
.
.
.
Akmal menendang Lengan Haidar yang tadi terkena peluru hingga membuat Haidar mundur beberapa langkah kebelakang.
Haidar menahan sakit dengan menatap tajam Akmal.
Seringai penghinaan Akmal menyulut emosi Haidar, Hingga dengan segera Haidar kembali menyerang Akmal.
Tendangan memutar Haidar mengenai wajah Akmal hingga menimbulkan memar.
Daagg !!!
Akmal tak tinggal diam. Ia terus Menyerang kembali Haidar.
Aneeta yang tak tega jika dua orang pria itu ada yang sampai terluka parah segera keluar mobil.
"Akmal aku mohon hentikan !!!" Teriak Aneeta dengan berderai air mata.
Dengan nafas yang memburu Akmal dan Haidar menoleh kearah Aneeta berada.
"Anee.. Masuklah.. Dia pria gila.."Teriak Haidar.
Akmal menyeringai layaknya psikopat, entah setan apa yang merasuki raga Akmal. Pria yang dulu amat berhati lembut dan sangat tidak menyukai kekerasan kini bisa berubah seperti itu.
__ADS_1
"Baiklah.. Aku sudah muak melihat drama romantis kalian."Gumam Akmal yang menggunakan kesempatan Haidar yang tak fokus dengan menyerang Haidar.
Daggg !!
Bruukk !!
"Jika aku tidak bisa memiliki Aneeta, maka tidak ada satu orangpun yang boleh memilikinya."Ucap Akmal dengan lantang dan dengan gerak cepat pula Akmal menarik pelatuk pistolnya.
door. !!
"Anneta Awas !!?"Haidar berdiri dan hendaknmenyelamatkan Aneeta. Namun sesuatu yang mengejutkan, Entah sejak kapan Papa Fairuz disana, Ia menghalangi peluru yang dilayangkan Akmal.
"Papa !!!" teriak Marimar.
Ibu Niken hanya menutup mulutnya dengan kedua tangan melihat sesuatu yang begitu menyakitkan itu.
"Ayah.."Aneeta bisa melihat Sang Ayah yang tersenyum saat memeluknya dan perlahan melorot jatuh.
Meski dengan rasa sakit yang luar biasa. Fairuz mendekati Akmal bahkan sesekali ia terjatuh akibat rasa sakit yang begitu dalam.
Akmal mematung saat sang papa ada dihadapannya.
"Luapkan semua emosi dan amarahmu pada papa Akmal.. Papalah yang bersalah disini, Papa yang telah memisahkan kalian, dan takdirlah yang mendekatkan kalian kembali, papa fikir kalian tidak akan pernah bertemu, namun ternyata dugaan papa salah, kalian malah dijadikan pasangan oleh sang pencipta. Papa mohon jangan sakiti adikmu jika kau tidak mau menyesal..Akkhh !!" Fairuz terjatuh.
"Papa !!!" Marimar berlari menopang tubuh suaminya.
"Papa.. Bertahanlah aku mohon."Tangis Marimar.
__ADS_1
"Akmal..Bunuh papa Nak.. Papa iklas, tapi papa mohon setelah papa tidak ada, hentikan menghakimi adikmu, Terimalah kenyataan jika kalian adalah saudara kembar.."Fairuz menatap Mata Akmal.yang nampak kosong.
"Ayah.. Jangan bicara seperti itu.."Aneeta pun turut menghampiri sang Ayah yang sudah tak memiliki kekuatan untuk berdiri.
"Akmal..!! Sadarlah !! Apa kau hanya akan menjadi gila seperti itu gara-gara kita saudara ?? Dimana hatimu ??!! Mau berapa.nyawa yang ingin kau korbankan disini !!!" Luapan kekecewaan terdengar dari mulut Aneeta.
Akmal tak menjawab. Ia seperti patung yang tak bernyawa.
"Ayah.. Kita kerumah sakit ya.. Ayo.."Aneeta berusaha membawa Fairuz.
"Jangan Nak.. Ayah akan menunggu kakakmu sadar disini. Ayah tidak apa-apa.."Balas Fairuz dengan menrrbitkan senyumnya.
Fairuz beralih pada Marimar yang terus terisak.
"Jangan menangis.. Kau wanita Hebat Marimar.. Terima kasih atas kesabaranmu selama ini.."
Marimar pun tak kuasa bicara hanya isak tangis yang terus terdengar.
"Aakkhhh !!!" Fairuz muntah darah cukup banyak hingga Aneeta menjadi histeris.
"Ayahh !!!"
"Papa.."Akmal.langsung terduduk dan turut menyadarkan sang papa yang kesakitan luar biasa.
"Kita bawa kerumah sakit saja.." saran Haidar.
Semua setuju, Haidar membopong tubuh Fairuz dibantu Akmal menuju mobil. Semua segera masuk kedalam mobil untuk menuju rumah sakit.
__ADS_1
.
.