Cinta Sedarah

Cinta Sedarah
Kasihan sekali mereka


__ADS_3

.


.


Dua anak yang sedang dihibur anak-anak lain dan juga Haidar mulai bisa tersenyum dan bicara.


Aneeta menatap dari pintu bersama Ibu Lidia dengan penuh haru.


"Bagaimana mereka bisa sampai disini buk ??" tanya Aneeta.


"Mereka berdua ibu temukan didepan gerbang panti. Katanya Orangtuanya mau beli sesuatu dan menyuruh mereka menunggu disini. Tapi ternyata sampai malam orangtuanya tidak datang juga. Makanya ibu bawa mereka masuk. Saat Ibu lihat ditas yang ditinggalkan orangtua mereka, ada tulisan ' Rawat anakku, dan setiap bulan aku akan mengirim uang dipanti ini' didalam amplop putih berisi sejumlah uang. Ibu langsung menghubungi Haidar, Dan Haidar bilang untuk menyimpan uang itu dan jangan digunakan."tutur Ibu Lidia menjelaskan.


"Orangtua yang kejam sekali.. Bagaimana bisa mereka menitipkan anak tanpa bicara.."balas Aneeta.


"Itu masih mending Non, kebanyakan anak-anak. Disini ditinggal begitu saja sama orangtuanya sejak bayi dan tanpa keterangan."Timpal Ibu Lidia.


"Kasihan sekali mereka..Aku cukup prihatin mendengarnya." Aneeta kembali menatap kedalam


"Oh ya buk. Kalau tuan Haidar apa dulu juga berasal dari panti ini ??" Entah mengapa Aneeta begitu penasaran.


"Iya. Haidar memang tinggal disini dulu. Setelah dewasa ia ikut orang yang sekarang menjadi orangtua angkatnya. Dan menjadikan Haidar seperti sekarang ini. Ibu tidak tau seperti apa orangtua angkat Haidar, karna Haidar tidak mau memberitau apapun. Ia hanya bilang sama Ibu jika Ia akan membantu Ibu mengelola panti secara materi."terang Ibu Lidia.


Aneeta mengangguk mengerti. Jadi seperti itu.


"Nona ini pacarnya Haidar bukan ??" Sebuah pertanyaan yang mengejutkan Aneeta

__ADS_1


"Oh.. Bukan buk.. Saya ini sekretarisnya dikantor. Dan kebetulan tadi tuan Haidar belanja kuenya ditoko Ibu saya. Saya yang ingin ikut kemari.melihat wajah anak-anak, saya merasa sangat terhibur dan bahagia.."Tutur Aneeta.


"Ibu Fikir Nona pacarnya.. Soalnya Haidar itu sulit sekali mengenal wanita. Dan baru Nona yang diajak kemari."Balas Ibu Lidia.


Aneeta hanya mengembangkan senyumnya saja.


.


.


Saking senangnya, aneeta sampai lupa waktu. Apalagi anak-anak panti yang perempuan juga begitu antusias saat Aneeta mengajak mereka bermain sambil belajar.


Tawa canda terdengar sekali. Haidar pun turut tersenyum lebar. Setidaknya, haidar bisa membuat Aneeta tersenyum.kembali dan melupakan sejenak rasa sakitnya.


"Kau menyukai dia ya.."Ibu Lidia yang datang dari dapur dan membawa secangkir kopi untuk Haidar menegur.


"Selama ini Ibu tidak pernah melihat kau dekat dengan wanita, makanya ibu bisa menebak jika kau menyukai dia.."Ucap Lidia lagi.


Haidar hanya tersenyum.


lalu menyeruput kopi buatan Ibu Lidia.


"Ibu ingat tidak, dengan ggadis kecil yang aku bawa waktu usiaku 12 tahun ??" Haidar menoleh kearah Ibu Lidia.


Ibu Lidia terdiam seketika. Ia mulai mengingat-ingat namun entah mengapa Ibu Lidia tak mengingat apapun.

__ADS_1


"yang mana ?? Ibu kok lupa ??"


"Waktu aku diculik dan mau dijual"Tambah Haidar


"Owww iya.. Astaga, Ibu sampai lupa kejadian itu.. Iya..iya, Ibu ingat. Gadis itu masih berusia 7 tahun kan katamu.."Ibu Lidia langsung mengingatnya.


"Iya. Kami sama-sama diculik. dan Almahrum Papa yang menyelamatkan kami.."Haidar mengingat.


"Memang kenapa dengan gadis itu ?? Kau sudah menemukan dia ?? Apa kau masih terikat janji konyolmu sendiri yang tidak akan menikah jika tidak dengan gadis itu ??" Ibu Lidia begitu serius.


"Tentu saja buk. Aku masih memegang janjiku itu."Balas Haidar dengan cepat.


"Tapi Nak, Kalian kan sudah terpisah cukup lama. Dan lagi, kau saja tidak tau dimana tempat tinggal gadis itu ??!!"


"Aku sudah menemukan dia Buk.."


"Benarkah ??"


"Iya.."Haidar menatap kembali kearah Aneeta.


"Jangan bilang jika..-"


"Iya buk. Aneeta adalah gadis kecilku dulu." Ujar Haidar dengan jelasnya, Ibu Lidia sangatlah terkrjut mendengar itu.


.

__ADS_1


.


__ADS_2