
Mereka pun berangkat ke kampus, di mobil Zidan terus menggoda Hilya.
"Jadi gimana sayang? " tanya Zidan
"Gimana apanya? " tanya Hilya balik yang kebingungan.
"Nanti kalau nikah kita bakal tinggal dimana? " tanya Zidan
"Ihhhhhh ngapain bahas itu" ucap Hilya yang menjewer kuping Zidan
"Awwww Hilya lepasin, sakit" ucap Zidan
"Makanya jangan resek" ucap Hilya yang melepaskan tangannya dari telinga Zidan.
"Belum nikah aja udah KDRT" ucap Zidan yang mengusap kupingnya.
Tak lama kemudian mereka pun sampai ke area kampus, Zidan langsung memarkirkan mobilnya dan membuka pintu untuk Hilya.
"Silahkan keluar calon istri" ucap Zidan.
"Noh di lihatin sama fans nya" ucap Hilya yang melihat kearah Tamara.
"Cemburu ya" goda Zidan
"Awas kalau berani macem-macem" ucap Hilya spontan dari mulutnya.
"Oh jadi udah cinta nih sama gue" ucap Zidan yang cengengesan.
"Diam" Sahut Hilya.
Saat masuk ke lorong kampus mereka berpapasan dengan Disa. Syifa, Kia dan Fia menatap Hilya. Mereka yakin kalau Hilya akan menyapa Disa. Namun pemikiran mereka salah, Hilya berjalan dan melewati Disa begitu saja.
"Wow,,, ibu bos geng Orthtros bisa tegas juga" ucap Fajar.
"Pertama kali aku lihat Hilya dengan tatapan marah gitu" sahut Kia.
"Kita langsung ke aula yuk" ajak Fia.
"Ayuk " sahut Kia dan Syifa.
"Hilya pasti marah banget sama aku" ucap Disa yang menatap Hilya yang sudah menjauh dari pandangannya.
Merekapun sudah berkumpul di aula, termasuk semua mahasiswa dan mahasiswi lainnya. Zidan duduk di sebelah Hilya. Semua tamu undangan penting sudah datang termasuk kedua orang tua Hilya dan Zidan.
Rektor pun memberikan kata sambutan, kemudian di sambung oleh papa Dika selaku pemilik kampus, Hilya kaget saat mengetahui bahwa kampus ini milik papanya Zidan.
"Kenapa kaget ya" ucap Zidan
"Gak, biasa aja" sahut Hilya yang bohong.
Ayah Dion yang menjadi salah satu orang yang berperan penting kampus pun juga ikut menyampaikan kata sambutan.
"Selamat pagi semua" ucap ayah Dion
"pagi" sahut semua orang yang ada di aula.
"Saya sangat senang berdiri di sini, dari sekian lama kampus ini berdiri, baru kali ini saya menyapa rektor, dekan, para dosen dan juga staf-staf lainnya. Saya sangat senang karena Tuan Dika Mahardika mengajak saya menjadi salah satu bagian dari kampus ini" ucap ayah Dion dan membuat Hilya tersenyum bangga pada ayahnya.
"Saya harap universitas Lentera Bangsa ini dapat lebih berjaya dengan melahirkan calon sarjana yang berkelas, disiplin dan pintar. Saya juga ikut senang karena ada sponsor baru yang akan ikut menyumbang beberapa fasilitas untuk kampus, kami berharap kedepannya universitas Lentera Bangsa akan menjadi kampus yang lebih dan lebih lagi"sambung ayah Dion yang membuat semua orang tepuk tangan.
__ADS_1
Hilya tersenyum mendengar kata-kaya sambutan dari ayahnya, namun senyuman Hilya luntur saat melihat seseorang yang sudah lama tak ia temui naik ke atas panggung.
"Hai semua, saya Irwanto Wijaya saya lah yang menawarkan diri untuk menjadi salah satu sponsor di universitas Lentera Bangsa ini" ucap Irwanto yang ternyata ayah kandung Hilya.
Mata Hilya memerah, Syifa mulai khawatir begitupun dengan bunda Lola dan ayah Dion yang celingak-celinguk mecari keberadaan Hilya. Zidan melihat perubahan Hilya.
"Alasan saya menawarkan diri menjadi sponsor, tentu saja pertama karena tuan Mahardika, namun alasan kedua saya sekarang adalah karena kerabat saya yang juga merupakan orang bagian dari kampus ini, yaitu Dion Syarif, jadi saya lebih senang sekarang" ucap Irwanto dengan senyum.
"Alasan terkuat saya juga karena putri saya yang juga berkuliah di sini" ucap Irwanto yang membuat Hilya, Syifa, bunda Lola dan ayah Dion kaget.
"Mas, apa mas Irwanto tau Hilya kuliah di sini? " tanya bunda Lola yang panik.
"Aku juga tidak tau sayang" sahut ayah Dion.
"Dan izinkan saya memperkenalkan anak saya. Sini sayang" ucap Irwanto yang memanggil putri nya dan membuat semua orang menjadi penasaran.
