
"Gak bisa kah kita seperti dulu lagi Sa, Hilya benar-benar sudah melupakan Abian dalam hidupnya, bahkan Hilya membenci Abian yang telah membuat kamu begini Disa" ucap Syifa yang sudah menangis.
"Sadar Disa sadar, kamu teh harus sadar. Kamu bukan Disa yang dulu kami kenal, sampai kapan kamu mau nyakitin Hilya terus, sampai kapan kamu mau buat Hil... " ucap Syifa yang kemudian langsung disela oleh Disa.
"Stopp.. teriak Disa yang membuat Syifa dan juga Alan kaget.
"Berhenti membahas masa dulu saat kita masih bersahabat, berhenti membahas itu Syifa" teriak Disa yang sudah mengeluarkan air matanya.
"Kau gak akan mengerti posisi ku sekarang, lebih baik kau pergi, menjauh dari kehidupan ku brakkkkkk" teriak Disa dan kembali membanting pintu.
"Kita pergi" ucap Alan yang menarik Syifa
"Lepasin aku" ucap Syifa yang memberontak.
"Kak Alan bisa gak jangan ikut campur urusan ku" teriak Syifa
"Masuk" ucap Alan yang memaksa Syifa masuk ke mobil.
Alan masuk ke mobil dan langsung menancap gas mobilnya, sedangkan Disa menatap kepergian Syifa dengan menangis di balik jendela rumahnya.
Di mobil Syifa terus mengepal tangannya dan memukul pahanya sesekali.
"Bodoh" ucap Syifa yang kesal dan memukul pahanya.
"Hentikan Syif" ucap Alan
"Aku kecewa, aku marah sama Disa" ucap Syifa
"Gue tau, tapi ingat Hilya sekarang butuh kamu" ucap Alan.
"Kenapa Disa bisa bilang Hilya masalah besar dalam hidupnya, padahal Hilya selalu bantuin dia" ucap Syifa.
"Tenangkan diri lo, kita balik ke rumah kalian sekarang" ucap Alan.
Alan pun mengantarkan Syifa pulang. Malam pun tiba, Bik murni menceritakan semuanya yang terjadi pada bunda Lola dan Ayah Dion.
"Tadi bik Murni sudah menceritakan semuanya pada bunda dan ayah. Bunda dan ayah tidak akan ikut campur terlalu jauh untuk masalah kalian, bunda yakin kalian bisa menyelesaikan itu sendiri" ucap bunda Lola.
"Hilya jika kamu sedih ingat satu hal, ada Ayah, bunda dan juga Syifa di sini" ucap Ayah.
"Sekarang kalian istirahatlah besok Ayah dan bunda ada undangan di kampus kalian, yang artinya di kampus kalian akan ada acara besok" ucap Ayah Dion.
"Hilya ke kamar dulu" ucap Hilya dan pergilah
"Syifa juga" sahut Syifa.
"Hil, tidur yang nyenyak" ucap Syifa yang mencoba menghibur Hilya
"Kamu juga" Sahut Hilya yang senyum tipis.
Sesampai di kamar Hilya mendengar ponselnya yang berbunyi, dan ternyata Zidan yang melakukan panggilan video.
"Ada apa kak? " tanya Hilya.
("Aku menelpon mu sudah banyak, kenapa baru angkat sekarang "ucap Zidan)
(" Kak Hilya "ucap Julian yang merampas ponsel Zidan)
(" Minta izin dulu bocah"ucap Zidan yang berebut dengan Julian)
"Jangan berantem" ucap Hilya dengan suara keras dan membuat keduanya yang berebut ponsel terdiam).
("Oh ya kak Hilya, besok aku akan masuk sekolah loh, Papa dan mama yang daftarkan" ucap Julian)
"Wah benarkah, kalau begitu kamu harus tidur cepat jangan sampai besok terlambat" ucap Hilya yang tersenyum.
("Baiklah kak, bye.. bye" ucap Julian yang langsung berlari ke kamarnya. )
"Kak besok di kampus ada acara? " tanya Hilya
__ADS_1
("Iya, acara seperti biasanya membosankan" ucap Zidan)
"Jangan ngomong begitu" ucap Hilya
("Tapi itu kenyataannya Hilya kita akan di kumpulkan di aula, lalu mendengar mereka berbicara "ucap Zidan).
" Kakak yang menjadi pengurusnya? "tanya Hilya.
(" Eummm"sahut Zidan singkat).
