Cinta Sedarah

Cinta Sedarah
Heran aku tau dari mana


__ADS_3

.


.


"Kakak !!!" protes Aneeta saat ternyata ia hanya dikerjai oleh Haidar, agar haidar bisa mencuri pipi Aneeta untuk dicium.


Tawa Haidar seketika pecah. Bahkan dia sampai memegangi perutnya.


Aneeta memanyunkan bibirnya dengan wajah memerah.


"Maaf..maaf.. Habisnya kau tidak mau merubah panggilanmu sih.."Ucap Haidar.


"Kita fikirkan dulu panggilan apa yang cocok untuk kakak.. Jangan suka curi-curi ciuman ya.. Awas saja berani mencuri sama orang lain.."Celoteh Aneeta.


"Tentu saja beraninya hanya denganmu.. Kekasihku.."Balas Haidar


Aneeta kembali bersemu merah pipinya. "Aaahhh.. Kakak, pulanglah sana.. Kau selalu mengejekku ??!"


"Baiklah.. Sampai jumpa besok.. Segera tidur, jangan mainan ponsel.."Akhirnya Haidar menurut untuk segera pulang.


Aneeta mengangguk dan memperhatikan Haidar yang masuk kedalam mobil dan segera pergi dari sana. Hanya lambaian tangan keduanya berbalasan.


"Hati-hati dijalan.." pesan Aneeta saat mobil Haidar mulai melaju.


Seperginya mobil Haidar Aneeta segera masuk kedalam rumahnya. Namun baru saja Aneeta hendak melangkah, lengannya sudah dicekal oleh seseorang, Awalnya Aneeta begitu terkejut, namun ia langsung kesal sekali saat Akmal lah yang memegangi lengannya.

__ADS_1


"Kak Akmal apaan sih !! Lepaskan aku !!" Ronta Aneeta


"Kita perlu bicara !!"balas Akmal.


"Bicara ya bicara saja.. !!? Kenapa harus seperti ini !!" Aneeta menghempaskan tangan Akmal.


"Kau ini sulit sekali diberitau ya ??! Aku kan sudah bilang jangan terlalu dekat dengan pria itu, Kau itu belum terlalu mengenal dia ??!! Apa kau tau latar belakang dia seperti apa ??!! Apa kau tau dia itu anak seorang penjahat !!! Bisa saja kau akan dimanfaatkan habis manis sepah dibuang !! sadarlah Aneeta.." Luapan emosi Akmal tercurah.


Aneeta tersenyum tak percaya. "Kau yang sama sekali tidak tau apa-apa kak.. aku sudah bilang kan, berhenti mencampuri urusanku !!! Aku mengenal lebih dalam siapa Kak Haidar itu, Jadi jangan coba menghasutku dengan kata-kata kotormu itu !!!" Sentak Aneeta.


"Siapa yang menghasutmu !!!? Aku bicara apa adanya, Papanya Haidar itu...-"


"Seorang Mafia dan sudah meninggal. Ingat ya, papa angkat. Bukan kandung. Karna Kak haidar sejak bayi tinggal disebuah panti asuhan."Ralat Aneeta dengan cepat.


Akmal seketika terdiam "dia tau dari mana ?? Batin Akmal.


"Lagian memangnya kenapa kalau dia bagian keluarga Mafia ?? Aku bahkan sama sekali tidak keberatan ??!! Bahkan Ayah saja juga setuju jika kami menikah secepatnya. Lalu kenapa kakak yang repot mencegah dan menghasutku !!!?"cercah Aneeta dengan segala uneg-unegnya.


"papa..??" Akmal tambah tak percaya.


"Iya.. aku tadi menjenguk Ayah bersama kak Haidar. Ayah sangat senang karna pilihanku tidak salah."Ucap Aneeta memperjelas.


"Kak.. Hentikan mengurusi hidupku. Kita tidak bisa bersama, sadarlah akan hal itu, tata kehidupan barumu, dan kau akan bahagia nanti.."Tambah Aneeta.


Akmal bukannya mendengarkan malah langsung meninggalkan Aneeta didepan pintu. Akmal pun memutar mobilnya dan pergi dari sana membawa kekecewaan.

__ADS_1


.


.


Ceklek...


Fairuz langsung menatap kearah pintu. Senyumnya terbit saat melihat Ibu Niken masuk bersama Marimar.


"Akhirnya kalian datang.. Aku fikir kalian akan membalas perbuatanku dulu.." ucap Fairuz.


"Kami tidak sekejam itu."balas Ibu Niken.


"Niken.. Terima kasih sudah mau menjengukku.."timpal Fairuz.


"Sama-sama.. Semangatlah sembuh kau masih punya istri yang harus kau bahagiakan, setelah sekian lama sudah kau sakiti." tutur Ibu Niken.


"Em.. Saya permisi dulu ya.."Marimar tak ingin mengganggu percakapan kedua orang disana.


"Jangan pergi Nyonya. Tetaplah disini. Jika anda pergi, saya juga akan pergi. Saya kemari karns memenuhi permintaan Anda Nyonya."cegah Ibu Niken.


"Niken.."Fairuz menyela.


"Kita sudah berakhir. Karna kita tidak memiliki ikatan. Istri sah mu adalah Nyonya Marimar. Itu kenyataannya. Aku sudah memaafkan semua yang kau lakukan padaku, jadi berhentilah merasa bersalah, Kita hanya terikat karna anak-anak. Selebihnya disisa usiamu, bahagiakanlah Nyonya Marimar, yang sudah banyak menerima kesedihan." Terang Ibu Niken Hingga Fairuz dan Marimar sama-sama menangis.


.

__ADS_1


.


__ADS_2