Cinta Sedarah

Cinta Sedarah
Ingin kemakam Ayah


__ADS_3

.


.


.


Meski hanya dihadiri segelintir orang, setidaknya acara tukar cincin itu berlangsung dengan lancar.


Kini Akmal dan aneeta telah resmi bertunangan. Selesai acara, semua menikmati hidangan dengan obrolan santai dan juga Candaan.


"Maaf Ibu Niken.. Em.. Papanya Aneeta kemana ya ??" Saat membantu Ibu Niken membereskan Piring kedapur.


Sesaat Ibu Niken terdiam. Namun dengan cepat ia tersenyum. "Sudah meninggal."


"Benarkah ?? Oww.. Maaf ya, saya tidak tau. Saya fikir sama seperti suami saya yang jarang pulang."Balas Mama Marimar.


"Tidak apa-apa. Memang suami mama kemana ??" Tanya Ibu Niken balik.


"Sekarang sedang diAmerika. dia mengembangkan perusahaannya disana. Makanya Yang disini Akmal yang memimpin. Terkadang saya kasihan sama Akmal Buk, Dia dituntut untuk menjadi pemimpin diusia muda. maklum papanya sangat keras didikannya."Tutur Marimar.


"Tidak masalah Ma, Asal Akmal juga bisa." Timpal Ibu Niken.


Perbincangan mereka berlanjut dengan sesekali candaan. Hingga malam semakin larut, dan Marimar serta Akmal berpamitan pulang.


"Terima kasih jamuannya Ibu Niken.. Lain waktu gantian ya kerumah kami.."Ucap Mama Marimar.


"Sama-sama.. kami akan tunggu Waktu itu.."Balas Ibu Niken. Akmal pun langsung mencium tangan Ibu Niken.

__ADS_1


Marimar dan Akmal masuk kedalam mobil mereka lalu pergi pulang.


"Cieee.. Udah dilamar nih.."Goda Caca..


"Caca. Apaan sih, Kau iri ??" balas Aneeta.


"Tentu saja.. Lihatlah jemariku masih kosong begini."Caca menunjukkN tangannya.


"Sudah..sudah. Ayo masuk..ini sudah malam juga loh.."Ajak Ibu Niken.


"Em.. Buk, aku dan Mely pamit pulang saja deh,"Balas Caca.


"Loh, nggak nginep ??"


"nggak ah buk, Mely pasti dimarahi sama mamanya nanti."


"Iya buk. Kami pamit ya.."Mely dan Caca mencium tangan Ibu Niken. Tak lama Chika juga ikut pamit untuk pulang. Saat semua pulang, Aneeta dan Ibu Niken masuk kedalam rumah.


Aneeta bergelayut manja dalam dekapan sang Ibu.


"Kau ini. Sebentar lagi mau menikah. Jangan manja-manja."Ucap Ibu Niken seraya mengusap rambut Aneeta.


"Ibu. Lalu jika aku menikah dan ikut Akmal Ibu bagaimana ??" Aneeta


"ya tidak bagaimana-mana. Kau juga kan masih dikota ini. Masih bisa kan mengunjungi Ibu."Balas Ibu Niken.


"Buk.. Boleh Aneet tanya ??" Aneeta tidur dipangkuan Ibu Niken.

__ADS_1


"Tanya apa ??"


Aneet terdiam sesaat. Meski ia tau pasti sang Ibu akan marah namun Aneeta tak bosa menanyakan hal itu.


"hey.. Kok malah melamun. Apa yang mau kau tanyakan ??" Tegur Ibu Niken


"Aku ingin kemakam Ayah.Dimana makamnya buk ??"


Ibu Niken langsung menghentikan usapan dikepala Aneeta. Entah akan sampai kapan Ibu Niken menutupi sebuah kebenaran yang menyakitkan itu.


Aneeta sontak duduk dan menatap sang Ibu.


Perlahan Aneeta menggenggam jemari Ibu Niken. "Aku tau pasti Ibu mau marah padaku karna bertanya akan hal ini. Tapi buk, Aku ingin sekali mengunjungi makamnya.. Aku ingin meminta restu padanya.."


Ibu Niken menatap lekat Anetta. "Bagaimana ibu bisa menunjukkan makam Ayahmu Nak, sedangkan Ibu sangat yakin dia masih hidup sampai sekarang."Batin Ibu Niken.


Ibu Niken membuang kasar Nafasnya. "berdoalah dari rumah saja. Ibu bahkan tidak tau dimana makam Ayahmu."Ibu Niken hendak berdiri dan pergi mencoba menghindar, namun Aneeta menahan tangan Ibu Niken.


"Buk.. Sekali saja.. Beritau Aneet.. Aneeta bukan anak kecil lagi,"Pinta Aneeta.


Buk Niken malah menangis seketika. Hal itu membuat Aneeta terkejut sekali. Ia segera memeluk sang Ibu dengan erat.


..


.


.

__ADS_1


__ADS_2