
.
.
"Kau harus melayani aku Marimar !! Istri macam apa yang menolak melayani suaminya !!!" bentak Fairuz setelah melayangkan tamparan dipipi Marimar hingga Marimar terjatuh diranjang.
"Bukan tidak mau Pa, Tapi memang aku sangat lelah.. Lagian aku sudah tidak pakai pengaman apapun, aku takut..-"
"Takut apa wanita mandul !!? Kau itu tidak akan bisa punya anak !!! Mau pake atau tidak tidak akan berguna."Fairuz menarik pakaian Marimar hingga terkoyak. Menampakkan tubuh Marimar yang mulus.
Fairuz segera menggagahi Marimar yang terus merintih menolak.
"Pa.. Aku mohon.. Jangan, Nanti Akmal sebentar lagi pulang.."Pinta Marimar.
"Biarkan saja. Toh dia sudah dewasa, kalau opengen ya tinggal ngajak tunangannya kan.."Fairuz terus berusaha membuka pakaian Marimar hingga bagian atas tubuh Marimar sudah tidak tertutup.
Marimar hanya bisa menangis. Fairuz begitu berna f su sekali mencumbu Marimar yang merintih menangis.
__ADS_1
Dari belakang Tubuh Fairuz ditarik paksa oleh seseorang yang tidak lain adalah Akmal.
Mata Akmal bak api yang menyala. apalagi saat melihat kondisi sang mama yang begitu menyedihkan.
Dengan kuat Akmal melempar tubuh Fairuz hingga Fairuz tersungkur.
"Pria bajingan !!!" Umpat Akmal.
"Aakhhh !!! Dasar anak durhaka !!! Berani sekali kau melakukan ini pada Papamu !!!!" Protes Fairuz seraya berdiri.
"Bahkan aku lebih baik membunuhmu dari pada harus memanggil pria gila sepertimu dengan sebutan papa !!!" balas Akmal.berapi-api.
"sadarlah Akmal. Dia bukan ibu kandungmu !! Kau akan rugi sekali jika membela dia.."celoteh Fairuz.
"Sadarlah pa !!! Kau melecehkan mama !!! Jangan bahas hal lain !!! Apa tidak bisa sedikit saja kau berikan cinta pada mama ,hah ??!! Mama.yang bukan ibu kandungku bisa menyayangi dan mengerti semua keluh kesahku, lalu kau bagaimana ?? Kau papa kandungku, Tapi kau seperti orang asing bagiku !!! Kau katakan aku rgui jika membelanya ??? Aku sudah rugi karna harus menjadi anakmu !!!"Ungkap Akmal dengan menahan sesak.
Fairuz begitu geram sekali. Akmal kini memang telah dewasa, Ia tidak mungkin bisa menurut seperti dulu. Fairuz memilih segera keluar dari kamar itu meninggalkan Akmal dan Marimar yang masih terisak.
__ADS_1
Setelah Fairuz pergi, Akmal mendekati sang mama yang terus menangis. Mendengar tangisan mamanya begitu menyayat hati Akmal.
"Ma.."Panggil Akmal lirih.
"Kau sudah tau sejak kapan Akmal jika aku bukan ibu kandungmu ??" Dengan mata berair marimar menatap Akmal.
Akmal duduk ditepi ranjang dan memegangi tangan Marimar. "Itu tidak penting ma..Yang aku tau mamaku hanya mama Marimar saja. Anak Kandung atau bukan semua sudah tertutup dengan kasih sayang yang mama berikan untukku.. Terima kasih sudah merawat dan mendidikku menjadi pria kuat dan dewasa. Andai saja aku hanya hidup dengan pria bajingan itu, Pasti aku tidak akan lebih buruk darinya."Tutur Akmal dengan sepenuh Hati.
Marimar yang tidak kuasa langsung memeluk Akmal dengan erat. Meski memang tidak terlahir dari rahimnya, Namun Marimar benar-benar sangat menyayangi Akmal melebihi nyawanya sendiri. "Mama sangat menyayangimu Nak.. Mama benar-benar takut kau meninggalkan mama.."
"Tidak akan ma.. Meski Aku bertemu Ibu kandungku sekalipun, aku akan tetap bersama mama.. Mama tenang saja ya.. Jangan menangis.."Balas Akmal dengan mengusap punggung Marimar.
"Anakku.. Kau anakku.. Akmal.. Kau anakku.."Tangis Marimar begitu mengiris hati siapa saja yang mendengarnya. Bahkan agar tak ikut menitikkan air mata, Akmal sampai memejamkan kedua matanya.
.
.
__ADS_1