
Bunda dan Ayah pun pergi menuju ke rumah sakit. Di sisi lain Alan sibuk mencari keberadaan Zidan, bahkan dia sampai lupa mengabari pada Fajar dan Rifi tentang Zidan yang menghilang.
"Oh ya gue lupa ngasih kabar ke Fajar dan Rifi lagi" ucap Alan yang kemudian mengambil ponselnya.
Disaat dia ingin menelpon Fajar tiba-tiba ponselnya duluan yang berbunyi.
"Halo om kenapa? " tanya Alan yang ternyata yang menelpon papanya Zidan.
("Gimana Lan kamu udah nemuin Zidan, soalnya tante Rena perasaannya gak enak"ucap papa Dika).
"Ini Alan lagi nyari om, nanti kalau udah ketemu Alan langsung kabarin sama om" ucap Alan.
("Baik Lan" sahut om Dika yang kemudian langsung memutuskan panggil.)
Disisi lain Hilya, Fajar dan Rifi yang sudah hampir sampai ke club dikejutkan dengan Zidan yang sedang bertarung dengan para preman.
"Hah, itu kak Zidan" ucap Hilya yang melihat Zidan sudah babak belur namun masih melawan para preman itu.
"Jar berhenti" ucap Rifi.
"Berhenti, kak Zidan" teriak Hilya yang turun dari mobil dan berlari kearah Zidan sedangkan Fajar dan Rifi langsung menghajar preman yang menyerang Zidan.
"Kak Zidan awassssss" teriak Hilya saat ada seorang preman yang ingin memukul Zidan dengan balok.
"Bughhhh" pukulan itu mengenai punggung Hilya karena memeluk Zidan dari belakang.
"Sayang" ucap Zidan yang terkejut.
"Kak Zidan gak kenapa-napa kan? " tanya Hilya yang bukan berteriak kesakitan malah menanyakan keadaan Zidan.
"Sayang kamu gak kenapa-napa kan? " tanya Zidan yang khawatir dan Hilya langsung menganggukkan kepalanya.
Zidan langsung memeluk Hilya dengan erat, wajah yang sangat ia rindukan akhirnya kembali memanggil namanya dengan lembut.
Zidan menatap preman yang memukul Hilya dengan tajam.
"Brengsek" teriak Zidan yang langsung menghajar preman itu.
"Kak Zidan" teriak Hilya saat melihat Zidan kembali bertarung dengan para preman itu.
Zidan, Fajar dan Rifi terus menghajar preman itu habis-habisan, mereka sedikit kesusahan saat melawan preman itu karena jumlah para preman itu karena jumlah mereka yang lebih banyak.
Hilya yang kebingungan memikirkan cara untuk menghentikan Zidan dan yang lainnya pun memilih menelpon Alan.
"Halo kak Alan" ucap Hilya panik.
("Ada apa Hil? "tanya Alan)
" Kak cepetan ke sini, kak Zidan, kak Fajar sama kak Rifi berantem sama preman "ucap Hilya lagi.
(" Hah, itu di mana? "tanya Alan)
"Di dekat tempat clubbing" ucap Hilya.
("Oke gue ke sana sekarang "ucap Alan).
Hilya semakin panik saat melihat Zidan di tusuk oleh salah satu preman itu.
"akhhhh" teriak Zidan saat perutnya di oleh salah satu preman.
"Kak Zidan" teriak Hilya yang berlari menghampiri Zidan yang sudah tergeletak di jalan.
"Zidan" ucap Fajar dan Rifi yang ingin menghampiri Zidan namun di cegat oleh para preman.
"Hahahaaha mati lo" ucap ketua preman itu sambil tertawa.
__ADS_1
"Kak Zidan" ucap Hilya yang memangku Zidan.
"Sayang" ucap Zidan yang menahan sakit.
"Kamu percaya sama aku, aku gak ngelakuin apapun dengan Dosa" ucap Zidan yang menahan sakit.
"Aku percaya, maafkan aku ya sayang, aku udah nuduh kamu yang engga-engga" ucap Hilya yang menangis.
"Kamu gak salah kok, wajar kamu curiga dan marah sayang, karena foto itu sangat jelas" ucap Zidan yang memegang pipi Hilya.
Hilya memeluk Zidan sambil menangis, namun tiba-tiba Hilya di tarik oleh ketua preman itu.
"Aaaaaa" teriak Hilya saat ditarik oleh ketua preman itu.
"Lepasin cewek gue" teriak Zidan yang berusaha bangun.
"Woy lepasin Hilya" teriak Fajar yang juga sudah di pegang oleh dua preman.
"Hajar dia" ucap ketua preman itu pada anak buahnya untuk memukul Zidan.
"Jangan-jangan, aku mohon jangan" ucap Hilya yang berusaha memberontak dari preman itu.
"Bhhughhh... bhughhh... bughhh" Zidan terus di pukul oleh dua preman tepat pada luka tusukannya.
"Akhhhhhhh" teriak Zidan yang kesakitan.
"Jangan... lepasin kak Zidan haaaa" teriak Hilya yang menangis
"Woiiii lepasin Zidan" teriak Fajar dan Rifi yang memberontak.
