
"Engga, aku gak takut di musuhin sama semua orang, lagian yang jahat kan lo pada bukan dia" ucap cowok tadi
"Kamu kenapa belain dia sih Di" ucap Abian pada laki-laki itu yang ternyata Nando.
"Emang kenapa kalau gue belain dia?, lo cemburu?" tanya Nando
"Btw lo berdua cocok deh, kenapa gak pacaran aja" ucap Nando pada Abian dan Tamara.
"Maafkan, tapi saya bisa jadi saksinya kalau dia gak salah, mereka yang menyuruh dia untuk naruh obat diare di minuman Hilya" ucap Nando yang membela Disa.
"Dia bohong, ngapain gue ngelakuin itu, gak ada kerjaan banget" ucap Tamara
"Alah kamu ngelakuin itu karena kamu kesel kan karena kaka Zidan lebih milih Hilya dari pada kamu" ucap Fia
"Eh lo diam ya" ucap Vina
"Kamu juga diam" Sahut Kia
"Lo berani sama kita, lo gak tau kita siapa?" tanya Tamara
"Diam lo semuanya" teriak Zidan
"Bereskan semua barang-barang kalian, kita balik hari ini" ucap Zidan yang membuat semua maba mulai kecewa.
"Li pada gak dengan apa kata Zidan, beresin semua barang lo, kalau ada yang telat di tinggal" ucap Alan
Semua maba dengan wajah kecewa mulai kembali ke tenda mereka untuk membereskan barang-barang mereka.
"Puas kamu, ini semua gara-gara kamu" ucap Abian
"Kamu apa-apaan sih. Ini semua bukan salah Disa" ucap Hilya
"Kalau dia gak buat jahat, mungkin ini semua gak bakal terjadi Hilya. Kamu gak usah belain dia Hil, dia yang udah hampir bunuh Syifa tadi" ucap Abian
"Heh Abian ini semua teh gara-gara kamu, bukan gara-gara Disa" ucap Syifa
"Tau tu, jadi cowok sok ganteng banget" sahut Fia.
"Beresin barang kamu, kita pulang" ucap Zidan pada Hilya yang membuat Hilya langsung pergi
"Kamu bakal berurusan dengan aku di kampus" ucap Zidan pada Tamara
"Semoga setelah ini lo jauhin mereka, karena mereka cuma bakal manfaatin lo doang" ucap Fajar
"Dan bener kata dia, lo cocok pacaran berdua sama-sama sialan" ucap Rifi
"Kamu ambil barang kamu gih, nanti di tinggalin lagi" ucap Nando
Disa pergi dengan wajah yang sudah sembab, Nando menatap Abian dan kemudian juga pergi.
Disa mengambil tasnya dan kemudian naik ke dalam bis jurusannya. Didalam mobil Tamara, Vina dan Rosa memanasi semua maba yang ada di dalam bis untuk memarahi Disa.
"Guys harusnya kita masih bisa nikmati udara segar di tempat camping, tapi gak jadi gara-gara nih cewek satu" ucap Tamara
"Iya nih, harusnya yang pulang dia bukan kita" ucap Vina
"Benar banget, turunin aja deh dia, pengap ada dia di sini" ucap Rosa.
"Setuju" teriak semua maba
"Ini semua gara-gara dia, udah jadi tukang fitnah, jahat lagi, dasar pick me" teriak Laras
"wuuuuu" teriak semua maba yang menyoraki Disa sambil melempar kertas sampah kearah Disa.
__ADS_1
"Dia yang nyuruh aku buat fitnah Hilya" ucap Disa yang berusaha membela dirinya
"Lo pikir kita percaya, dasar pick me" ucap Laras
"wuuuuuuj, turun deh lo turun" teriak maba yang di dalam bis
"turunin,,,, turunin,,, turunin" ucap semuanya sambil melempar sampah ke arah Disa dan juga menyiram air.
"hey kalian apa-apaan ini" teriak supir
"wuuuu turunin dia pak" ucap salah satu maba.
"Kalau dia gak di turunin, kita gak bakal diam" teriak maba lain lagi.
"wuwwww....." teriak semua maba
"Pak turunin saya aja" ucap Disa
"Tapi nak jalan ini sepi gak ada mobil yang lewat" ucap sopir bis
"Gak apa-apa pak, nanti saya nelpon keluarga saya buat jemput" ucap Disa.
Sopir bis pun menghentikan mobilnya dan Disa pun turun di jalan yang masih sangat sepi. Disa menangis meratapi nasibnya, sekarang dia kebingungan memikirkan harus pulang dengan apa.
Disa terus berjalan dengan ransel yang beratnya. Di saat Disa terus berjalan ternyata mobil Zidan berada paling belakang sehingga merek melihat Disa yang berjalan dengan kaki.
"Kak itu Disa deh" ucap Hilya
"Ngapain dia jalan kaki" ucap Zidan
"Ini semua pasti gara-gara kak Tamara itu, jahat banget sih mereka" ucap Hilya.
