
.
.
Wanita yang menjabat sebagai sekretaris Akmal itu buru-buru berdiri saat tau Jika wanita yang baru datang tadi adalah Mama dari atasannya.
"Nyonya.. Maafkan ka..-"
"Keluar kamu !!!" bentak Marimar. Sesuatu yang tak pernah Marimar lakukan sebelumnya. Semarah-marahnya Marimar, ia tidak pernah mengeluarkan suara keras seperti itu.
Wanita itu terkejut sekali, lalu ia segera melangkah keluar dengan menundukkan wajahnya.
"Kau jangan kembali lagi kekantor ini wanita murahan !!"usir Marimar.
Wanita sekretaris Akmal hanya menatap sebentar Marimar lalu buru-buru keluar.
"Ma.. Aku bisa jelaskan. Aku hanya bermain-main dengan dia..aku..-"
"kenapa kau lakukan ini Nak..Kenapa ?? Kenapa malah tingkah Papamu kau tiru ?? Kau tidak kasihan pada mama ?? Apa karna aku bukan Ibu kandungmu ??" Tutur Marimar dengan suara yang sangat bergetar sekali karna menahan air mata.
"bukan seperti itu ma..Aku..aku..aku.."Akmal tak bisa menjelaskan semuanya.
"Kau tidak bisa terima terpisah dengan Aneeta ?? Ambil hikmahnya sayang, Kau menjadi saudara sekarang, kau dan dia malah terikat melebihi hubungan suami istri. Mama tau, hatimu sangat hancur disini, Tapi kau harus kuat menyikapinya..Jangan malah melampiaskan semuanya dengan cara seperti ini.." Nasehat Marimar.
__ADS_1
Akmal terduduk seketika dikursi sofa didalam ruangannya. Marimar perlahan mendekati Akmal ia duduk disisi putra kesayangannya itu.
"Seiring berjalannya waktu, kau akan terbiasa dengan semua ini. Tanamkan dihatimu cinta pada Aneeta sebagai kakak yang mencintai dan melindungi adiknya. Kau pria sayang, kau harus kuat dan bisa bertahan. Jangan jadi seperti Papamu yang selalu kabur setelah melakukan kesalahan, apalagi mrlampiaskannya seperti ini.."
"Maafkan Akmal ma.. Akmal masih down sekali.."
"Iya.. Mama Mengerti. Jika kau memang belum sanggup memimpin perusahaan lagi. Mama yang akan menggantikanmu..kau istirahatlah dirumah."
"Tidak ma.. Akmal akan berusaha semaksimal mungkin. Mama tenang saja ya.. Aku akan berusaha.."
Marimar mengangguk faham lalu memeluk Akmal. "Tenang kau tidak sendiri, Ada mama disini."
Akmal hanya mengangguk mengerti seraya terus memeluk sang mama.
.
.
Namun saat melihat siapa yang datang Aneeta cukup canggung dibuatnya.
"Selamat pagi. Apa Ibu dirumah ??" Tanya Akmal berusaha biasa saja.
"Ada.. Sebentar aku panggilkan. Kau masuk duduk didalam saja."Balas Aneeta. Akmalnmengangguk mengekor pada Aneeta.
__ADS_1
Dari dalam Aneeta diikuti Buk Niken yang selesai membereskan meja makannya.
"Oww.. Akmal.. Mau sarapan disini ??" Ibu Niken tetap begitu perhatian pada Akmal.
"Tidak buk.. Akmal hanya mampir, boleh kan ??" Balas Akmal.
"Tentu saja boleh.. Emm... Ibu buatkan minum saja ya.."
"Buk.. Aneet berangkat dulu ya, soalnya sudah kesiangan."Aneeta berpamitan.
"Iya.. Hati-hati ya.."Balas Ibu Niken.
"Kak.. Aku berangkat dulu.."Meski nampak Tak nyaman dengan panggilan itu, namun Akmal segera mengangguk mengiyakan. Aneeta pun tak mau berlama-lama disana, Ia segera keluar guna menuju kantor.
"Aneet kerja dimana buk ??" Tanya Akmal yang mengikuti sang Ibu kedapur. Dimana dapur itu cukup luas, karna bersandingan dengan dapur kusus ibu membuat Kue.
"Ibu tidak tau. Hanya saja dia kemarin bilang sudah mulai bekerja jadi sekretaris lagi."balas Ibu Niken.
Akmal.hanya mengangguk mengerti. Ia tidak mau terlalu ikut campur urusaan Aneeta, yang malah nanti membuat hubungan mereka renggang.
"Ini.. Diminum. Mau coba kue ibu ??"Tawar Ibu Niken setelah menyodorkan secangkir kopi buatannya.
"Boleh buk.."Akmal nampak antusias apalagi saat kepalanya diusap Ibu Niken merinding sekali rasanya. Kasih sayang Ibu Niken selama ini padanya memang sangatlah tulus, makanya Akmal begitu senang sekali mengetahui jika Ibu Niken adalah Ibu kandungnya, meski dibalik rasa senangnya itu, Akmal harus menelan pil pahit tentang kekasihnya.
__ADS_1
.
.