
.
.
Fairuz yang baru saja menikmati tubuh wanita simpanannya membuka ponsel yang sejak tadi berbunyi tiada henti. Awalnya ia ingin marah, Namun saat Marimar mengirim gambar Wanita yang akan menjadi istri Akmal beserta calon besannya, mata Fairuz membulat seketika.
"Niken.."Gumamnya.
Fairuz seakan tak percaya dengan apa yang dilihat. Ia kembali memperhatikan Gambar Akmal dan Wanita yang sangat diyakini Fairus adalah putri dari Niken.
"Ini anaknya Niken.. Jadi sebenarnya anakku Kembar ?? Astaga.. Tidak mereka tidak boleh menikah.."Fairuz beranjak turun dan mengambil handuknya.
Sebelum kekamar mandi, Fairuz menghubungi pengawalnya . "Siapkan penerbanganku hari ini juga. harus sampai segera dijakarta."Perintah Fairuz yang langsung membersihkan tubuhnya kekamar mandi.
Raut wajah penuh kawatir terlihat jelas pada Fairuz.
Bahkan sengaja Fairuz menyewa pesawat jet agar bisa segera sampai. Mengingat besok pagi acara akad nikah akan dilaksanakan.
"Aiisshh.. Apa dunia harus sesempit ini.. Kenapa mereka bisa berpacaran !!!"Umpat Fairuz saat memandangi gambar Akmal dan Aneeta.
Fairuz mencoba menghubungi Marimar, namun karna kondisi diJakarta tengah malam, Marimar sudah terlelap tidur.
Gagal menghubungi Marimar, Fairuz beralih pada Akmal. Akmal pun demikian, tak mau berlarut dalam kesedihan, Ia juga sudah terlelap dan mengheningkan nada panggilan ponselnya.
__ADS_1
"Aahhh sial !!! Bisa cepat tidak sih kita terbangnya !!!" Bentak Fairuz yang begitu tak sabar
.
.
Kebaya putih tulang yang menjuntai kebelakang, dengan payet mutiara nan indah dan mewah, begitu pas melekat ditubuh Aneeta. Perias sudah selesai merias Aneeta, Mereka semua pun menganggumi Aneeta.
Ibu Niken yang juga sudah berganti kebaya dengan warna senada dengan Aneeta tersenyum bahagia sekali melihat Aneeta telah siap.
"anak ibu cantik sekali.."Puji Ibu Niken saat memasuki kamar pengantin milik Aneeta.
Aneeta memutar tubuhnya, dan kemudian memeluk Ibu Niken. "Ibu.. Kenapa aku jadi nervous begini ya ?? Huh..."
"Tenangkan dirimu sayang.. Memang diacara seperti ini semua pasti merasakan hal yang sama. Tapi kau jangan kawatir, Ibu akan selalu mendampingimu.." Balas Ibu Niken memcoba menenangkan Aneeta.
Mereka semua yang juga sudah cantik-cantik menghampiri Aneeta dan Ibu Niken.
"Thanks.. Ya.. Kalian sahabat terbaikku.."Ucap Aneeta dengan tatapan sendu.
"Uluh..uluh.. Jangan menangis ah..Ini hari bahagiamu.. Semangat,"Caca berusaha menyemangati.
Aneeta membalas dengan anggukan dan senyum lebarnya.
__ADS_1
Tak lama masuklah seorang pelayan yang diperintahkan memanggil Aneeta untuk turun. Karna acara ijab kabul akan dimulai.
Aneeta mengalungkan tangan dilengan Ibu Niken dan segera keluar.
Ditangga Mama Marimar menyambut dengan penuh bahagia. Ia juga menggandeng tangan Aneeta yang satu untuk didudukkan berjajar dengan Akmal yang sudah siap didepan penghulu.
Ditengah-tengah tamu, Ternyata Haidar hadir memenuhi undangan Akmal. Ia juga tak melepas tatapannya pada Aneeta. "Semoga kau bahagia Aneeta.. Meski kau melupakan aku.. Aku sangat bahagia melihat kau telah menemukan pendamping."Gumam Haidar lirih sekali.
"bagaimana ?? Sudah bisa dimulai ??" tanya penghulu.
"Silahkan pak.."Marimar yang menjawab.
Akmal dan Aneeta sesekali saling melirik, keduanya merasakan hal yang sama. Apalagi Akmal. Saat penghulu mengajaknya berjabat tangan tangan Akmal sangatlah berkeringat.
"Baik...kita mulai saja ya.."Ucap penghulu itu.
Akmal dan yang lain mengangguk setuju.
"Saudara Akmal Farraz Andrean bin Fairuz Andrean, Saya nikahkan Engkau..-"
"Stop !! Berhenti !!! Jangan lanjutkan pernikahan ini !!!" Teriak Fairuz yang baru masuk dengan nafas tersengal-sengal.
Semua mata menatap Fairuz, Akmal seolah tak percaya sang Ayah menghentikan pernikahannya.
__ADS_1
.
.