
.
.
"Tua..-" Gland langsung memutar tubuhnya saat Masuk keruangan Haidar dengan tak sengaja melihat Haidar dan Aneeta tengah berciuman.
Aneeta sontak loncat dari pangkuan Haidar dengan wajah memerahnya yang sangat malu sekali.
Sementara Haidar Hanya menahan senyum lebarnya dan membenahi duduknya.
"ada apa Gland ??" Tanya Haidar memecahkan kecanggungan.
Gland berdehem lalu memutar tubuhnya menunduk. "Maaf tuan, saya tidak mengetuk pintu terlebih dahulu."
"Em.. Aku..aku permisi keruanganku..Aneeta pamit dengan wajah tertunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah layaknya kepiting rebus.
Aneeta berlari keluar dan langsung menutup pintu. Haidar hanya terus tersenyum melihat tingkah kekasihnya.
Gland melirik sekilas lalu kembali menunduk.
.
.
Aneeta mengusap dadanya beberapa kali. "Ya ampun malu sekali aku.."Aneeta menutup wajahnya.
"Nanti Gland bicara sama karyawan yang lain tidak ya ??" Aneeta bertanya pada dirinya sendiri.
"aahhhhh..."Aneeta memegangi kedua pipinya.
.
.
__ADS_1
"Ini tuan laporan kemarin yang anda minta.."Sekretaris baru Akmal menyodorkan berkas yang ia minta.
"Letakkan disitu."balas Akmal tanpa menatap wanita itu.
"Oh ya tuan.. Siang nanti anda harus bertemu klien dicafe kenangan."ucap Wanita itu.
"aku tidak pikun Sinta !!! Keluarlah !!!" bentak Akmal.
Wanita bernama Sinta itu segera keluar.
"Huh.. mentang-mentang bos seenaknya saja.."Gerutu Sinta.
Baru saja Sinta akan melangkah, Nampak nyonya Marimar datang.
"Selamat datang Nyonya.. Ada yang bisa dibantu ??" sapa sinta yang belum mengenal Marimar.
Marimar menatap Sinta dari atas hingga bawah pakaiannya modis namun tetap sopan. Seketika Marimar menerbitkan senyumnya.
"Iya Nyonya.. Saya sekretaris baru Tuan Akmal."Terang Sinta.
Marimar mengangguk, "Baiklah. Perkenalkan saya mamanya Tuan akmalmu."Marimar menyodorkan tangannya.
Sinta terkejut sekali, Lalu buru-buru menunduk memberi penghormatan setelah menjabat tangan Marimar.
"Maaf nyonya. Saya tidak tau.."
"Sudah..sudah... Jangan berlebihan, lanjutlah bekerja. Saya masuk dulu ya.."Marimar nampak begitu ramah pada Sinta.
"Bagaimana Ibu dan Anak bisa beda sifat seperti itu ?? Ibunya saja ramah sekali, Lah anaknya malah kayak singa.."Gumam Sinta setelah Marimar masuk. Ia pun segera menuju ruangannya tak mau ambil pusing.
Ceklek...
"Sinta aku sudah bilang aku ini tidak...-" Akmal mematap malas kepintu, dan Akmal langsung menghentikan perkataannya saat melihat sang mama berdiri sembari melipat kedua tangan didepan dada.
__ADS_1
"Akmal.. Apa begitu cara bicara dengan bawahan ??"Tegur Marimar.
"Mama.."Akmal segera berdiri menghampiri sang Mama.
"Maaf ma.. Aku fikir sinta tadi.."ucap Akmal setelah mecium tangan Marimar.
"Jadi Namanya Sinta ?? Katanya kau tidak mau pake sekretaris ??"Marimar duduk seketika.
"Aku lumayan kuwalahan ma.."balas Akmal.
"Kalau kau kuwalahan dan sudah dibantu jangan suka membentak bawahan seperti itu. Sesalahnya dia, dia itu juga manusia, bukannya dulu pengertian itu yang kau terapkan." Omel Marimar.
"Iya ma.. Maaf.."
Akmal hanya bisa pasrah. Tidak mungkin dia membantah ucapan mamanya.
"Mama kemari lalu papa siapa yang jaga ??"Tanya Akmal.
"Kau bilang sudah tidak peduli dengan papamu ??" timpal Marimar.
"Iya.. Memang. Tapi aku tidak sekejam pembunuh."Balas Akmal
Marimar tertawa seketika.
"Sayang.. Kau sadar tidak, sekarang kau itu jarang sekali tersenyum, dan mama merindukan saat itu."Ucap Marimar.
"Mungkin hanya perasaan Mama saja. Kerjaan Akmal cukup banyak. Jadi Akmal sulit sekali mengontrol diri. Apalagi kemarin hampir saja Aku kehilangan saham. Semua benar-benar menguras fikiranku.."Akmal bercerita.
"benarkah ?? bukan karna hal lain ??" tebak Marimar.
.
.
__ADS_1