
Mereka pun datang menemui wartawan yang sudah berkumpul di depan rumah sakit dan buat keributan.
"Itu keluarga Mahardika" ucap salah satu wartawan yang melihat keluarga mama Rena dan papa Dika keluar.
Semua wartawan langsung berlari menghampiri mama Rena dan papa Dika.
"Pak Dika, apa benar kabar yang beredar? " tanya wartawan.
"Apa benar yang di foto itu putra anda?
"Pak sebagai pengusaha sukses dan memiliki universitas sendiri, bagaimana tanggapan anda tentang foto yang sudah tersebar di media sosial?
"Bagaimana dengan wanita yang hamil itu, apakah anak bapak akan bertanggung jawab?.
Pertanyaan dari wartawan terus di lempar sehingga membuat papa Dika dan mama Rena kebingungan.
"Semua, tunggu dulu" ucap Ayah Dion namun masih saja wartawan itu melemparkan pertanyaan pada mama dan papa.
"Pak dimana putra anda sekarang? " tanya wartawan lain lagi.
"Diam kalian semua" bentak ayah Dion yang membuat semua wartawan terdiam.
"Apakah begini cara kalian mencari berita? " tanya ayah Dion lagi.
"Pak kami hanya ingin menanyakan berita itu semua" ucap wartawan.
"Dengar semua, sebelumnya saya minta maaf atas kegaduhan yang terjadi, namun perlu saya konfirmasi kalau hal yang beredar tak sepenuhnya benar" ucap papa Dika.
"Mana yang benar?, mana yang salah pak?" tanya wartawan itu lagi.
"Ada orang yang ingin menjatuhkan anak saya, jadi jangan terlalu mempercayai foto itu, tunggu kami mendapatkan bukti yang kuat untuk membuktikan anak kami tidak bersalah" ucap papa Dika lagi.
"Mendapatkan bukti atau menyembunyikan bukti? " tanya wartawan itu.
"Pasti keluarga kalian ingin menyembunyikan bukti supaya anak kalian terlindungi" ucap wartawan lagi.
"Bagaimana nasib gadis itu? " tanya wartawan lagi.
"Kalian ingin mencari kebenaran atau ingin menuduh mereka? " tanya ayah Dion yang marah.
"Apa ini didikan dari keluarga Mahardika?, mereka mendidik anaknya dengan buruk" ucap wartawan lagi.
"Dimana sekarang gadis itu, apa kalian sudah bertemu dengan mereka?" tanya wartawan itu.
Mama Rena tak bisa menjawab apa-apa, semua wartawan seolah-olah memojokkan mereka.
"Saya disini" ucap Disa yang memberanikan diri untuk keluar.
"Disa nak, masuk ke dalam" ucap ayah Dion.
"Tidak om, saya mau semuanya selesai hari ini" ucap Disa.
"Putra keluarga Mahardika yaitu Zidan Mahardika tidak bersalah, bukan dia yang membuat saya hamil, saya dilecehkan dan pelakunya menjebak kak Zidan" ucap Disa.
"Apa kamu sudah diancam? " tanya wartawan.
"Tidak saya tidak diancam, saya berkata jujur. Berhenti membuat berita yang hoaks, semua yang diterbitkan salah, salah besar" ucap Disa dengan keras.
"Atau kau juga menikmati permainan dari Zidan, dan kau ingin membelanya.
"Kamu memberikan kehormatan mu pada putra Mahardika.
"Apa kalian berpacaran?.
"Lalu kenapa di sosial media Zidan tidak pernah ada foto mu, yang ada foto wanita lain.
__ADS_1
"Apa kau menjadi wanita simpanan Zidan? "pertanyaan wartawan yang membuat Disa ketakutan dan menutup kedua telinganya.
"Tidak.... semuanya tidak benar "teriak Disa yang sudah histeris.
"Nak sudah" ucap mama Rena yang kasian terhadap Disa.
"Biar kami yang akan mengurus masalah ini, kamu masuklah ke dalam" ucap mam Rena lagi.
"Bagaimana dengan anak yang ada di kandungan mu itu? "
"Apa kau akan menggugurkannya atau akan tetap merawatnya sebagai keturunan Mahardika" Pertanyaan wartawan yang sudah membuat mama Rena jengkel.
"Kalian semua... " ucap mama Rena yang terhentikan oleh kedatangan Nando, Alan, Fajar dan Rifi.
POV ON ICU.
Beberapa alat di tubuh Nando sudah di lepaskan, namun Nando masih belum sadarkan diri. Di dalam sana sudah ada Rifi.
"Nan, gue yakin lo tau sesuatu, hari ini lagi kacau banget" ucap Rifi yang memegang tangan Nando.
"Zidan, sepupu lo juga lagi di rumah sakit, dia terluka" ucap Rifi lagi.
"Nan, lo udah cukup dong tidurnya, sekarang keadaan lagi kacau banget, belum lagi cewek yang lo suka sedang dalam masalah besar" ucap Rifi yang masih berbicara dengan Nando.
"Dia dilecehkan sampai dia hamil dan ada yang nuduh Zidan pelakunya" ucap Rifi lagi.
