
.
.
Kebahagiaan yang telah diimpikan dan ditunggu Aneeta dan Akmal ternyata menjadi sebuah pesta air mata dan kesedihan.
.
.
Ibu Niken tertunduk setelah menjelaskan semuanya pada Aneeta. Sungguh sesuatu yang begitu menyakitkan sekali.
Tak lama, baik Fairuz dan mama Marimar masuk keruang rawat Aneeta sementara Akmal.masuk terakhir kali ia juga tak bisa mengangkat wajahnya. Rasanya ia ingin menghilang sementara waktu untuk menerima kenyataan pahit ini
"Kau sudah sadar Nak ??" Marimar menyapa.
Aneeta hanya mengangguk dan menahan air matanya.
Hening dan begitu canggung, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Semua nampak diam dan tidak tau harus berbicara apa.
Ibu Niken juga Hanya tertunduk dan tetap pada posisinya duduk membelakang Marimar dan Fairuz.
__ADS_1
"Tolong biarkan Aneeta istirahat dulu nyonya Marimar."Ucap Ibuu Niken.
Marimar cukup terkejut, Ibu Niken langsung menyebutnya seperti itu.
"Niken.. Aku berhak disini. Aku Ayahnya. Kau jangan menghilangkan aku begitu saja."tambah Fairuz.
"Tidak ada yang menghilangkanmu. Tapi untuk saat ini, Biarkan Aneeta menerima semua kenyataan ini. Kalian pergilah."Pinta Ibu Niken seraya menatap Aneeta yang terus menunduk.
Marimar tidak bisa memaksa. Ia memilih memutar tubuhnya keluar terlebih dulu. Lalu kemudian Akmal. Ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan Aneeta tak mau menatapnya, Seakan Aneeta belum bisa menerima semua ini.
Tinggallah Fairuz yang masih bertahan disitu. Entah maunya apa pria itu, Namun tatapannya terlihat penuh keseriusan.
Ibu Niken kembali menitikkan air mata, Sementara Aneeta menatap lekat pria yang katanya adalah Ayahnya itu.
"Jangan ceritakan masa lalu disini. Aku tidak mau ibuku menangis terus. Lakukanlah apapun yang ingin anda lakukan. Aku tidak akan berbuat apa-apa lagi. Tapi aku mohon, berhenti mengganggu hidup ibuku."Balas Aneeta dengan sungguh-sungguh.
"Kenapa kau bicara seperti itu Nak ?? Kau tidak mau kita berkumpul layaknya sebuah keluarga ??" Timpal Fairuz.
"dengan mengorbankan keluargamu yang lain ??"Sanggah Aneeta dengan cepat.
"Selama ini kami sudah cukup bahagia tanpa anda. jadi biarkan kami saja yang menjadi korban anda selama ini, Jangan korbankan keluarga lain hanya untuk sebuah kebersamaan yang sama sekali aku tidak mau."Ucap Aneeta dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Ibu Niken menatap Aneeta yang begitu tegas bicara pada Ayahnya.
"Sayang.."
"Iya Buk. Aku masih ingat, dia tetap Ayahku sampai kapanpun. Aku tidak akan lupa hal itu. Dan aku tidak akan lupa semua yang terjadi hari ini."Balas Aneeta.
"Silahkan anda pergi. Biarkan ibuku tenang dan tidak menangis lagi."Aneeta mengusir Fairuz.
Fairuz tak bisa berkata apa-apa lagi. Aneeta nampak sekali masih tak menyukai kebenaran ini, Hingga akhirnya Fairuz memilih keluar dari ruangan rawat Aneeta.
Tak sengaja diluar ruangan Fairuz bertemu ketiga teman Aneeta. Tanpa menyapa dan bertanya, Fairuz melewati tiga wanita itu.
"Itu benar Ayahnya Aneet ?? Yanga juga Ayahnya pak Akmal ??" Caca menunjuk saat fairuz sudah cukup jauh
"Iya. Kasihan sekali mereka.. Padahal mereka sangat cocok.."balas Mely.
"ayo kita lihat keadaan Aneet saja. dia butuh dukungan kita disaat seperti ini.."Ajak Zia yang masuk terlebih dahulu, lalu diikuti Caca dan mely.
.
.
__ADS_1