Cinta Sedarah

Cinta Sedarah
Tenang sayang


__ADS_3

.


.


"Tuan Haidar tadi memandangimu terus, Aku jadi tidak suka padanya."Ucap Akmal saat mereka sudah didalam mobil.


"Hanya memandang saja.. Dia itu kemarin baru memesan kue ulangtahun ditoko Ibu."balas Aneeta dengan senyumannya.


"Jadi kau sudah mengenal dia ??" Akmal nampak terkejut.


"ya..hanya kenal karna dia memesan kue saja. Selebihnya tidak tau.."Timpal Aneeta dengan cepat. Ia urung menceritakan tentang tadi siang, ia tidak mau Akmal malah salah faham.


"Oww.. aku fikir mengenalnya sangat jauh. Terlihat dia begitu dalam menatapmu."Balas Akmal lagi.


"itu hanya perasaanmu saja. Jangan terlalu difikirkan. Aku tidak akan berpaling darimu kok.."Ucap Aneeta tak lupa ia menatap lekat Akmal.


Akmal membalas dengan kecupan jarak jauhnya. Keduanya terus melaju untuk menuju rumah Aneeta.


Tiba dirumah Aneeta cukup terkejut. Rumah dan toko semua gelap padahal tidak ada pemadaman listrik.


"Akmal.. Kenapa rumahku gelap semua ?? ibu.."Aneeta buru-buru turun dengan semua ketakutannya.


Akmal mengekor dibelakang Aneeta berlari menuju pintu masuk.


"Ibu.. Buka pintunya buk.. Buk..ibu.."Panggil aneeta terus karna pintu ternyata telah dikunci.


Hampir setengah jam tidak ada jawaban sama sekali.

__ADS_1


"Bagaimana ini Akmal.. aku takut ibu kenapa-kenapa.."Aneeta nampak sekali kawatir.


"Tenang sayang.. Tenang dulu.. Coba aku dobrak pintunya ya.."Akmal menyuruh Aneeta minggir dan ia segera mencoba mendobrak pintu toko Ibu Niken.


Brakkk !!!


Akhirnya terbuka. Aneeta buru-buru mengeluarkan ponsel guna menjadikannya penerang. Akmal lebih dulu masuk, Dan mencoba waspada.


"Ibu.." Aneeta seketika memanggil Ibu Niken yang tertidur dilantai.


"Ibu.."Akmal turut duduk dan mencoba membangunkan iIbu niken.


"Ibu bangun buk.. Ibu.."Aneeta begitu kawatir sekali, Hingga Akmal segera membopong tubuh Ibu Niken dan buru-buru membawanya keluar menuju mobil untuk dibawa kerumah sakit.


Aneeta begitu syok sekali. Ia pun duduk memangku kepala Ibu Niken, dan Akmal segera membawa mobil menuju rumah sakit.


.


.


Akmal segera memeluk Aneeta guna memberikan ketenangan untuk tunangannya itu. "Tenang ya.. Ibu pasti baik-baik saja. Kita duduk dulu.."Ajak Akmal dengan penuh kelembutan.


Aneeta tak lagi bisa menyembunyikan kesedihannya, Dalam dekapan Akmal Aneeta terus terisak.


"aku takut ibu kenapa-kenapa.. Aku takut sekali.."


"Kita berdoa saja ya.."Balas Akmal..

__ADS_1


Tak lama pintu ruangan terbuka, nampak Ibu Niken didorong diatas brankar dengan masih memejamkan kedua matanya.


"Ibu..ibu.."Aneeta malah semakin tak karuan hingga saat dokter keluar terakhir Aneeta langsung memberondong dokter itu dengan pertanyaan.


"Dok.. Dokter bagaimana keadaan ibu saya ??!!"


"Nyonya baik-baik saja. Mungkin tadi beliau kelelahan atau sedang banyak fikiran jadi HB nya tiba-tiba turun. dan membuat dia sampai pingsan. Selebihnya semua baik. Tapi Nyonya masih harus dirawat sampai HB nya dipastikan sudah normal kembali."balas dokter itu.


Aneeta baru bisa bernafas lega saat mendengar penjelasan dokter.


"Terima kasih dok.."Akmal.yang membalas dokter.


"sama- sama. Saya permisi." Dokter itu segera berlalu dari hadapan Akmal.dan Aneeta.


"Sudah jangan sedih lagi.. Ibu tidak apa-apa kan..Ayo keruangan Ibu.."Ajak Akmal.


Aneeta mengangguk saja dan segera menuju ruangan rawat Ibunya.


Melihat wajah pucat Ibunya, aneeta masih sangat sedih. Akmal pun sampai tak tega meninggalkan Aneeta, Namun ponselnya terdengar berdering, Hingga Akmal memilih keluar ruang rawat dulu.


"mama ?? Ada apa dia menghubungiku ??" Gumam Akmal yang segera menggeser gambar hijau dilayar.


"Halo ma.. Ada ap-"


"Akmal segeralah pulang, papamu.. Papamu.."Belum sempat Marimar berkata, panggilan sudah diakhiri. Akmal menjadi kebingungan saat ia mencoba menghubungi balik malah tidak diangkat.


"Dari suaranya mama sangat ketakutan ?? Apa papa.." kemungkinan buruk terlintas dibenak Akmal seketika.

__ADS_1


.


.


__ADS_2