Cinta Sedarah

Cinta Sedarah
Keberatan tentu saja tidak


__ADS_3

.


.


Aneeta masuk kedalam rumah, dan ternyata Akmal sedang berbaring disofa sembari bermain ponsel.


Ibu Niken yang baru membereskan meja makan segera menyapa Aneeta. "Baru pulang Nak.."


"Iya buk.. Caca dan yang lain ngajakkin ngobrol terus.."Balas Aneeta yang langsung mencium tangan Ibu Niken.


Lalu Aneeta berinisiatif menyapa Akmal. "Kakak tidak tidur ?? Ini sudah malam loh.."


Akmal melirik Aneeta sekilas. "masih belum ngantuk.. Sebentar lagi aku tidur.."


"Oh ya kak.. Aku ingin bertemu mama Marimar. Apa bisa kau mengajakku bertemu dia ??" Aneeta duduk dihadapan Akmal. Akmal cukup heran, kenapa Aneeta begitu akrab dengan dia kali ini ??


"Em.. Itu, mama sedang menjaga papa yang sakit. Belum kembali. Nanti kalau dia sudah kembali aku akan atur waktu supaya kau bisa bertemu dengan dia."balas Akmal berusaha biasa.


"Ok.. aku kekamar dulu ya.. Buk, Aneet kekamar dulu ya.. Mau mandi.." Aneeta segera beranjak dari duduknya menuju kamar.


Ibu niken hanya membalas dengan senyuman saja, Saat Aneeta nampak sangat riang.


.


.


Pagi harinya, Aneeta nampak lebih sumringah dari semalam. Ia menikmati sarapan tanpa canggung seperti biasa.

__ADS_1


Akmal yang memperhatikan Aneeta hanya keheranan.


"Kakak kekantor tidak ??" Aneeta yang sudah selesai menikmati sarapan.


"Tentu saja.. Kenapa ??" Tanya Akmal.balik.


"Aku mau nebeng."Balas Aneeta tak lupa ia tersenyum sumringah.


Alis Akmal bertaut menjadi satu. Ada apa dengan anak ini ?? Batinnya.


"Biasanya kau dijemput bosmu itu kan ?? Tumben sekali kau mau ikut denganku ??" Akmal akhirnya mengatakan keheranannya.


"Tuan Haidar sedang ada urusan. Jadi tidak bisa menjemputku. Ya, aku fikir dari pada aku naik taksi terus, Tapi kalau kakak keberatan aku tidak masalah kok.."Tutur Aneeta dengan mudah


"Keberatan tentu saja tidak. Tapi sangat aneh didengar."Balas Akmal.


"Sudah..sudah.. Ayo aku antar.."Akmal segera berdiri menghindari tatapan Aneeta. Beralih pada Ibu Niken yang sejak tadi hanya sebagai pendengar.


"Buk, Akmal pamit ya.."Akmal.mencium tangan Ibu Niken.


"Iya.. Hati-hati jangan ngebut ya Nak.."Pesan Ibu Niken.


"Aneeta juga buk.."Aneeta mengikuti Akmal mencium tangan Ibu Niken. Ibu Niken membalas dengan anggukan. Akmal segera keluar dan Aneeta pun turut serta mengekor dibelakang Akmal.


Melihat Aneeta sudah mulai biasa,Ibu Niken sangatlah bahagia.


"Semoga keluargaku bisa seperti ini seterusnya.."batin Ibu Niken.

__ADS_1


.


.


Sepanjang perjalanan Aneeta sibuk berkirim pesan dengan Haidar. Ia lupa memberitau bosnya jika akan diantar Oleh Akmal. Aneeta tidak mau sampai Haidar berangkat menjemput dia, dan dia malah sudah tidak dirumah.


Sesekali Akmal.melirik Aneeta yang terus terfokus pada layar ponselnya sampai setengah jalan mereka menyusuri jalanan, Tak ada sepatah katapun obrolan antara mereka berdua.


"Kau sengaja ya, didepan Ibu kau berkata manis terhadapku ??"Akmal akhirnya membuka suara.


"Kenapa kakak bicara seperti itu ??" balas Aneeta dengan masih terus menatap layar ponsel.


"Dimobil saja kau tidak berani menatapku ??"timpal Akmal.


Aneeta membuang kasar nafasnya lalu segera menolehkan kepala menghadap Akmal


"Seperti ini ?? Lalu apa sepanjang jalan aku harus menatapmu seperti ini ?? Kepalaku bisa sakit menoleh kesamping terus.."Celoteh Aneeta.


Akmal merutuki dirinya, pertanyaan dia memang rada konyol jika difikir.


"Aku hanya ingin mencairkan suasana antara kita. pada kenyataannya kita ini saudar kembar, Jadi mau tidak mau harus kita terima. Aku juga sudah menghapus kenangan lama kita, dan memulai semuanya dari awal. Awal dimana aku punya saudara. Terserah kakak bisa menerima atau tidak. Tapi niatku ini benar-benar tulus.."tutur Aneeta.


Lidah Akmal seketika terkunci. Ia bingung hendak menjawab apa. Ingin rasanya ia berontak, karna selama ini Akmal belum.bisa melupakan cintanya terhadap Aneeta sebagai kekasih.


.


.

__ADS_1


__ADS_2