"Jangan... sayang" teriak Hilya sambil menangis melihat Zidan yang sudah sangat kemas dan darah sudah mengotori bajunya.
"Lepasin" teriak Hilya yang mendorong preman itu dan ingin menghampiri Zidan namun ketua preman itu kembali menangkap Hilya.
"Lepasin aku"teriak Hilya
"Jangan pukul kak Zidan lagi, tolong lepasin kak Zidan haaaaa" teriak Hilya yang terus memberontak dan menangis.
Para preman itu terus memukul Zidan sampai setengah kesadaran Zidan hilang karena menahan sakit.
"Woy berhenti" teriak Alan yang baru datang dengan geng motor lainnya.
Saat dalam perjalanan, setelah mendapatkan panggilan dari Hilya, Alan langsung menuju ke tempat Zidan di keroyok. Alan juga menelpon bantuan pada geng motor yang menjadi teman baik geng Orthtros
"Brengsek, hajar mereka" ucap ketua geng motor yang bernama Fadlan.
"Cabut" ucap ketua preman itu yang melepaskan Hilya sampai ia terduduk lemas.
"Kejar mereka" teriak Fadlan.
"Dan, Zidan" teriak Alan yang melihat Zidan sudah penuh dengan darah.
"Cewek gu...e" ucap Zidan yang setengah sadar dan melihat Hilya terduduk lemas saat melihat Zidan terluka parah.
"Hilya" ucap Fajar yang membantu Hilya berdiri.
"Bawa Hilya ke mobil gue" ucap Alan.
"Fi bantu gue angkat Zidan" ucap Alan lagi.
Fajar membawa Hilya ke mobil Alan, begitupun dengan Zidan yang juga di bawa ke mobil Alan.
"ali berdua masih bisa nyetir? " tanya Alan
"Bisa-bisa" sahut Fajar.
__ADS_1
"Oke bawa mobil Zidan juga" ucap Alan yang langsung masuk ke mobilnya dan langsung menancap gas.
"Sayang, ka.. mu gak... " ucap Alan yang langsung di sela oleh Hilya yang memeluk Zidan sambil menangis.
"Haaaaaa.... haaaaaa" Hilya yang terus menangis di pelukan Zidan.
"Hey kamu gak boleh nangis, aku gak apa-apa kok" ucap Zidan yang memegang pipi Hilya dan tersenyum.
"Da... darah.. luka di perut kak Zidan.. hikss... hiksss" ucap Hilya yang terbata-bata dan diiringi isak tangis.
"Ini hanya luka kecil" ucap Zidan sambil tersenyum.
"Sayang kamu janji sama aku, kalau kamu hanya akan bersama aku, kamu tidak akan pernah meninggalkan akau" ucap Zidan yang menggenggam tangan Hilya.
"Aku gak akan pernah tinggal kak Zidan, aku sayang, aku cinta sama kakak. Jangan pernah berpikir bahwa aku akan menerima perjodohan aku dengan Abian, itu tidak akan terjadi" ucap Hilya dengan tulus.
"Kak Zidan juga harus janji harus terus kuat, kakak harus sembuh kembali, aku mau bareng kakak terus" ucap Hilya lagi sambil menangis.
Mendengar hal tersebut Zidan langsung menganggukkan kepalanya dan langsung memeluk Hilya dengan erat sampai akhir Zidan pingsan di pelukan Hilya.
"Kak.... sayang... " ucap Hilya yang menyadari Zidan sudah tak sadarkan diri.
"Kak Alan cepat kak" ucap Hok yang panik.
"Sayang,,, sayang aku mohon bangun hikssss" ucap Hilya yang khawatir.
Alan yang melihat Zidan sudah tak sadarkan diri dan Hilya yang menangis, dia langsung menambah kecepatan mobilnya. Tak lama setelah itu Akan sampai di rumah sakit.
Fajar sudah memberitahukan masalah pengeroyokan Zidan kepada mama Rena dan papa Dika, sehingga mereka semua menunggu kedatangan Zidan di depan rumah sakit.
"Tolong,, tolong cepat tolong" ucap Alan.
"Alan dimana Zidan? " tanya mama Rena.
"Hah... haaaa Zidan" tangis mama Rena pecah saat melihat Zidan yang di turunkan dari mobil dan dibaringkan di atas brankar.
"Hilya" ucap bunda yang langsung memeluk Hilya yang sudah kotor dengan darah Zidan di tubuhnya.
"Bunda haaaaaa" tangis Hilya pecah di pelukan bundanya.
Brankar Zidan langsung di dorong ke ruang operasi karena luka Zidan yang harus segera di tangani. Hilya memegang erat tangan Zidan sambil menangis sehingga Zidan pundi masukan ke ruang operasi.
"Hah..haaaaaa.... haaaaa" tangis Hilya yang langsung pecah saat Zidan sudah dimasukan ke ruang operasi.
Bunda dan Ayah langsung memeluk Hilya, sedangkan mama Rena menangis di pelukan papa Dika.
"Hilya...." Panggil....
...****************...
...****************...
...****************...
...****************...
Hai guys dukung terus author ya
jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.
maaf jika ada kata-kata yang typo
byebye....
...****************...
__ADS_1
...****************...
...****************...