
Bunda dan Ayah langsung memeluk Hilya, sedangkan mama Rena menangis di pelukan papa Dika.
"Hilya...." Panggil Syifa yang juga baru datang ke rumah sakit dengan Dosa, Dia dan Kia karena mendengar kabar dari Fajar.
"Hilya kamu gak apa-apa kan? " tanya Syifa yang langsung memeluk Hilya.
"Bukan aku, tapi kak Zidan... kak Zidan perutnya... perutnya... haaaaaa" ucap Hilya yang menangis dan langsung di peluk Syifa.
Hilya menangis di pelukan Syifa. Ayah dan Bunda terus mengusap rambut Hilya mereka merasa sedih melihat anaknya sekarang. Hilya terus menangis sehingga ia terduduk lemas.
"Hilya" ucap Bunda.
"Alan kenapa ini?, kenapa Zidan terluka seperti itu? " tanya papanya Alan yang bernama Niko Afandi yang juga merupakan orang terkenal dalam bisnis.
"Alan taunya Zidan di hajar sama preman, itu pun Alan tau dari Hilya" ucap Alan.
"Fajar, Rifi, kalian pasti tau sesuatu kan? " tanya papanya Rifi yang bernama Artur Adityawarman yang juga merupakan pengusaha kaya.
"Rifi, Fajar dan Hilya ingin ke club xxxx untuk mencari tahu kasus yang sedang menimpa Zidan, sampai sana Hilya lihat Zidan yang sedang berkelahi dengan preman" ucap Rifi.
"Hilya langsung menghampiri Zidan dan menahan pukulan balik yang dilakukan oleh preman itu untuk Zidan namun karena Hilya memeluk Zidan yang kena Hilya" ucap Fajar yang membuat Ayah, Bunda Dan Syifa mulai khawatir.
"Kami kalah jumlah dan terus di hajar sampai Zidan di tusuk oleh preman, saat kamu semua sudah di pegang oleh preman itu, mereka menarik Hilya yang di pelukan Zidan dan kemudian dia preman terus memukul Zidan berturut-turut, bahkan mereka memukul Zidan telan di luka tusukan itu" ucap Fajar lagi yang membuat Hilya menutup telinganya dan menangis.
"Ayah,, mereka jahat Yah, mereka.... mereka memukul kak Zidan.... mereka... haaaaaa" ucap Hilya yang kemudian menangis lagi.
Disa yang dari tadi berdiri di samping Fia dan Kia mendengar melihat Hilya kembali merasa bersalah. Dia yakin preman yang memukul Zidan juga merupakan orang yang menculiknya. Disa berjalan kebelakang dengan tatapan kosong hingga dia kembali kambuh dan memukul dirinya sendiri.
"Hah,, bodoh.. bodoh" ucap Disa yang menampar dirinya sendiri membuat semua orang kaget.
"Disa" ucap Fian dan Kia.
"Ini semua gara-gara aku, aku yang udah bikin kak Zidan, Hilya begini, aku memang bodoh, pasti mereka yang melakukan ini, mereka.... haaaaaa bodoh.. bodoh..." ucap Disa yang terus memukul dirinya sendiri dan di tahan oleh Fia dan Rifi.
"Sa udah ini bukan salah kamu, kamu korbannya" ucap Fia.
"Sa udah, berhenti nyakitin dan nyalahin diri lo sendiri" ucap Rifi.
"Kalau,,, kalau saja aku langsung mengatakan pada kalian saat pertama kali mereka melakukan itu, mungkin aku gak akan hamil dan kak Zidan gak akan seperti ini" teriak Disa yang histeris.
"Sudah... oke, semuanya akan baik-baik saja" ucap Fia.
Papa Niko menatap Alan yang mengkodekan tentang Disa.
"Dia cewek aku ceritain pa, dia korban dari masalah ini" ucap Alan yang mengerti ayahnya menanyakan tentang Disa.
Mamanya Rifi, Sarah yang pernah melihat anaknya hancur kerena dilecehkan langsung menangis dan memeluk Disa.
"Malang sekali nasib kamu nak" ucap mama Sarah.
"Kamu tidak perlu menyalahkan diri kamu sendiri, kita bakal hukum pelakunya" ucap mama Sarah lagi.
Semua keadaan menjadi riuh, semuanya berusaha saling menguatkan. Namun Hilya yang terus membayangkan pengeroyokan Zidan, sampai Pindah di pelukan Bunda.
__ADS_1
"Hilya" ucap Bunda dan Syifa yang mengetahui Hilya pingsan.
