
.
.
.
Saat malam menjelang, Aneeta Akmal dan Ibu Niken menikmati makan malam bersama. Tidak ada yang bersuara, hanya suara sendok yang bertabrakan dengan piring sebagai tanda acara makan malam tengah berlangsung.
Akmal sesekali melirik Aneeta, namun Aneeta seolah tak menyadari hal itu.
Merasa diabaikan membuat Akmal kesal sekali.
Keheningan mereka dikejutkan dengan kedatangan mobil Yang Aneeta yakini adalah Haidar.
"Siapa datang malam-malam begini ?? Toko kan sudah tutup..??" tanya Akmal.
"Coba kau lihat An.."ibu Niken menyuruh Aneeta.
"baik buk.."Aneeta yang memang faham suara mobil Haidar segera berlari keluar. Ia juga cukup heran tanpa mengabari Haidar datang malam-malam seperti itu.
Ceklek...
dan benar saja, Haidar datang namun tidak sendiri. Ia bersama Ibu Lidia. Aneeta sumringah sekali menyambut.
__ADS_1
"Buk Lidia..."Aneeta berlari kecil mendekati Ibu Lidia.
"Hay An..Maaf mengganggu malam-malam.."Balas Buk Lidia.
"Tentu tidak buk.. Mari silahkan masuk.."Ajak Aneeta seraya menggandeng lengan Ibu Lidia. Haidar pun hanya menggelengkan kepalanya pelan, saat Aneeta melupakan dia.
Nampak Ibu Niken dengan Akmal dibelakangnya turut kedepan.
"Siapa An ??" tanya Ibu Niken.
"Haidar dan Ibunya Buk.."Balas Aneeta saat masuk kedalam.
"Oh.. Silahkan duduk.. Maaf, saya tidak tau jika tamu penting yang datang.."Ibu Niken terlihat bersalaman dengan Ibu Lidia.
"Maafkan kami yang datang mendadak tanpa memberi tau.."balas Ibu Lidia.
Setelah berbincang santai Ibu Lidia mengungkapkan niatnya datang.
"Begini buk Niken. Saya kemari ini atas permintaan Anak asuh saya Haidar, Dia berniat meminta ijin pada Ibu untuk melamar putri Ibu Aneeta."Ungkap Ibu Lidia.
Sontak Aneeta sangat terkejut. Bahkan Haidar tidak memberitau dia sebelumnya. Aneeta menatap Lekat Haidar, Namun Haidar hanya membalas dengan senyuman saja.
Sementara Akmal jangan ditanya lagi. Ia sudah terlihat kesal dan marah.
__ADS_1
"Sebenarnya saya cukup terkejut, tapi Saya sebagai orangtua hanya bisa merestui jika memang keduanya sudah sama-sama siap buk.."Tutur Ibu Niken dengan santai pula.
"Memang Haidar sengaja tidak bicara dengan Aneeta, Ia memilih langsung meminta ijin pada Ibu.."Balas Ibu Lidia.
"Lamaran macam apa yang mendadak seperti ini ?? Iya kalau Aneeta mau ?? Kalau tidak bagaimana ??" Cerocos Akmal.
Aneeta seketika melayangkan tatapan tajam pada Akmal. Namun Akmal nampak tak peduli. Ucapannya barusan adalah ungkapam kemarahan dia.
"Kalau tidak mau juga tidak apa-apa, pasti kami menghargai keputusan itu. Kami ini berniat baik tuan. dan kami juga sangat menghargai keputusan Aneeta. Haidar dan Aneeta sudah menjalin hubungan. Memang belum lama, tapi saya memang menyarankan agar mereka segera memikirkan masa depan. Haidar sudah lebih usianya untuk kearah sana."Terang Ibu Lidia dengan bijak.
"Iya. Saya mengerti buk Lidia. maaf putra saya terlalu posesif terhadap adiknya."balas Ibu Niken.
ibu Niken menatap Aneeta diikuti yang lain. "Nah An.. Sekarang jawablah, Lamaran dari Haidar mau kau terima atau tidak ?? ungkapkan apa yang kau rasakan dan Mantapkan hati dulu. Agar kau tidak menyesal."
Aneeta saling tatap dengan Haidar. Senyuman Haidar seolah menjadi semangat bagi Aneeta. Hingga dengan mantap Aneeta menjawab.
"Iya. aku menerimanya buk.." balas Aneeta dengan jelas dan lantang.
Hsenyum Haidar semakin lebar tanda luapan kebahagiaannya.
Sementara Akmal langsung berdiri dari duduknya dan keluar dari rumah Ibu Niken.. Hatinya panas sekali. Ia cukup tidak terima dengan keputusan Aneeta.
.
__ADS_1
.
.