Cinta Sedarah

Cinta Sedarah
Sampah


__ADS_3

.


.


Fairuz tertunduk lemah tak berdaya. Ibu Niken juga tidak bisa mencegah Aneeta karna memang apa yang dikatakan Aneeta adalah benar semuanya.


"Pulanglah.Aneeta tidak mau mengurus semua ini."Pinta Ibu Niken.


"Andai saja dulu kau mau aku ajak pergi ke Amerika, Kita pasti hidup bahagia disana dengan kedua anak kita.."Balas Fairuz yang tidak mengindahkan permintaan Ibu Niken .


"Berhenti membahasa masa lalu lagi, Aku tidak mau menyakiti wanita lain untuk yang kesekian kalinya. Mungkin memang sudah takdirnya seperti ini."Timpal Ibu Niken.


"Niken..kau tau kan meski aku hidup bersama Marimar tapi hatiku tetap untukmu ??!!" Fairuz menatap lekat Ibu Niken yang segera mengalihkan pandangannya agar tak bertemu.


"Hentikan Fairuz. Aku bilang jangan bahas itu lagi. Jadikan semua ini pelajaran. Usia kita juga sudah tidak muda lagi, yang harus kita fikirkan adalah Anak, kau juga harus memikirkan Akmal, Karna dia adalah tanggung jawabmu."Sentak Ibu Niken.


Fairuz mendesah kasar. Ia mengusap wajahnya beberapa kali, lalu segera membereskan berkas diatas meja, dan berpamitan untuk pergi. Ibu Niken hanya mengiyakan saja tanpa berkata hal lain. Sepeninggal Fairuz, Ibu Niken mengusap dadanya beberapa kali sembari mengatur nafasnya.


Sesak sekali rasanya, namun Ibu Niken harus benar-benar kuat menghadapi semua ini.


.


.

__ADS_1


Sementara Aneeta yang ada dikamar, segera membereskan semua kenangan indahnya bersama Akmal.


Entah apa karna emosi pada Pria bernama Fairuz tadi, atau memang ia ingin melupakan hubungan istimewa mereka sebelumnya.


Setelah semua terkumpul dalam satu kotak besar, Aneeta mengangkatnya dan membawanya keluar.


"An.. Kau bawa apa itu ??" Tanya Ibu Niken saat mulai membereskan toko.


"Sampah Buk.. Aneet buang dulu ya.. Soalnya sebentar lagi Aneeta pasti banyak pekerjaan, dari kantor baru."Balas Aneeta tanps menghentikan langkahnya.


Ibu Niken hanya mengulas senyum.


Diluar, Aneeta memasukkan semuanya ketong Pembakaran, Ia pun dengan cepat membakar semua itu.


"Maafkan aku, Tapi aku rasa aku bisa terus terbelenggu dengan masa indah kita jika Aku masih menyimpan semua ini."Gumam Aneeta.


.


.


Frustasi dan tak bisa menerima kenyataan itulah yang kini mengubah Akmal sedrastis ini.


"Aahhhh.. Geli pak.." desis wanita yang ada dalam.pangkuan Akmal dimana Akmal terus bermain didada besarnya. Bahkan tangan Akmal sudah liar masuk kedalam rok pendek wanita itu. Menelusup mencari tempat semestinya.

__ADS_1


"Awww !!! Eeemmm..." wanita diatas pangkuan Akmal menggelincang tak karuan seperti cacing.


"Segera masukkan pak.. Aku sudah tidak tahan.. Emmm..aahhh.."bisik wanita itu yang segera mengangkat rok pendeknya dan Melepas **********. Ia pun membantu Akmal membuka celana Akmal hingga senjata Akmal tersembul seketika.


Baru saja Wanita itu hendak menempatkan senjata Akmal pada lubang miliknya, Tiba- tiba saja ada yang membuka pintu tanpa mengetuk.


Ceklek...


"Sialan !! Siapa yang berani menggangguku !!!" sentak Akmal kesal. Ia lalu menatap kearah pintu.


Betapa terkejutnya ia, Ternyata sang mama yang mematung dengan mata berkaca.


"Mama.."Gumam Akmal


"Aku masukkin ya pak.."Wanita dipangkuan Akmal tak.peduli pada siapa yang masuk. Ia sudah dikuasai Na f su hendak memasukkan senjata Akmal. Namun dengan segera Akmal mendorong tubuh wanita itu hingga wanita itu terjatuh.


"Aawwewww !!!"


Akmal buru-buru menutupi senjatanya yang masih menegang. Lalu segera berdiri.


"Ma.. Em.. Mama"


"Kau puas dengan apa yang selama ini kau lakukan Nak ?? Inikah yang mama Ajarkan padamu ??" Suara Marimar bergetar cukup hebat hingga siapa saja yang mendengar ikut merasakan kesedihan dihatinya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2