"Bunda dan ayah besok juga akan datang" ucap Hilya
("Ya aku tau"ucap Zidan)
("Sekarang kamu lagi apa?, Sudah makan?, kamu masih sedih? "tanya Zidan bertubi-tubi).
"Satu-satu" ucap Hilya
("Udah jawab aja barengan "sahut Zidan).
"Aku sekarang lagi di kamar mau tidur. Aku udah makan. Aku udah gak sedih lagi juga kok" ucap Hilya yang bertingkah lucu.
("Ya udah sana tidur, besok aku jemput"ical Zidan)
"Gak usah" sahut Hilya.
("Sampai ketemu besok pagi, bye kelinci bawel) "ucap Zidan yang langsung mematikan ponselnya.
"Selalu seenaknya saja" ucap Hilya yang menatap kesal pada ponselnya.
Hilya menaruh ponselnya dan memilih untuk melupakan semuanya kemudian tidur.
Keesokan harinya, Zidan sudah ada di rumah Hilya dan duduk di meja makan bersama bunda dan ayah.
"Bik, tolong panggilin Hilya dan Syifa" ucap bunda Lola
"Neng, kata nyonya suruh turun cepat" ucap bum Murni di depan pintu kamar Hilya
"Baik bik, ini sudah siap" sahut Hilya.
"Neng Syifa di suruh cepat sam nyonya" ucap bik murni lagi di depan kamar Syifa
"Kleekk, sudah bik" sahut Syifa yang keluar dari kamar.
"Hilya ayok" ucap Syifa
"Klekkk, ayok" sahut Hilya yang juga keluar dari kamar.
"Itu udah pada turun" ucap bunda Lola sambil tersenyum.
"Lah kok di sini? " tanya Hilya
"Mau jemput lo lah" ucap Zidan
"Mau jemput aku atau mau numpang makan" sahut Hilya judes dan duduk di depan Zidan.
"Dua-duanya sih, sekalian" ucap Zidan sambil nyengir.
"Uuu dasar" ucap Hilya.
"Udah makan jangan ribut terus dong" ucap bunda Lola.
"Gimana nanti kalau udah tinggal bareng, masa berantem terus nanti" sambung bunda Lola.
"Tinggal bareng?, maksud bunda gimana? " tanya Hilya.
"Ya kita bakal tinggal barenglah sayang kalau udah nikah" sahut Zidan dengan ekspresi tengilnya.
"Yups Zidan benar" sahut bunda Lola.
__ADS_1
"Apaan sih bunda, masa bahasnya itu" rengek Hilya
"Tapi benar sih kata bunda sama kak Zidan" ucap Syifa.
"Kamu panggil apa tadi? " tanya bunda Lola yang terkejut
"Bu.. bunda" sahut Syifa
"Syifa, akhirnya bunda senang sekali" ucap Bunda.
"Yah, akhirnya bunda mempunyai dua putri yang cantik-cantik" ucap bunda yang terharu dan memeluk keduanya.
"Sudah-sudah sekarang sarapan dulu dong" ucap ayah Dion.
"Nanti anak-anak telat" sambung ayah.
"Baiklah sekarang kalian sarapan, nanti malam kita bakal barbequean di halaman rumah" ucap bunda Lola.
"Yeee"sahut Hilya dan Syifa bareng.
"Bunda, Zidan ikut juga ya" celetuk Zidan
"Tentu sayang, calon menantu bunda boleh ikut" sahut bunda
"Tapi Zidan ajak 4 teman ya" ucap Zidan lagi.
"Dih ngelunjak ya, udah di kasih hati minta jantung" ucap Hilya.
"Biar rame cerewet" ucap Zidan.
"Resekkk" ucap Hilya.
"Kita telat nanti" ucap Syifa
"Bunda, Ayah, Syifa duluan ya" ucap Syifa.
"Eh bareng aku" ucap Hilya.
"Kamu bareng kak Zidan" ucap Syifa yang pergi.
"Ya udah kalian nyusul sana nanti telat loh" ucap bunda Lola.
"Ayah, bunda, Hilya pergi dulu" ucap Hilya yang mencium keduanya.
"Zidan juga" ucap Zidan.
Mereka pun berangkat ke kampus, di mobil Zidan terus menggoda Hilya.
"Jadi gimana sayang? " tanya Zidan
"Gimana apanya? " tanya Hilya balik yang kebingungan.
"Nanti kalau.....
...****************...
...****************...
Hai guys dukung terus author ya
jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.
maaf jika ada kata-kata yang typo
byebye....
...----------------...
...----------------...
__ADS_1