
.
.
Hampir sepekan, Baik Aneeta maupun akmal sama-sama menyendiri dirumah masing-masing. Akmal juga tidak memeriksa kantor sama sekali.
Bahkan Rumah menjadi seperti kuburan karna Diamnya Akmal.
Marimar juga demikian, Meski Fairuz kembali kerumah itu, Marimar memilih menghindar saja. Terkadang jika Fairuz hendak mendebatnya, Marimar memilih pergi dan menginap diApartemennya saja.
.
.
Aneeta pun tak kalah menyedihkan. Meski sesekali Ketiga temannya datang menghibur dan mengajaknya jalan-jalan, namun tetap saja tak menghilangkan kesedihan dihati Aneeta.
Meski Aneeta menyibukkan diri dengan melayani pelanggan diToko kue ibunya, Tetap saja raut wajah Aneeta nampak sekali begitu tak bersemangat.
Ibu Niken yang melihat hal itu begitu kasihan. Pasti sangat sulit menerima kenyataan pahit itu secara tiba-tiba.
Ibu Niken kembali masuk kedapur Kuenya guna membuat pesanan yang telah menumpuk.
Hari itu Haidar datang ketoko kue Ibu Niken seperti biasa.
Chika begitu bersemangat menyambut. "Mas ganteng datang lagi.. Mau Cup cake lagi ??" tawar Chika dengan cepat.
"Iya.. Kau hafal ya ??" balas Haidar dengan ramah.
__ADS_1
"Tentu saja. Anda kan pelanggan setia toko kami.."Timpal Chika.
"Baiklah.. Bisa disiapkan ?? Saya sedikiy buru-buru."Pinta Haidar.
"Ohh.. Iya.. Tunggu sebentar ya.. Silahkan bayar dengan mbak Aneeta dulu..saya siapkan Cup cakenya."Balas Chika dengan senyum genitnya.
Haidar hanya tertawa geli melihat aksi gadis itu. Ia kemudian menuju meja kasir. Nampak Aneeta yang masih betah dalam dunia lamunannya.
"permisi.."
Aneeta masih tak merespon.
Haidar semakin mendekati meja kasir. "Permisi.."Haidar menambah suaranya.
Aneeta seketika terperajak. Ia buru-buru mengusap air mata yang hampir terjatuh. "Iya.. Oh.. Maaf, saya tidak dengar."Aneeta segera menatap kearah lain Agar matanya yang merah tak terlihat.
"Saya mau bayar cup cake, 50 cup."Haidar mencoba tak banyak tanya.
"Oh.. Iya, Baiklah.."Aneeta mengetik beberapa lalu memberikan struk pada Haidar.
Haidar pun segera mengambil debit cardnya dan membayarnya.
"Maaf sebelumnya jika pelayanan saya sedikit terlambat."Ucap Aneeta seraya menyodorkan kembali card debit milik Haidar.
"Tidak apa-apa. anda sangat profesional kok Nona."Balas Haidar yang menerbitkan senyum dan kemudian memutar tubuhnya menghampiri Chika yang sudah siap dengan cup Cake pesanannya.
Aneeta bisa melihat Haidar yang tetap menghormati Chika yang nampak genit padanya. Sedikit membuat Aneeta terhibur, apalagi Kelucuan Chika yang terus mencuri-curi kesempatan dekat dengan Haidar.
__ADS_1
.
.
Malam menjelang. Makan malam sudah disusun Ibu Niken. Aneeta pun duduk saja tanpa bicara. Inilah aneeta dalam sepekan ini, Jadi tidak banyak bicara.
Ibu Niken sesekali menatap Aneeta lalu saat sudah duduk, Ibu Niken mulai bicara.
"Jika kita pindah. Apa kau mau ??"
Aneeta seketika menatap sang Ibu. "Kenapa pindah buk ?? Usaha ibu sudah cukup terkenal disini ??"
"Tapi Ibu tidak mau kau bersedih terus.."Timpal Ibu Niken dengan tatapan pedulinya.
Aneeta seketika tersenyum "Aku sudah tidak sedih kok buk..Aku hanya masih berusaha menyesuaikan diri."
"Tapi Ibu bisa melihat dari sorot matamu Nak.. Bahkan Aneetanya Ibu yang periang seolah menghilang."Sanggah Ibu Niken.
Aneeta menjadi merasa bersalah. Seharusnya ia tidak begini. Hingga membuat sang Ibu begitu memikirkannya.
Aneeta menggenggam jemari Ibu Niken seraya berkata. " Buk.. Maaf kan Aneeta ya yang membuat Ibu kefikiran. Aneeta janji mulai hari ini Aneeta akan melupakan semua kesedihan ini. Bantu Aneeta bangkit ya Buk.. Ibu tidak usah repot memikirkan untuk pindah, Usaha Ibu sudah lebih maju disini. Aneeta akan berusaha untuk lebih lapang dada. Dan akan memulai lembaran baru."
Ibu Niken seketika memeluk Aneeta dengan erat. "Kau pasti bisa anakku..kau pasti bisa.."
.
.
__ADS_1