
.
.
.
Marimar tiba didepan toko kue dan rumah Ibu Niken.
Sambutan dari pegawai toko begitu ramah dan hangat sebab mereka mengenal betul siapa Marimar.
"Apa ibu Niken ada ??" tanya Marimar.
"Ada Nyonya.. Anda masuk saja.. Beliau didalam."balas Cika.
Marimar mengangguk dan langsung masuk.
Nampak Ibu Niken segera datang menyambut. "nyonya kapan pulang ?? kata Akmal anda diAmerika."
"Saya sudah kembali kemarin buk.. Bisa tidak panggil mama saja ??" pinta Marimar.
"maaf Nyonya.. Saya tidak bisa.. Maaf.."balas Ibu Niken.
Marimar hanya membuang kasar nafasnya.
.
.
"Diminum tehnya Nyonya.."Ibu Niken mempersilahkan.
"terima kasih.."Balas Marimar.
__ADS_1
"Toko kuenya berkembang sekali ya Buk Niken.. Tambah besar.."Ucap Marimar dengan senyum begitu bangga.
"Allhamdulillah.. Setidaknya saya punya kesibukan dirumah."balas Ibu Niken.
Marimar mengangguk mengerti.
"Emm.. Saya kemari karna ada niat sesuatu Ibu Niken.."Marimar mengungkapkan Niatnya.
"Ada apa Nyonya ??" Ibu Niken segera menanggapi.
Marimar mengatur nafasnya, Lalu segera memulai mencurahkan niatnya datang ketempat Ibu Niken.
"Buk.. Saya tau, bagaimana perasaan Ibu. Saya juga bingung bagaimana memintanya dari Ibu, Ingin sekali saya abaikan, tapi biar bagaimanapun dia tetap masih suami saya.."
Ibu Niken membalas dengan senyuman kecut.
"Fairuz terkena leukimia akut Buk Niken. Ia sangat ingin, disisa usianya, dia bisa bersama ibu Niken."Tambah Marimar.
"Hati anda terbuat dari apa Nyonya ?? Bagaimana bisa anda meminta hal seperti itu pada saya. Yang dulunya berhianat.."Ucap Ibu Niken sambil tertunduk menahan sedih.
"Untuk saat ini saya melupakan sejenak semua itu Ibu Niken. Anda juga tidak 100% bersalah. Saya memang istri sah Fairuz, Tapi saya tetap tidak bisa menempati hatinya sampai sekarang."balas Marimar suaranya nyaris bergetar, namun ia berusaha terus tegar juga.
"Jika begitu, jangan minta hal seperti itu pada saya Nyonya Marimar. Jangan membuat saya menjadi orang yang berdosa untuk kesekian kalinya."Tutur Ibu Niken.
Marimar malah menggenggam jemari Ibu Niken. "Sekarang saya sadar buk.. Cinta benar-benar tidak bisa dipaksa. Fairuz masih tetap mengharapkan ibu, Bukan saya. Saya akan iklas kali ini.. saya masih bertahan karna tidak mau jika keluarga tau masalah kami..Buk Niken.. Saya mohon sekali, Tolong kunjungi Fairuz.. Dia sudah tidak mau kemo dan melakukan pengobatan."
Ibu Niken mengusap air matanya yang mengalir disekitar pipinya. Jujur, dalam lubuk hati Ibu Niken juga masih mencintai Fairuz, pria pertama dan terakhir yang mengajarinya tentang Cinta, dan juga sebuah penghianatan.
.
.
__ADS_1
Aneeta kembali malam hari, sengaja karna Haidar memintanya untuk makan malam bersama. Merayakan hari jadian mereka.
"mau mampir ??" tawar Aneeta.
"Tidak usah.. Sudah terlalu malam. Toko saja hampir tutup.."balas Haidar.
Aneeta tersenyum.
"Sampai bertemu besok dikantor.. Kakak hati-hati ya dijalan.."pesan Aneeta .
"Sepertinya kita harus mencari panggilan baru. Rasanya tidak nyaman dipanggil kakak sama kekasih sendiri."ucap Haidar
"Jangan aneh-aneh. Kita ini bekerja bersama. Bagaimana kalau karyawan lain tau ??" TimpaL Malika.
"Biarkan saja. Memang kita ini pacaran kan..??" Haidar mencondongkan tubuhnya mendekati Aneeta, Aneeta yang reflek langsung menghindar.
Hal itu begitu membuat Haidar sangatlah terhibur. Karna ekpresi Aneeta yang sangat menggemaskan.
"Aduh..aduh.. Ini leherku kenapa ya ?? Sakit sekali..Aaakhhh !!" Haidar tiba-tiba memegai sebelah lehernya.
Wajah Aneeta berubah panik. "kenapa ?? Mana yang sakit ??"
"ini.. Leherku.. Akkhh !!"
Aneeta mendekati Haidar dan dia pun langsung memeriksa leher Haidar memeganginya.
Dan..
Cupp..
.
__ADS_1
.