
Setiap pengakuan dari Tamara membuat hari Hilya seakan-akan teriris pisau, air matanya terus mengalir begitu deras. Bahkan bukan Hanya Hilya, Disa pun ikut sakit hati saat mendengar pengakuan dari Tamara tentang kejadian yang menimpanya. Selama 12 menit video itu di putar semua mengeluarkan air mata mendengar hal menyedihkan yang harus di terima oleh Hilya.
"Hah.. hah.. jadi selama ini.. " ucap Hilya yang tak sanggup mengatakan apapun lagi.
"Nak" ucap ayah Dion yang memanggil Hilya
Tak menjawab panggilan dari ayah Dion, Hilya malah pergi dari ruang tengah.
"Hilya"panggil Zidan yang mengejar Hilya.
"Nak" ucap bunda Lola dan ayah Dion yang ikut mengejar Hilya.
Hilya berlari menuju dapur lalu mengambil sebuah pisau lalu mengiris pergelangan tangannya sehingga mengeluarkan darah.
"Hilya" teriak semua orang saat melihat dia mengiris pergelangan tangannya sendiri.
"Sayang apa yang kamu lakukan" ucap Zidan yang berusaha mengambil pisau di tangan Hilya.
"Nak apa yang kamu lakukan" ucap bunda Lola yang langsung memeluk Hilya sehingga darah di pergelangan Hilya mengenaj bajunya.
"Agggghhh haaa hiksss haaa,, aku gak peduli dia selingkuh dengan siapapun, tapi kenapa dia harus membunuh bunda ku, kenapa" teriak Hilya yang histeris tanpa memperdulikan rasa sakit yang ia buat sendiri.
"Haaaa... haaa... kenapa kenapa aku harus kehilangan bunda cuma karena perbuatan biadab dia kenapa hiksss" teriak Hilya lagi.
"Hilya" ucap Syifa yang menitikkan air matanya.
"Hilya jangan seperti ini nak, jangan seperti ini" ucap bunda Lola yang terus memeluk Hilya dan juga mengeluarkan air matanya.
"Agghhh bagaimana dia bisa berkhianat seperti ini, bagaimana dia bisa melakukan hal semenjijikkan ini" teriak Hilya lagi sambil terus menangis
"Sayang sudah, jangan seperti ini" ucap Zidan yang memegang tangan Hilya yang berdarah.
"Lepaskan" teriak Hilya yang ingin kembali melukai tangannya.
"Gak akan" ucap Zidan yang meninggikan suaranya.
"Jangan karena satu orang kamu menghukum semua orang yang ada di sini" ucap Zidan.
"Hilya, kamu ngapain sih, kamu jangan lakuin hal aneh, kami gak mau kamu seperti ini"ucap Syifa yang ikut panik.
" Hilya, jangan begini, kamu sudah terluka"ucap Fia.
"Hilya yang kami kenal gak seperti ini" sahut Kia.
"Kamu melarang ku untuk tidak melakukan hal-hal seperti ini, lalu kenapa kamu melakukannya" ucap Disa
" Nak, jangan begini, bunda tak sanggup melihat kamu seperti ini"ucap bunda Lola yamg menangis.
"Aku benci, aku benci memiliki darah darah dari orang jahat, aku ingin membuang semua darah yang mengalir di tubuh aku, darah dari seorang pembunuh haaaa...hiksss" ucap Hilya yang menangis.
"Hey, kamu jangan bicara seperti itu sayang" ucap Zidan yang mengambil pisau ditangan Hilya.
__ADS_1
"Aku benci, aku benci sama pembunuh itu, aku gak mau menjadi anak dari pembunuh itu" teriak Hilya yang histeris.
"Tutupi dulu lukanya, darahnya terus keluar" ucap mama Rena yang merasakan iba dan juga khawatir.
"Kita ke rumah sakit sekarang" ucap ayah Dion.
"Gak mau" ucap Hilya.
"Darah kamu terus keluar nak, bunda gak mau kamu kenapa-napa" ucap bunda Lola.
"Biarkan darah ini terus keluar bunda, Hilya gak mau darah pembunuh terus mengalir di tubuh Hilya" ucap Hilya lagi.
"Cukup Hilya cukup" bentak ayah Dion.
"Bunuh ayah bunuh" ucap ayah Dion yang memberikan pisau pada Hilya
"Dion" ucap papa Dika.
"Bunuh ayah lebih dahulu, karena ayah tak akan sanggup melihat kamu terluka" ucap ayan Dion yang menangis.
