CINTA UNTUK HILYA

CINTA UNTUK HILYA
PINGSAN


__ADS_3

Rifi terus melihat kearah Fia dengan khawatir, lalu tangan Rifi menggenggam tangan Fia.


"Kalau kamu sakit ataupun merasa gak nyaman, kasih tau sama aku ya" ucap Rifi lembut membuat wajah Fia memerah.


"Eu-eumm oke" ucap Fia yang salah tingkah.


"Eheummmm, jadian kaleee" ucap Fajar.


"Ganggu aja nih orang" ucap Kia.


"Kok lo sewot sih" ucap Fajar.


"Berisik" ucap Kia judes.


"Udah, ayo pesan makanan aku udah laper" Hilya yang sudah kelaparan.


"Aku yang pesan aja" ucap Alan.


"Kayak biasa kan? " tanya Alan dan mendapat anggukan dari semuanya.


"Mbok, seperti biasa ya" teriak Alan.


"Siap, tunggu bentar ya den" ucap Mbok kantin.


"Yeee, modal teriakan doang" ucap Fajar.


"Ya penting gue ada inisiatif" ucap Alan.


"Sa, kamu ada kelas lagi? " tanya Syifa.


"Udah engga" ucap Disa.


"Kita jalan-jalan yok" ucap Syifa.


"Ayo... " ucap lama kita gak jalan berlima.


"Aku juga pengen kita punya momen berlima kayak dulu" ucap Fia yang tersenyum.


"Tapi kamu yakin gak apa-apa? " tanya Hilya.


"Yakin" ucap Fia sambil tersenyum.


"Aku ikut ya" ucap Nando dengan semangat.


"Yeee dimana ada Disa di situ ada lo" ucap Fajar.


"Sirik aje lo bang" ucap Nando.


"Padahal dia juga sama kayak lo Nan" ucap Zidan.


"Eh-eh maksudnya apaan bos? " tanya Fajar.


"Lu juga mau ngintil Kia kan" ucap Alan.


"Eh ngomong apa lo" ucap Fajar yang panik.


"Panik dikit gak ngaruh" ucap Rifi santai.


"Apaan sih" teriak Kia.


"Cieeeee" ucap Syifa, Hilya, Disa dan Fia.


"Ehh.. " ucap Kia yang akhirnya berhenti karena kedatangan Tamara geng.


"Hai Zidan" ucap Tamara.


"Ehh datang mak Lampir" ucap Fajar yang memasang muka memelas.


"Diam lo Fajar" ucap Tamara.

__ADS_1


"Gak lihat dari tadi kak Fajar Diam" ucap Kia yang membela Fajar dan membuat Fajar tersentuh.


"Dih apaan sih lo" ucap Vina.


"Ekor Diam" ucap Kia.


"Lo.. " ucap Tamara yang langsung di sela oleh Zidan.


"Ngapain sih lo kesini? " tanya Zidan.


"Please gak usah ganggu gue hari ini, kalau bisa selamanya" ucap Zidan.


Tamara.


"Giliran sama yang udah gak pera.. wan aja lo temenin" ucap Tamara yang menyindir Disa.


"Gak sadar diri mbak? " tanya Fia yang kesal.


"Kok lo marah sih, padahal gue ngomongnya fakta loh" ucap Tamara lagi.


"Brakkk, terus kamu pikir, kamu masih PERA...WAN? " tanya Fia yang sudah berdiri dari duduknya dan membuat seisi kantin melihat kearah mereka.


"Maksud lo apa ngomong begitu" ucap Tamara yang marah.


"Gak udah pura-pura begok deh" ucap Fia.


"Lo gak sopan banget sih jadi adik letting" ucap Rosa pada Fia.


"Terus kalian sopan sebagai kaka letting? " tanya Fia balik.


"Lo... " ucap Tamara yang ingin menyerang Fia namun langsung di tahan oleh Rifi.


"Mau apa lo?tanya Rifi.


" Minggir Rif, gue mau kasih pelajaran sama bocah sialan itu"ucap Tamara.


"Dia bocah sialan" ucap Tamara.


"Gak sadar diri ya, ngaca sebelum ngatain orang, kayak lu masih PERA.. WAN aja" teriak Fia dibelakang Rifi.


"Berani lo sama gue" ucap Tamara.


"Kamu pikir aku takut?, engga ka... " ucap Fia yang kemudian terdiam karena kembali merasa pusing dan langsung memegang baju belakang Rifi.


