
.
.
Akmal membanting ponselnya ditempat tidur saat ia sudah kesal karna tidak bisa menghubungi Aneeta. Niat Akmal tadi adalah ingin menuangkan kekecewaannya terhadap sang papa dengan berbagi pada Aneeta, namun ternyata tunangannya tidak bisa dihubungi.
Akmal membanting tubuhnya diranjang begitu saja seraya mengusap wajahnya sesekali.
Ia berusaha mengontrol diri agar tidak sampai berfikir buruk terhadap Aneeta.
"Semua karna papa..."Gumam Akmal yang menelengkupkan tubuhnya.
.
.
"Terima kasih Nona.. Sudah bersedia menemani anak-anak."Ucap Haidar.
"Sama-sama.. anda benar-benar baik sekali..Saya fikir kemarin benar kue ulangtahun untuk anak anda..ternyata untuk semua penghuni panti."Balas Aneeta
Haidar tersenyum lebar. "Saya hanya sadar. Dulu juga berasal dari tempat ini. Kami tidak tau kami lahir kapan, makanya saya menentukan hari dimana saya ditemukan sebagai hari lahir, dan anak-anak serta pengurus menyetujuinya. Makanya setiap Tahun saya merayakannya meski hanya sederhana seperti ini."Tutur Haidar.
Aneeta begitu terkejut. Bagaimana bisa anak dari panti menjadi sekaya itu. Melihat Mobilnya saja Aneeta sudah menebak jika Pria itu adalah orang kaya. Namun Aneeta tak mau terlalu tau.
__ADS_1
"Em.. Tuan. Saya permisi dulu. Soalnya sudah terlalu sore."Pamit Aneeta.
"Iya.."Haidar mengeluarkan amplop putih dari balik jasnya. "Ini tips dan bayaran tambahan dari saya. Sesuai janji."Haidar menyodorkan Amplop itu pada Aneeta.
"Terima kasih tuan.."Aneeta dengan senang hati menerimanya. Lalu segera Aneeta berlalu dari hadapan Haidar.
Haidar hanya menatap lekat kepergian Aneeta, "Kau pasti lupa padaku An, Kita dulu berteman saat masih kecil sekali.."Gumam Haidar lirih.
Aneeta nampak sudah memasuki taksi dan segera meninggalkan panti asuhan itu.
Didalam mobil ternyata Aneeta juga begitu terus memutari otaknya.
"mata pria itu ?? Aku seperti tidak asing.. Panti..panti.. Owww...Aneeta, Otakmu sudah terlalu banyak isinya, makanya kau sulit mengingat sesuatu.."Gumam Aneeta sendiri.
"Ya ampun.. Bagaimana telingaku sampai tidak dengar Akmal telfon ??!!" Aneeta kalang kabut. Ia segera menghubungi akmal kembali, Namun karna Ternyata Akmal ketiduran, Akmal juga tidak mengangkat panggilan dari Aneeta.
"Masa iya Akmal marah ?? Tidak mungkin, mungkin dia sedang mandi.."Ucap Aneeta sendiri.
Aneeta urung menghubungi Akmal. Ia memilih menatap keluar jendela. Ia berniat akan menghubungi akmal jika sudah dirumah.
.
.
__ADS_1
"Aaahhhhh !!!" lenguhan keras terdengar dari mulut Baby dan Fairuz saat keduanya sudah mencapai puncak kenikmatan. Iya, Fairuz dan Baby malah memadu surga dunia dihotel setelah Sambutan tidak enak mereka dapatkan dari Akmal.
Fairuz menghujani wajah baby dengan ciuman-ciuman sambil menunggu Cairannya masuk sempurna pada Rahim Baby.
"Wait Uncle.. Kau keluarkan didalam ??" tanya Baby saat sadar.
"Tenanglah baby..tidak ada masalah.."Balas Fairuz.
"No...aku tidak mau hamil dulu.."timpal Baby.
"Hanya sekali tidak akan langsung membuatmu hamil sayang.. Tenanglah. Kau sangat nikmat, Aku sampai terlupa.."Goda Fairuz seraya menoel hidung mancung Baby.
"Uncle kau nakal sekali..Tapi aku suka.. Uncle masih sangat perkasa untuk urusan ranjang.."Balas baby dengan genit.
"Anak nakal.. Aku fikir aku akan menerobos pertama kali, ternyata kau sudah berpengalaman juga ya.."Fairuz menoel hidung Baby lagi. Gelak tawa terdengar seketika.
"Uncle.. Usiaku sudah 23 tahun.. Tidak mungkin diusia segitu aku masih Virgin.."Balas Baby tanpa rasa malu.
"Baiklah karna kau sudah terbiasa. Kita ulang saja bagaimana ??" fairuz kembali menggagahi Baby, memulai adegan panas kembali. Tanpa memikirkan jika yang mereka lakukan adalah sebuah dosa besar.
...
.
__ADS_1