"Ayah baru merasakan memiliki anak saat kamu san Syifa menjadi anak ayah, tapi sekarang kamu ingin meninggalkan ayah?, kamu ingin menghukum ayah seperti ini? " tanya Ayah Dion yang semakin menangis.
"Katakan nak..katakan apa yang harus ayah lakukan sehingga kamu tak melukai diri mu seperti ini hikkssss" ucap ayah Dion yang kemudian terduduk berlutut di depan Hilya.
"Ayah" ucap Hilya yang langsung duduk di depan ayah Dion, dan barengan dengan Syifa yang langsung menghampiri ayah Dion.
"Ayah jangan begini" ucap Syifa yang ingin menangis.
"Kalian berdua adalah hadiah terindah untuk ayah, ayah tidak peduli jika kalian bukan darah daging ayah, tapi satu hal yang harus kalian tau, kalian berdua adalah putri ayah, ayah sangat menyayangi kalian" ucap ayah Dion yang memegang pipi Syifa dan Hilya.
"Ayah" ucap Hilya dan Syifa yang langsung memeluk ayah Dion.
"Maafkan Hilya" ucap Hilya yang menyesal telah membuat ayah Dion menangis.
Bunda Lola yang melihat pemandangan di depannya langsung memeluk Hilya dam Syifa beserta ayah Dion. Pemandangan keluarga kecil itu membuat semua orang yang melihatnya ikut bersedih.
"akita ke rumah sakit ya nak" ucap ayah Dion yang melepaskan pelukan dan memegang pipi Hilya.
"Kita obati dulu tangan kamu ya" ucap ayah Dion lagi dan mendapatkan anggukan dari Hilya.
"Tutup dulu lukanya dengan nama ni" ucap mama Rena yang memberikan sehelai kain pada ayah Dion.
"Jangan melakukan hal seperti ini lagi" ucap ayah Dion yang langsung menutupi luka Hilya.
"Kita ke rumah sakit sekarang" ucap bunda Lola.
"Zidan, mama jemput Julian dulu, nanti mama nyusul ke rumah sakit" ucap mama Rena.
"Baik ma" ucap Zidan.
Mereka pun menuju ke rumah sakit, disepanjang jalan Hilya hanya menatap keluar jendela mobil dan mengeluarkan air matanya. Bunda Lola mengusap rambut Hilya dengan lembut.
__ADS_1
"Bunda sedih melihat putri bunda hari melakukan hal seperti ini, bunda gak sanggup" ucap bunda Lola sambil mengusap rambut Hilya.
"Hilya malu, Hilya malu jika harus hidup di dalam keluarga bunda hiksss" ucap Hilya
"Kenapa harus malu sayang, kamu anak bunda sekarang" ucap bunda Lola.
"Bunda Ayu adalah kakak kandung bunda, dan yang membunuh bunda Ayu itu.. hiksss... hikss.. ayah kandung Hilya sendiri hiksss... Bagaimana bisa Hilya hidup bersama kalian sedangkan ayah kandung Hilya yang telah membunuh kakak dari bunda" ucap Hilya yang menangis dan langsung dipeluk oleh bunda Lola.
"Kak Ayu bunda kamu sayang, selamanya kamu akan menjadi bunda kamu. Bunda Ayu sudah gak ada, maka bunda yang akan menjadi ibu untuk Hilya, kamu gak perlu malu dengan bunda sayang, kamu gak perlu merasakan seperti itu" ucap bunda Lola.
"Sekarang keluarga kamu ayah, bunda dan Syifa, kita berempat adalah keluarga sekarang, bahkan Disa juga bersama kita sekarang, kita akan bersama selamanya" ucap ayah Dion sambil menyetir.
Sesampainya di rumah sakit luka Hilya langsung dibersihkan oleh dokter, tak lama setelah itu mama Rena dan papa Dika beserta Julian datang ke rumah sakit.
"Dion, Lola mari bicara sebentar" ucap papa Dika.
"Julian pergi sama bang Zidan dulu" ucap mama Rena.
"Baik ma" ucap Julian.
"Bunda titip Hilya dulu" ucap bunda Lola.
"Baik bunda" ucap Zidan dan Syifa.
Bunda Lola, ayah Dion pun mengikuti mama Rena dan papa Dika menuju ke halaman rumah sakit.
"Ada apa Dika? " tanya ayah Dion.
"Sekarang bagaimana?, kamu masih mau membebaskan Irwan? " tanya papa Dika.
"Aku....
...****************...
...****************...
...****************...
Hai guys dukung terus author ya
jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.
maaf jika ada kata-kata yang typo
byebye....
...****************...
...****************...
...****************...
__ADS_1