Cinta Sedarah

Cinta Sedarah
Ada perlu apa


__ADS_3

.


.


.


"Buk, Kenapa sih Aneeta terus saja menghindar dariku ?? Aku sudah mulai bisa menerima loh dengan status kami yang saudara."Akmal menumpahkan kekesalannya dengan bertanya pada Ibu Niken.


"Ibu juga tidak tau Akmal.. Sebenarnya berulang kali ibu sudah katakan sama dia, Jika kalian harus lebih dekat karna kalian adalah saudara."balas Ibu Niken.


"Jika seperti ini terlihat sekali kalau aku sudah melukai hatinya.. Aku kan juga tidak tau buk, "Timpal Akmal.


Ibu Niken mengusap punggung Akmal guna meredam amarah putranya. "Sabarlah sayang.. Ibu akan coba bicara dengan dia.. Kau harus lebih dewasa, kau kakaknya."


"Aku juga harus menjaga dia kan buk ?? Aku tidak salah kan kawatir padanya ??" Akmal menatap sendu Ibu Niken.


"Tentu saja tidak. Asal semua harus dengan batas wajar. Aneeta sudah dewasa untuk hal-hal seperti itu. Kau sebagai kakaknya juga harus dewasa menyikapi keadaan."Nasehat Ibu Niken.


Akmal hanya menyandarkan kepalanya dipundak Ibu Niken. "Aku benar-benar pusing buk.."


"Tidurlah Nak.. Disebelah kamar ibu ada kamar kosong. Kau bisa tidur disana."Ucap Ibu Niken.


"Nanti Aneeta marah tidak ??"


"buat apa marah, tidak ada alasannya. Kau anak ibu juga,.."Balas Ibu Niken..


"Aku masih ingin begini."Akmal kembali pada posisinya bersandar dipundak sang Ibu.


.


.

__ADS_1


Aneeta melirik Nomer di sisi gerbang besar nan tinggi itu.


"Benar ini rumahnya ?? Wah.. Pantas saja dia jadi seorang CEO, dia sangat kaya..tapi bagaimana bisa ??" Gumam Aneeta


Tak lama penjaga nampak menghampiri Aneeta dan bertanya tanpa membuka gerbang.


"Ada apa Nona disini ??"


"Em.. Pak saya mau tanya. Benar ini rumah tuan Haidar ??"Tanya Aneeta memastikan


"Iya benar. Ada perlu apa ya ?? Tuan tidak bisa ditemui dulu."Balasnya.


"Em.. Saya sekretarisnya dikantor. Ee..sebentar.."Aneeta mengeluarkan tanda pengenalnya dikantor.


"Ini kartu kerja saya sebagai sekretaris tuan Haidar."


"Lalu ??"


"Saya kemari mau mengantar bubur ayam untuk Tuan Haidar. Beliau katanya sedang sakit. Soalnya tadi dikantor dia pingsan."Tutur Aneeta sedikit takut. Sebab tatapan penjaga sangat mengintimidasi.


penjaga itu segera membukakan gerbang. Aneeta baru bisa bernafas lega saat pintu sudah terbuka.


"mari Nona.."


Aneeta mengangguk dan segera mengekor penjaga itu.


Saat masuk keistana megah itu Aneeta begitu dibuat takjub.


Seorang pelayan datang menyambut penjaga dan aneeta.


"Siapa yang kau bawa ??" tanya pelayan itu.

__ADS_1


"Nona ini sekretarisnya tuan muda. Dia mau mengantar makanan."Ucap penjaga itu.


"Kau antar Nona ini bertemu tuan."Tambahnya.


"Owww.. Iya.." Pelayan beralih menatap Aneeeta. "mari Nona silahkan. Tuan ada dikamar."


"Apa sejak kembali dari kantor tuan Haidar masih lemah Bik ??" Tanya Aneeta dalam langkahnya.


"Iya Nona. Bahkan Tuan juga muntah-muntah terus. Dan tuan menolak makan."balas pelayan itu.


"Kenapa tidak dibawa kerumah sakit saja bik ?? Takut bahaya loh.."


"maunya sih begitu Non. Tapi tuan itu sangat susah sekali untuk berobat. Sejak dulu seperti itu."Balas pelayan itu lagi.


langkah keduanya berhenti didepan pintu kamar yang begitu besar. Dan segera Pelayan itu mengetuknya beberapa kali. Namun hening tak ada jawaban..


"Bik. apa tuan sudah tidur ??" Tanya Aneeta.


"belum lah Non. Bibi loh tadi baru kesini."balas pelayan itu sembari berusaha mengetuk pintu.


"Kita langsung masuk saja Nona. Sepertinya Tuan tidur."Ajak pelayan.


"eh.. Kalau sudah tidur ya biarkan saja.."


Brraakkk !!


Pelayan dan Aneeta terkejut sekali. Suara itu berasal dari dalam.


"Tuan.."


"Tuan.."

__ADS_1


.


.


__ADS_2