
.
.
"Tuan.. Tolong kontrol emosi anda.."bisik Coky yang setia disisi Akmal.
"dan kau ingin aku diinjak-injak mereka ?!!"Sentak Akmal sembari melayangkan tatapannya pada Coky. Coky pun seketika menunduk.
"Dengar satu hal !!! Kalian fikir saya akan menghalangi keinginan kalian untuk pergi ??!!! Kalian salah !!!" Suara lantang Akmal terdengar menggema.
"Ambil saham kalian dan pergi dari kantorku !!! Tikus menjijikkan seperti kalian tidak akan berguna juga jika lama-lama disini !!!" Tambah Akmal.
Semua nampak terkejut. atasan mereka bicara seperti itu ?? Benarkah itu ??
"Kak Coky !! Keluarkan semua saham mereka hari ini juga !!! Aku tidak butuh tikus yang hanya ingin disini saat aku berjaya saja !!" Perintah Akmal yang tanpa pemisi langsung keluar dari ruangan itu.
Coky ingin sekali menahan Akmal namun apalah dayanya yang hanya seorang asisten saja.
Marimar yang menguping sejak tadi buru-buru bersembunyi saat Akmal keluar dengan wajah masamnya.
"Astaga.. Bagaimana ini ?? Jika Fairuz tau, dia pasti akan bertambah drop..Akmal, kenapa kau jadi sepert ini Nak.."Gumam Marimar penuh rasa kawatir.
.
.
Uhukk !!
Uhukk !!
Haidar buru-buru menyodorkan air pada Aneeta yang tersedak saat mereka menikmati makan siang bersama.
"sayang pelan-pelan.."ucap Haidar seraya membantu Aneeta minum.
Aneeta mengatur nafasnya. Entah mengapa tiba-tiba dia jadi gelisah sekali.
"Kau kenapa ?? Sakit ??" Tanya Haidar penuh kawatir.
Aneeta segera menggeleng. "Tidak.. Mungkin aku terlalu cepat makannya.." elak Aneeta.
__ADS_1
"pelan-pelan saja. Tidak ada yang minta juga.."Timpal Haidar.
"Maaf.."
"Kenapa malah minta maaf ??"
Aneeta tak menjawab. Ia hanya mengulas senyum saja.
"Jangan suka bicara setengah-setengah.. "ucap Haidar.
"Iya..iya.. Boleh aku lanjut makan ??" canda Aneeta.
Haidar tersenyum lebar dan mengusap surai rambut Aneeta penuh kasih sayang dan Cinta. "Lanjutkan saja. Habiskan kalau bisa."
"Kau mau aku gendut ??" balas Aneeta.
"Ya.. Sepertinya kau akan lebih seksi jika sedikit gendut."Canda Haidar.
Aneeta memanyunkan bibirnya hingga membuat Haidar tertawa lepas. Sangat lucu sekali.
.
.
"Nyonya.."Coky hendak berdiri namun Marimar sudah lebih dulu duduk dihadapannya.
"Coky. Apa kau akan menuruti keinginan Akmal ??"Marimar langsung bicara.
"Mau bagaimana lagi Nyonya. Tuan sudah menentukan."Balas Coky.
"Tapi bagaimana dengan perusahaan ?!!! Kita akan bangkrut !!!" Timpal Marimar.
Coky hanya terdiam.
"Hah.. Kenapa putraku jadi seperti ini Tuhan.."Marimar mengusap wajahnya dengan kesedihan.
"Nyonya.. saya ada sedikit saran."Ucap Coky.
"apa ?? Kenapa tidak segera kau lakukan ?!!" Balas Marimar.
__ADS_1
"Mintalah Nona Aneeta membujuk tuan Akmal. hanya nona Aneeta yang bisa meluluhkan hati tuan Akmal."tutur Coky.
"Kau sudah gila ??! Itu saja saja membuat Akmal mengharapkan Aneeta lagi !!"Timpal Marimar dengan rasa tak percaya.
"Hanya itu cara yang saya yakini bisa dipakai Nyonya.."
"Tapi itu cara yang salah. Akmal masih sangat mengharapkan Aneeta, Kau pasti tau itu.."Ucap Marimar dengan penuh frustasi.
"Saya tau Nyonya. Bahkan Tuan masih begitu terobsesi dengan Nona."Balas Coky. Marimar hanya mampu mendesah kasar. apa yang harus ia lakukan sekarang, marimar tidak tau.
.
.
Sore hari Haidar mengantar Aneeta pulang, Setelah mampir menyapa Ibu Niken, Haidar berpamitan pulang. Lambaian tangan Aneeta mengiringi kepergian mobil Haidar. Tak berapa lama saat Aneeta hendak masuk kedalam rumah, terlihat mobil Akmal berhenti didepan rumah Ibu Niken.
Aneeta menghentikan langkahnya menatap Akmal yang benar adanya turun dari mobil.
Saat Aneeta hendak masuk, Akmal segera mencegahnya.
"An, tunggu !!"
Meski malas, Aneeta tetap memutar tubuhnya menghadap Akmal.
"ada apa ??"
"Ikut aku."ajak Akmal.
"Kemana ??"
"Papa drop. Dia ingin bertemu denganmu."ucap Akmal.
Seketika wajah Aneeta berubah kawatir. "Kakak serius ??"
"Tentu saja. Ayo.."Ajak Akmal. Aneeta pun langsung mengekor dibelakang Akmal menuju mobil sampai lupa berpamitan dengan sang Ibu.
.
.
__ADS_1
.