"Hilya pingsan" ucap Bunda
"Dokter tolong anak saya" teriak Ayah.
"Cepat bawa Hilya ke ruang yang sudah kita bayar itu" ucap papa Dika yang juga panik.
Hilya langsung di bawa ke ruang itu, dan salah satu dokter datang untuk memeriksa Hilya.
"Saya akan ke sana untuk mencari tahu semuanya, mereka telah bermain-main dengan kita" ucap papa Niko yang marah.
"Jangan lewatkan aku" ucap Daddy nya Fajar yang baru sampai karena beliau ada di luar negeri.
"Rena... " ucap mommy Maira yang langsung memeluk mama Rena.
"Sarah kau tidak apa-apa? " tanya mommy Maira yang melihat mata mama Sarah sembab.
"Aku sedih saat mengetahui anak ini memiliki kisah seperti putri ku yang sudah meninggal" ucap mama Sarah.
"Ya ampun, kenapa semua ini begini, siapa dalang di belakang ini semua" ucap Mommy Maira.
"Oh ya dimana Lola dan Dion? " tanya mama Maira lagi.
"Putrinya Hilya pingsan" ucap Papa Dika.
"Ya ampun" ucap mommy Maira yang ikut khawatir.
"Aku juga akan ikut, akan ku beri mereka semua pelajaran" ucap papa Artur.
Disaat mereka sedang merencanakan apa yang akan mereka lakukan, dua perawat keluar dari ruang operasi dan berlari dengan cepat.
"Ada apa? " tanya mama Rena yang panik namun tak dijawab oleh perawat itu karena buru-buru.
Setelah mengambil beberapa kantong darah mereka kembali lagi ke ruang operasi.
"Ada apa ini" tanya mama Rena lagi.
"Pasien butuh beberapa kantong darah" ucap salah satu perawat dan langsung kembali ke ruang operasi.
"Pa" ucap mama Rena.
"Sabar ma, anak kita pasti kuat" ucap papa Dika.
Setelah mengetahui keadaan anaknya ayah Dion kembali ke depan ruang operasi.
"Bagaimana Zidan? " tanya Ayah Dion.
"Dia masih di dalam, tadi perawat mengambil beberapa kantong darah untuk Zidan" ucap papa Dika.
"Dion bagaimana anak mu? " tanya Papa Niko.
"Dokter bilang dia mengalami syok traumatis" ucap ayah Dion dengan raut sedih.
__ADS_1
"Wajar Hilya trauma, dia menyaksikan langsung bagaimana Zidan di hajar dengan bruntal" ucap Fajar.
"Aku akan ke ICU sebentar untuk melihat kondisi Nando" ucap Rifi dan pergi.
Semuanya pun menunggu Zidan, dan beberapa menit kemudian dokter pun keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana keadaan anak kami? "tanya mama Rena.
"Pasien sudah melewati masa kritis, dan dia akan di pindahkan ke ruang rawat" ucap dokter itu.
"Dok pindahkan anak kami ke ruangan dekat ICU, soalnya satu lagi anak kami ada di sana" ucap papa Dika.
"Baiklah" ucap dokter itu.
"Kami akan pergi ke club itu dulu, kabari kami jika ada masalah" ucap papa Niko.
"Oke Nik, terimakasih" ucap papa Dika.
Papa Niko, papa Artur dan daddy Leon pun pergi.
Zidan di bawakan ke ruang rawat di samping ruang Hilya dan di dekat ICU. Mama Rena menangis melihat kondisi Zidan yang terbaring dan tak sadarkan diri.
Namun mama Rena sedang melihat kondisi Zidan, tak lama setelah itu para wartawan datang ke rumah sakit.
"Maafkan Pak, bu, di luar ada wartawan yang menunggu keluarga Mahardika, kami mohon kerja samanya untuk bertemu dengan mereka terlebih dahulu, karena satpam pun tak bisa mengusir mereka" ucap salah satu perawat yang membuat mama Rena dan papa Dika terkejut.
"Kami akan menemui mereka" ucap papa Dika.
"Nak kami titip Zidan" ucap papa Dika yang langsung pergi.
"Aku akan menemani kalian" ucap ayah Dion.
Mereka pun datang menemui wartawan yang sudah berkumpul di depan rumah sakit dan buat keributan.
"Itu keluarga Mahardika.....
...****************...
...****************...
...****************...
Hai guys dukung terus author ya
jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.
maaf jika ada kata-kata yang typo
byebye....
...****************...
...****************...
__ADS_1