"Kita semua bingung sekarang, kita cuma berada di jalan buntu sekarang" ucap Fajar.
Saat Rifi sedang berbicara dengan Nando, Alan masuk ke ruang ICU.
"Ada apa Lan? " tanya Rifi yang melihat akan masuk
"Wartawan datang nyariin tante Rena dan om Dika" ucap Alan yang membuat Rifi terkejut
"Ini aneh banget, pasti ada yang mau ngehancurin Zidan dan keluarganya" ucap Alan lagi.
"Mereka lagi namun wartawan-wartawan itu, mereka didampingi oleh ayah Dion" ucap Alan.
"Kita bener-bener berada di jalan buntu tau gak, Nando belum sadar, sekarang Zidan lagi ditambah Hilya yang mengalami syok traumatis" ucap Rifi yang memegang kepalanya.
Tiba-tiba ponsel Alan berbunyi.
"Halo Jar" ucap Alan
("Disa keluar buat nemuin wartawan"ucap Fajar.)
"Apa, gue ke sana sekarang" ucap Alan dan langsung mematikan panggilan.
"Ada apa Lan" tanya Rifi.
"Disa keluar, buat nemuin wartawan" ucap Alan yang panik.
"Shittt kita ke sana sekarang" ucap Rifi yang ingin pergi, namun langkanya terhenti saat melihat tangannya ditahan.
Ternyata saat Rifi dan Alan sedang ngobrol berdua tanpa mereka sadari Nando membuka matanya, dia juga mendengar semua obrolan Alan dan Nando yang membuat dia marah.
Mengetahui Alan dan Rifi akan pergi, Nando langsung mencapai tangan Rifi.
"Bawa gue ke sana" ucap Nando yang menahan tangan Rifi dan melepaskan alat bantu nafasnya.
"Lan, Nando sadar, cepat panggil dokter" ucap Rifi.
Alan langsung menekankan tombol pemanggil dokter.
"Gue mau bantu Disa, bawa gue ke sana" ucap Nando yang ingin bangun namun di tahan oleg Rifi dan Alan.
__ADS_1
"Nan, lo masih lemes, mending nanti aja lo ketemu Disa" ucap Alan.
"Gue mau bantuin Disa bang, kemarin gue gagal nolongin dia, hari gue mau nolongin dia" ucap Nando yang sudah mengeluarkan air matanya.
"Maksud lo? " tanya Alan yang kebingungan.
Tak lama kemudian dokter datang.
"Dok teman kami" ucap Alan.
Melihat Nando yang sudah sadar dokter langsung memeriksa kondisi Nando.
"Wah ini keajaiban besar, dia keluar dari masa kritis dan juga masa komanya" ucap Dokter.
"Dok saya boleh keluarkan, saya mau nolongin teman saya" ucap Nando.
"Tapi kondisi anda masih lemas" ucap dokter.
"Dok please, saya harus ketemu wartawan itu segera" ucap Nando yang ngotot.
"Baiklah, ambil kursi roda dan kalian boleh membawa pasien keluar sebentar, ingat hanya sebentar, karena pasien harus menjalankan pemeriksaan lain lagi" ucap dokter.
"Baiklah dok" ucap Alan yang dengan cepat mengambil kursi roda.
Dokter melepaskan beberapa alat yang masih terpasang di tubuh Nando dan hanya menyisakan infus. Alan dan Rifi langsung membawa Nando duduk di kursi roda dan mereka langsung menuju ke depan rumah sakit yang sudah di penuhi wartawan dan juga ada mama Rena, papa Dika, ayah Dion dan Disa.
Mereka mendengar wartawan yang juga terus memojokkan mama Rena, papa Dika dan Disa.
POV OF.
"Bagaimana dengan anak yang ada di kandungan mu itu? "
"Apa kau akan menggugurkannya atau akan tetap merawatnya sebagai keturunan Mahardika" Pertanyaan wartawan yang sudah membuat mama Rena jengkel.
"Kalian semua... " ucap mama Rena yang terhentikan oleh kedatangan Nando, Alan, Fajar dan Rifi.
"Disa gak bersalah" ucap Nando yang duduk di kursi roda.
"Nando" ucap mama Rena yang langsung memeluk Nando.
"Kamu sudah sadar" ucap mama Rena yang sudah menangis.
"Tante tenang saja, bang Zidan gak salah" ucap Nando.
"Kalian hanya menggali informasi yang salah, coba kalian cari tau siapa yang menyebarkan foto itu dan wawancarai dia, karena hanya dia yang tau semuanya" ucap Nando.
"Beberapa hari yang lalu, tepatnya malam saya ingin pergi ke rumah om Dion, di perjalanan saya melihat Disa di bekap oleh beberapa preman sampai pingsan, saat saya ingin menolong Disa, saya di keroyok sampai saya koma di rumah sakit dalam beberapa hari kebelakang" ucap Nando yang membuat semuanya terkejut termasuk Disa.
"Jadi.....
...****************...
...****************...
...****************...
Hai guys dukung terus author ya
jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.
maaf jika ada kata-kata yang typo
byebye....
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...