
.
.
Saat pintu terbuka, Mata Aneeta terbelalak kala melihat Haidar yang terjatuh didepan pintu Kamar mandi.
"Astaga Tuan.."pelayan itu berlari diikuti Aneeta.
"Kenapa bisa begini Bik.."Aneeta segera membantu pelayan membawa tubuh zhaidar ketempat tidur.
"Tuan...tuan sadarlah.."Aneeta berusaha membangunkan Haidar yang tak sadarkan diri.
Pelayan segera membalur kaki Haidar dengan minyak angin
"Bik.. Panggil dokter saja.. Tubuh tuan juga panas.."Ucap Aneeta masih dengan mimik wajah kawatirnya.
"Tapi Non.."
"Untuk sekarang ini yang paling penting bik.. Nanti biar saya yang tanggung jawab."sanggah Aneeta.
Akhirnya pelayan menurut dan memanggilkan Dokter.
Sementara SAneeta terus menyadarkan Haidar, Ia juga segera mengompres kening Haidar agar panasnya segera turun.
"Bagaimana sakit seperti ini kau masih tidak mau kerumah sakit.. "Gumam Aneeta. Saat tangan Aneeta memegangi pipi Haidar dan hendak menyudahinya, Tangan Haidar segera menahannya.
__ADS_1
Aneeta terkejut sekali. Apalagi kedua mata Haidar perlahan terbuka. Namun terlihat sangat lemah.
"Tu..tuan.." Aneeta memanggil Haidar.
"Jangan pergi... Aku mohon.."Ucap Haidar lirih. Lalu kedua matanya terpejam kembali. Namun tangannya tetap menggenggam jemari Aneeta.
"Aduh.. Dokternya lama sekali sih.."Gerutu Aneeta yang begitu sangat kawatir.
.
.
Sementara dirumah Ibu Niken, Akmal mondar mandir didepan pintu, sesekali ia melirik jam didinding, sudah hampir pukul 23.00 namun Aneeta belum juga kembali.
"Kemana dia pergi ?? Apa sejak dulu dia sering seperti ini ??" Gusar Akmal dengan terkaannya.
"Akmal.. Kenapa belum tidur Nak ??" tegur Ibu zNiken.
"Bagaimana aku bisa tidur buk, Aneeta sampai jam segini belum.kembali."Balas Akmal.
"benarkah ?? Tumben sekali.."Ibu Niken cukup terkejut.
"coba ibu hubungi Teman-temannya Aneeta. Apa Aneeta akan menginap dirumah temannya atau kemana.."Pinta Akmal.
Ibu Niken mengangguk, lalu kembali kekamar mengambil ponselnya. Saat membuka ponselnya, Ibu Niken membaca pesan singkat dari Aneeta.
__ADS_1
"Huh.. Syukurlah.. Ibu fikir kau kemana Nak.."Gumam Ibu Niken seraya mengetik balasan pesan untuk Aneeta.
Ibu Niken ke mbali keluar. "Akmal. Tidurlah, jangan ditunggu. Aneeta menginap dirumah temannya yang namanya Fia. Mereka sama-sama bekerja disebuah kantor. Jadi mereka mau menyelesaikan pekerjaan bersama."
"Apa tidak bisa besok dikantor ?? Maksudku, kenapa harus menginap disana ??!! Apa dia sengaja menghindariku ??" Akmal menerka.
"Tidak anakku, Dulu waktu Aneeta mau menyelesaikan skripsi juga begini. Bahkan dengan dua temannya lagi." balas Ibu Niken.
"Sudah. Istirahatlah, besok kau kan harus bekerja."Ibu Niken menuju Dapur guna mengambil air minum. Sementara Akmal yang kesal terduduk seraya terus berprasangka buruk. "Pasti dia menghindariku.."Gumamnya.
.
.
Atas permintaan Dokter yang tidak memperbolehkan Haidar sendiri membuat Aneeta berniat menjaga atasannya itu. Selang infus telah dipasang oleh dokter. Dan salah satu tangan Haidar terus menggenggam jemari Aneeta.
"Jika benar kau kakak baik itu. Aku benar-benar sangat beruntung. Kau selalu ada disaat Aku kesusahan, kemarin juga begitu. Saat aku butuh pekerjaan kau langsung menerimaku tanpa syarat."ucap Aneeta lirih.
"Tapi bagaimana bisa kau memiliki semua ini ?? Kau bilang dulu seorang yatim piatu ??"
"Bangunlah kak..Aku ingin mendengar semua ceritamu. Ingatanku buram sekali, aku tidak bisa mengingat dengan jelas masa lalu kita.."Lagi. Aneeta membisikan kata itu ditelinga Haidar.
"Bagaimana bisa kau mengenaliku, Bagaimana kau tetap menyimpan sapu tanganku, aku benar-benar sangat penasaran kak.."
.
__ADS_1
.