
.
.
Sesuai janjinya, Aneeta kini mulai menebar senyumannya. Ia juga begitu antusias membuat kue-kue kering membantu sang Ibu. Melihat perubahan pada aneeta, Ibu Niken sangat bahagia. Setidaknya Mereka sudah bisa menerima kenyataan itu.
Saat Aneeta begitu sibuk melayani tamu, datang sebuah mobil yang membuat senyum aneeta luntur.
Dari mobil itu keluar Akmal dan Mama Marimar.
Mereka berdua bergegas menuju toko Ibu Niken. Nampak sekali Akmal sedikit kurus dan tidak terlalu terawat.
"Selamat data..-" Chika menghentikan sapaannya. Lalu beralih menatap Aneeta yang terlihat mematung.
.
.
Dua cangkir kopi diletakkan Aneeta dihadapan Mama Marimar dan Akmal. Dan saat Aneeta meletakkan didepan Akmal, Terlihat sekali Akmal menatap lekat dirinya. Namun Aneeta berusaha tak merespon.
__ADS_1
"Silahkan diminum."Ibu Niken mempersilahkan.
"Terima kasih.."balas Marimar.
Sejenak Ibu Niken menatap Akmal. Tak pernah ia duga sebelumnya, jika kekasih putrinya adalah putra kandungnya juga. Mata Ibu Niken hampir berair, lalu dengan segera Ibu Niken menunduk dan mengusap air matanya dengan cepat.
"Ibu Niken..Saya harap kedekatan kita jangan sampai renggang karna kenyataan ini."Marimar mulai bicara.
Hening, Ibu Niken tak menjawab. Baik Aneeta maupun Akmal pun juga diam.
"Maafkan saya yang tidak tau menahu apa-apa. Saya benar-benar merasa sangat bersalah disini. Andai saya tanyakan sejak awal pada Fairuz, Ini tidak akan terjadi."Tambah Marimar.
"Tidak ibu Niken. Karna tuntutan keluarga besar kami Fairuz melakukannya. Dan juga karna..karna saya ini hanya wanita mandul.."Marimar tertunduk.
Akmal menggenggam jemari Marimar. Melihat itu Ibu Niken cukup tak bisa. Namun kenyataannya Marimarlah yang telah merawat Akmal sejak bayi.
"Aneeta..Jika pun kalian tidak berjodoh setidaknya hubungan kalian lebih erat karna kalian adalah kakak adik.. Saya mohon, jangan benci Akmal.."Marimar menatap Aneeta.
"Saya sama sekali tidak membenci Akmal nyonya..Saya hanya masih tidak percaya. Kenapa hidup saya seperti sinetron ditelevisi."balas Aneeta.
__ADS_1
Seketika Akmal menatap Aneeta. Dalam sekali, akmal rindu ingin memeluk Aneeta. Namun Kenyataan mereka adalah saudara ternyata malah membuat mereka begitu canggung.
"Lebih baik kita jalani kehidupan masing-masing saja Nyonya Marimar."Tambah Ibu Niken.
"Buk.."Suara Akmal terdengar bergetar. Matanya bahkan sudah basah dengan air mata. Begitu pun dengan Ibu Niken.
"Iya Nak..Aku tetap Ibumu. Tapi kau tidak boleh meninggalkan Ibu yang telah membesarkanmu.. Kau bisa berkunjung kemari kapanpun, karna ini juga rumahmu, Dan ada adikmu disini."Tutur Ibu Niken. Nyaris ia tak bisa menahan air mata. Namun kekuatan dari genggaman tangan Aneeta membuat Ibu Niken terus berusaha menahannya.
"Ibu Niken.. Terima kasih.."Marimar begitu bahagia sekali. Ia fikir Ibu Niken akan meminta paksa Akmal darinya.
"Saya yang harusnya berterima kasih pada anda Nyonya.. Anda telah merawat putra saya dengan sepenuh hati seperti putra anda sendiri, Saya sangat bersyukur anda benar-benar berhati malaikat."Balas Ibu Niken.
Marimar menangis seketika. Ia menangis bahagia karna Semua dugaannya ternyata tidaklah terjadi.
"Akmal.. meski kalian tidak jadi menikah. Setidaknya kalian tetap terhubung aliran darah, ibu mohon tetap sayangi Aneeta, tapi sebagai adikmu, bukan wanita yang menempati hatimu."Tambah Ibu Niken beralih pada Akmal.
Akmal memejamkan kedua matanya. Itu masih sulit ia terima. Apalagi Aneeta adalah wanita pertama yang menempati hatinya.
.
__ADS_1
.