"Fia lo gak apa-apa? " tanya Rifi yang langsung berbalik badan.


"Brughhh" Fia jatuh pingsan dengan darah yang keluar dari hidungnya dan dia langsung jatuh ke dalam pelukan Rifi.


"Fia" teriak Hilya, Syifa Kia dan Disa yang panik.


"Fia, Fia, hey bangun" ucap Rifi yang khawatir.


"Gue bawa dia ke ruang kesehatan" ucap Rifi.


"Kak, bawa ke rumah sakit aja" ucap Hilya.


"Oke, Dan gue pinjam mobil lo, soalnya gue bawa motor hari ini" ucap Rifi.


"ini kuncinya" ucap Zidan.


"Ini kunci motor gue" ucap Rifi yang langsung mengangkat tubuh Fia menuju ke mobil.


"Aku ikut satu mobil Fia deh" ucap Kia


"Iya, kita ketemu di rumah sakit" ucap Hilya.


"Belum apa-apa udah pingsan, keluar darah lagi dari hidungnya, mending mati aja napa sih" ucap Tamara yang memancing emosi Hilya.


"Plakkkkkk" satu tamparan keras diberikan pada Tamara oleh Hilya yang membuat semua orang terkejut.

__ADS_1


"awwwww, lo gila ya" Tamara yang meringis kesakitan.


"Setan lo ya, gue udah benar-benar benci sama wanita sialan kayak lo, gue jijik lihat wanita ular kaya lo anj.. ing" ucap Hilya yang membuat semua orang terkejut karena baru kali ini Hilya ngomong kasar.


"Lo sok-sokan ngatain orang gak punya pera..wan lagi sedangkan lo sendiri juga udah gak punya" bentak Hilya.


"Jaga bacot lo ya" ucap Tamara.


"Lo yang jaga bacot lo, gue udah gedeg lihat manusia berhati iblis kayak lo. Lo ngerasa paling sempurna, perfect gitu" ucap Hilya lagi.


"Gak usah bangga, hidup aja hasil ngerampas kebahagiaan orang. Lo udah ambil ayah gue, lo bully sahabat gue, sekarang lo mau ambil calon suami gue? lo pikir lo bakal bisa" bentak Hilya lagi dan lagi.


"Aku peringatkan untuk terakhir kalinya, jauhi sahabat gue dan juga kaka Zidan, kalau engga gue bakal bikin lo malu, gue bakal sebarkan video bejad lo" ucap Hilya yang berhasil membuat Tamara bungkam.


"Lo berani banget ngomong gitu" ucap Rosa yang membela Tamara.


"Terus kenapa gue harus takut? " tanya Hilya yang sudah benar-benar murka.


"Sayang udah jangan ladenin manusia seperti mereka" ucap Zidan


"Kita ke rumah sakit sekarang" ucap Zidan yang membawa Hilya pergi.


"Beruntung lo semua karena kita buru-buru, kalau engga udah gue jahit tu mulut sialan lo" ucap Fajar.


Mereka pun langsung membawa Fia ke rumah sakit. Rifi menyetir mobil dengan perasaan khawatir, matanya seketika memerah menahan tangis.


"Kak hati-hati nyetirnya" ucap Kia yang duduk dibelakang memangku Fia.


"Gak udah ngebut-ngebut" Sambung Kia.


Rifi tak menghiraukan ucapan Kia, dia hanya terus menyetir hingga akhirnya dia sampai di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit Rifi langsung mengendong tubuh Fia dan berlari masuk ke rumah sakit.


"Dokter,, dokter" teriak Rifi yang membuat para perawat langsung mengambil brankar untuk menidurkan Fia.


"Ada apa dengan Fia? " tanya dokter Sena.


"Dia pingsan dok" ucap Rifi sambil mendorong brankar Fia menuju ke sebuah ruangan.


"Kamu tunggu di luar dulu" ucap dokter Sena.


"Dok, tapi Fia... " ucap Rifi yang sangat khawatir.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin" ucap dokter Sena.


"Kak, biarkan dokter yang memeriksa Fia dulu" ucap Kian.


Rifi membiarkan dokter Sena menutup pintunya.


"Kia" teriak Hilya yang berlari menuju kearah Kia.


"Rif......


...****************...


...****************...


...****************...


Hai guys dukung terus author ya


jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.


maaf jika ada kata-kata yang typo


byebye....


...****************...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2