinta Sedarah
Kemungkinan


__ADS_3

.


.


Tak butuh waktu lama, Aneeta dan Haidar tiba dirumah sakit. Segera pula Haidar menanyakan ruang rawat dimana Anak yang dibawa Kerumah sakit itu. Setelah dapat, Haidar menggenggam jemari Aneeta dan membawanya menuju lify agar mempercepat langkah mereka.


"kakak tenang dulu.. Semoga saja Imel tidak apa-apa.."Hibur Aneeta saat melihat betapa kawatirnya Haidar.


"Iya.. Semoga saja.." balas Haidar penuh harap. Aneeta pun tersenyum agar memperkuat Haidar.


Tak lama pintu lift terbuka, Dan segera pula mereka menuju kamar nomer yang dikatakan oleh rssepsionis tadi.


Ceklek..


Haidar langsung membuka pintu ruangan yang ia yakini sebagai ruang rawat Imel. Dan benar saja Ibu Lidia nampak sesenggukan disisi Imelda.


"Ibu.."Haidar berlari kecil mendekati Ibu Lidia. Tak ada kata yang terucap, Hanya isak tangis Ibu Lidia yang terdengar dalam dekapan Haidar.


Aneeta sengaja diam agar memberi ruang untuk Ibu Lidia menumpahkan kesedihannya.


"apa kata dokter buk ??" tanya Haidar saat Ibu Lidia mulai mengurangi tangisannya.


Ibu Lidia pun segera membuka pelukannya pada Haidar. "Imel.. Imel mengalami pembengkakan pada jantungnya Haidar.. Hiks..hiks.. Kasihan sekali dia..Dan lagi, ternyata dia korban pelecehan dan kekerasan seksual dirumahnya, makanya dia kabur kepanti..Anusnya.. Anusnya.."Ibu Lidia tak bisa melanjutkan perkataannya, ia seketika menangis lagi.


Aneeta pun menjadi ikut terharu. Bagaimana anak seusia itu sudah mengalami kekerasan seksual didalam rumahnya sendiri.

__ADS_1


"Apa ?? Jadi itu alasan dia dibuang ??" Haidar sama sekali tidak percaya.


"Kemungkinan Haidar. Dokter bilang Anus Imel juga bengkak, ada luka disekitarnya.. Imel harus dioperasi, namun pembengkakan dijantungnya sudah parah, Ibu harus apa.."Ucap Ibu Lidia penuh kekalutan.


"Tenang buk.. Tenang ya.. Haidar akan urus semuanya.. Ibu yang tenang ya.."bujuk Haidar.


"Iya buk.. Aneet pasti juga akan ikut membantu.."tambah Aneeta. Ibu Lidia mengangguk dengan masih berlinang air mata.


.


.


Aneeta keluar dari ruangan rawat Imel saat ponselnya berdering beberapa kali.


Saat melihat layar ponsel, Aneeta nampak kesal sekali. Ternyata Akmal.yang menghubunginya, pasti karna akan menanyainya layaknya seorang penjahat saja. Dengan malas Aneeta mengangkat panggilan itu.


"An.. Mama Marimar sudah sampai Indonesia. Dia ada dirumah sakit Pelita bersama Papa.. Aku sedang dijalan mau kesana, jika kau bisa datanglah, papa ingin bertemu denganmu juga."Ucap Akmal.


Tumben sekali tidak menanyakan keberadaan Aneeta.


"An.. Aneeta ?? Kau mendengarku ??" tegur Akmal.


"Oh.. Iya, Em.. Kebetulan aku juga dirumah sakit pelita. Ruanga berapa ??" Timpal Aneeta.


"kau dirumah sakit ?? Siapa yang sakit ??" tanya Akmal.

__ADS_1


"Emm.. Adiknya teman. Ruangan berapa mama dan papa ??" tanya Aneeta lagi.


"Lantai 10 ruangan class 1. Kau duluan saja"Balas Akmal.


"Baiklah.. Aku akan kesana dulu.."Aneeta lalu mengakhiri panggilannya.


Aneeta kembali masuk dan berbisik pada Haidar untuk meminta ijin.


"Pergilah.. Maaf ya, aku tidak bisa ikut. Aku harus menunggui Imel.."Ucap Haidar dengan suara pelan.


"Tidak apa-apa.. Nanti aku akan menemanimu disini setelah aku bertemu mama dan papaku. "Balas Aneeta


Haidar mengangguk mengerti. Tak lupa ia tersenyum pada Aneeta sebagai pelepas kepergian Wanita itu.


.


.


Aneeta tiba diruangan yang dimaksud Akmal. Saat hendak masuk, Akmal ternyata baru saja sampai.


"Oh.. Kau cepat sekali datangnya ??" Tegur Aneeta .


"Tadi kebetulan aku ada jumpa klein didekat sini. Ayo.."Ajak Akmal yang mengetuk pintu dan segera membuka pintu Itu untuk masuk Aneeta pun turut mengekor dibelakang Akmal.


.

__ADS_1


.


__ADS_2