Hilya menjadi gemetar saat melihat yang naik adalah Tamara dan langsung memeluk Irwanto yang merupakan ayah kandung Hilya.
"Papa" ucap Tamara yang memeluk Irwanto.
"Ini adalah putri saya, Tamara Putri Wijaya. Putri kesayangan saya, saya melakukan ini karena keinginan dari putri saya, saya menjadi lebih senang jika putri saya dan putra Mahardika menjadi lebih dekat" ucap Irwanto yang membuat air mata Hilya mengalir.
Brakkk suara kursi yang bergeser saat Hilya berdiri membuat semua orang kaget. Hilya menatap ayah kandungnya dengan air mata yang mengalir, dan Irwanto menatap Hilya dengan kaget.
Hilya yang tak sanggup melihat ayah kandung nya memeluk anak lain, memilih meninggalkan aula.
"Hilya" teriak Syifa, Fia dan Kia yang pergi mengikuti Hilya.
"Dion ada apa ini? " tanya Papa Dika
"Nanti ku jelaskan, aku harus menyusul anak ku dulu" ucap Ayah Dion dan di anggukan oleh papa Dika.
"Maaf Pak Irwanto, jika anda berharap saya akan dekat dengan PUTRI KESAYANGAN anda, maka harapan anda sia-sia"ucap Zidan dengan tatapan tajam
"Karena saya sudah memiliki tunangan, dan saya sangat mencintai tunangan saya. Jika anda tidak percaya silakan bertanya pada kedua orang tua saya" ucap Zidan lalu pergi.
"Pa" rengek Tamara.
"Kamu tenang dulu sayang" ucap Irwanto pada Tamara.
Hilya berlari ke taman dan menangis membayang ucapan ayah kandungnya yang begitu mencintai anak lain.
"Hilya" ucap Syifa yang langsung memeluk Hilya
"Hilya, kamu jangan sedih ada kita" ucap Fia
Ayah Dion dan bunda Lola yang melihat Hilya sudah di temani oleh Syifa dan sahabat-sahabatnya, memilih untuk kembali ke aula untuk bertemu dengan Irwanto.
"Ayah, bunda" ucap Zidan yang baru sampai.
"Ayah titip Hilya, ada hal penting yang harus ayah selesaikan" ucap ayah Dion yang memegang pundak Zidan.
"Baik yah" ucap Zidan.
"Haaaaa.. Haaaa" tangis Hilya pecah dalam pelukan Syifa, Kia dan Fia.
"Hilya, kamu boleh nangis sekencang apapun untuk membuang semua rasa kesal di hati kamu" ucap Syifa.
"Hilya kamu gak apa-apa? " tanya Zidan yang membuat, Syifa, Kia dan Fia melepaskan Hilya dari pelukan mereka.
__ADS_1
"Lo boleh nangis sampai perasaan lo tenang, lo gak perlu nahan itu semua oke" ucap Zidan yang memeluk Hilya.
"Haaaaa.... ha.... kenapa begitu jahat" isakan tangisan Hilya semakin pecah.
"Hilya, ini kamu minum dulu" ucap Disa yang datang sambil membawa sebotol air.
"Ngapain kamu kesini? " tanya Syifa judes
"Kamu senang lihat Hilya seperti ini" sahut Kia.
"Aku cuma mau kasih minuman ini buat Hilya, biar dia lebih tenang" ucap Disa.
"Mending kamu pergi, Hilya gak butuh kamu" sahut Fia.
"Cukup" teriak Hilya
"Aku lagi gak mau dengar kalian ribut, aku butuh ketenangan sekarang, kenapa kalian malah berantem di sini" teriak Hilya yang menjabat rambutnya sendiri.
"Hilya sudah-sudah" ucap Zidan yang kembali memeluk Hilya.
"Haaaa... aku mau mereka mengerti, aku sudah di tinggalkan oleh ayah kandung ku, tolong, berikan aku sedikit waktu untuk tenang" ucap Hilya sambil menangis.
"Maafkan aku Hilya" ucap Syifa yang juga ikut mengeluarkan air mata.
"Aku yang minta maaf udah buat keributan, tolong maafkan aku" ucap Disa.
"Aku akan pergi" sambung Disa namun terhentikan oleh Zidan.
"Makasih untuk minumnya" ucap Zidan sambil menjulurkan tangannya meminta air di tangan Disa.
"Ini kak, Sama-sama" ucap Disa.
"Lo gak perlu pergi, makasih udah mau bantu buat nenangin Hilya" ucap Zidan datar.
"kamu minum dulu" ucap Zidan yang menyerahkan minuman untuk Hilya
"Makasih kak" ucap Hilya dengan mata sembab.
Mereka duduk di bangku taman, Disa masih berada di sana, Nando terus menatap Disa. Mereka masih menghibur Hilya.
"Hilya.....
...****************...
...****************...
...****************...
Hai guys dukung terus author ya
jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.
maaf jika ada kata-kata yang typo
byebye....
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...