"Kak, kita kasih Disa nebeng ya" ucap Hilya
"Disa" teriak Hilya yang turun dari mobil.
Disa yang melihat Hilya langsung menghapus air matanya dan berjalan dengan cepat untuk mengabaikan Hilya.
"Disa tunggu, kamu kenapa jalan kaki" ucap Hilya yang memegang tangan Disa
Disa menatap Hilya dengan tatapan sendu, kemudian dia kembali berjalan namun Hilya tetap menahannya. Sedangkan Zidan hanya memperhatikan Hilya dan Disa dari mobil.
"Disa, kamu gak bisa pulang dengan jalan kaki, perjalan jauh banget" ucap Hilya
"Biarin Hilya, biarin aku pulang jalan kaki. Lagian kamu udah menang kok, sekarang aku mengaku kalah" ucap Disa yang menangis
"Disa gan ada yang menang dan yang kalah sekarang kamu pulang bareng aku aja ya" ucap Hilya.
"Kenapa sih Hil, kenapa kamu masih baik sama aku setelah apa yang aku lakukan sama kamu" ucap Disa sambil menangis
"Aku teh udah jahatin kamu, aku dulu khianati kamu, aku udah banyak buat salah sama kamu, kenapa kamu masih mau nolongin aku" teriak Disa
"Aku marah kok saat kamu ngelakuin itu ke aku, tapi aku masih anggap kamu sebagai sahabat aku" ucap Hilya.
"Sa perlu kamu tau, gak ada yang namanya mantan sabahat, sahabat akan selamanya. Mungkin kamu pernah ngelakuin kesalahan, tapi kita bisa memperbaiki semuanya" ucap Hilya.
"Gak bisa Hil, gak bisa, Syifa, Kia dan Fia mereka udah benci sama aku, aku udah keterlaluan Hilya" ucap Disa
"Disa udah, sekarang kita pulang aja ya" ucap Hilya
"Kamu pulang aja, biar aku pulang jalan kaki aja, palingan di depan bakal ada ojek ataupun taksi kok" ucap Disa yang menghapus air matanya.
"Jauh Disa, taksi maupun ojek jauh dari sini" ucap Hilya
__ADS_1
"Ya udah aku bisa jalan kaki, kamu pulang aja" ucap Disa
"Gak kalau kamu mau pulang jalan kaki, maka aku akan ikut kamu" ucap Hilya.
"Hilya kamu bisa gak sih gak keras kepala" ucap Disa
"Kamu juga jangan keras kepala Disa, bahaya kalau kamu pulang jalan kaki kayak gini, lihat kiri dan kanan hutan" ucap Hilya
"Aku malu Hilya, aku malu sama kamu, aku malu sama kak Zidan. Aku udah jahat sama kamu masa iya aku masih mah pulang sama kamu" ucap Disa
"Disa kamu gan perlu malu, kak Zidan gak pernah ikut campur masalah kita" ucap Hilya yang memegang tangan Disa.
"Sayang ajak teman kamu cepat, nanti keburu sampai ke kota kita tengah malam" teriak Zidan
"Ayok Disa" ucap Hilya yang menarik Disa
Hilya membawa Disa masuk ke mobil dan duduk di belakang, sedangkan Hilya kembali duduk di samping Zidan.
Zidan pun menancap gas mobilnya, di dalam mobil suasana hening. Zidan melirik Hilya yang terus melirik kearah Disa melalu kaca.
Seperti yang dikatakan oleh Zidan, mereka pun sampai ke Jakarta jam 22.16 karena mereka sempat berdiri untuk makan siang dan makan malam di tempat yang berbeda.
"Disa rumah kamu di mana?" tanya Hilya
"Aku turun di sini aja deh, nanti aku naik taksi aja" ucap Disa.
"Ini udah mau larut loh, kamu kasih tau aja di mana rumah kamu" ucap Hilya.
Disa pun memberikan alamat rumahnya. Zidan dan Hilya langsung mengantarkan Disa terlebih dahulu. Jam 23.00 mereka pun sampai ke rumah Disa.
"Makasih ya Hilya, kak Zidan" ucap Disa yang udah turun dari mobil.
"Iya sama-sama Disa" ucap Hilya sedangkan Zidan cuma menganggukkan kepalanya.
"Disa" ucap Hilya yang memanggil Disa saat dia ingin masuk ke dalam rumah.
"Ada apa?" sahut Disa.
"Aku masih sahabat kamu kok, jadi kamu gak sendiri, jika kamu butuh sesuatu hubungi aku aja" ucap Hilya yang menyerahkan selembar kertas yang berisi nomor kontak Hilya.
"makasih ya" ucap Disa yang tersenyum.
Disa pun masuk ke rumahnya, dan Zidan langsung menancap gas mobilnya lagi.
"kak.....
...****************...
...****************...
...****************...
Hai guys dukung terus author ya
jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.
maaf jika ada kata-kata yang typo
byebye....
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...