
Tak lama setelah semuanya di setting, Tamara pun sampai ke tempat Zidan, karena memang mereka sudah mengirim lokasinya ke Tamara melalui ponsel Fajar.
"Zidan" teriak Tamara yang sudah tiba.
"Lo udah sampe? " tanya Zidan sambil melirik ke kiri dan kanan untuk memastikan teman-temannya sudah sembunyi.
"Udah dong, makanya aku di sini" ucap Tamara dengan nada centilnya.
"Aku capek tau nyetir sendiri" ucap Tamara yang manja dan membuat Zidan tak nyaman apa lagi melihat pakaian Tamara.
(ilustrasi baju yang Tamara kenakan).
("Gak salah style lo"batin Zidan saat melihat Tamara).
"Eumm, yaudah yok duduk dulu" ucap Zidan yang mengajak Tamara duduk di depan rumah itu.
"Tumben kamu ngajak aku ke sini?, ada apa nih? " tanya Tamara yang duduk mepet dekat Zidan.
"Gak ada apa-apa sih, cuma pengen aja" ucap Zidan yang sedikit menjauh dari Tamara.
"Kamu gak takut cewek kamu marah? " tanya Tamara yang terus mendekati Zidan.
"Engga kok, gue juga gak peduli kalau dia marah" ucap Zidan yang membohongi Tamara
("Gak taik lu, tadi aja gue hampir berantem sama cewek gue gara-gara lu"batin Zidan).
"Oh lo mau minum gak? " tanya Zidan.
"Mau, aku juga harus banget nih" ucap Tamara dengan nada manja.
"Ntar ya gue ambil dulu" ucap Zidan.
"Kamu gak nyuruh aku masuk? " tanya Tamara.
"Habis minum deh baru kita masuk, soalnya gue masih pengen nikmati suasana diluar sama lo" ucap Zidan yang langsung masuk ke rumah itu, sedangkan Tamara yang mendengarkan ucapan Zidan menjadi salting.
"Aaaa gue gak peduli Abian masuk penjara, buang penting Zidan sekarang milik gue" ucap Tamara.
"Kayaknya gue harus tampil lebih sexy deh, supaya Zidan tergoda dengan pesona seorang Tamara" ucap Tamara yang menurunkan bajunya sehingga memperlihatkan bahunya yang lebih jelas.
(ilustrasi baju Tamara setelah memperlihatkan bahunya).
Zidan yang baru keluar dengan botol air di tangannya terkejut melihat Tamara.
("Cepet amat tuh baju lu turun. lu pikir gue bakal ke goda modelan kayak lu, apa lagi udah banyak di pake "batin Zidan yang masih berdiri di belakang Tamara).
(" Kalau aja Hilya yang make baju kayak gitu, udah gue seret ke kamar, lah lu monyet gue seret kemana?, kebun binatang? "batin Zidan lagi).
"Eh kamu kenapa bengong di situ? " tanya Tamara yang melihat Zidan di belakangnya.
("Gue yakin Zidan pasti udah tergoda dengan gue, hahahaa bye bye Hilya, nanti gue kirim foto Zidan diatas ranjang sambil meluk gue"batin Tamara.
"E-engga kok" ucap Zidan yang langsung duduk kembali.
"Eh sorry ya, aku kepanasan makanya bajunya aku buat gini" ucap Tamara yang mengoda Zidan.
"Hahahha, kepanasan ya lo, mau gue keluarin AC?, nanti gue pasangin di pohon itu" ucap Zidan yang menunjuk kearah pohon besar.
"Hahaha kamu bisa aja" ucap Tamara yang masih menggoda Zidan.
Dilain sisi Alan, Fajar, Rifi dan Haris yang sendang melihat Zidan dan Tamara dari kejauhan juga ikut marasa ilfil dengan Tamara.
"Gilakkk, semoga bos kita gak kegoda deh sama KUMUR" ucap Fajar yang membuat, Alan, Rifi dan Haris kebingungan.
"Apaan tuh kumur? " tanya Rifi.
"Kuntilanak murah khekhekhe" ucap Fajar sambil nyengir.
"Makin bloon nih anak" ucap Rifi.
"Teman lu" ucap Haris.
"Diam berisik" ucap Alan yang membuat semuanya terdiam.
"Oh ya nih minumannya " ucap Zidan sambil memberikan sebotol air ke Tamara
__ADS_1
"Sini gue buka" ucap Zidan yang kembali mengambil air tersebut untuk dibuka karena dia gak mau Tamara curiga jika tutup botolnya yang sudah tak lagi tersegel.
("Tuh kan, Zidan udah mulai ke goda sama gue"batin Tamara yang senyum sendiri).
("Bentar lagi pasti dia akan menjadi milik gue"batin Tamara).
"Nih minum" ucap Zidan yang kembali memberikan botol minuman yang sudah ia buka.
"Makasih Zidan, aku minum ya" ucap Tamara dan mendapatkan anggukan dari Zidan.
"Glukk... gluk..glukkk" Tamara meneguk air itu tanpa curiga apapun.
"Eummm seger banget" ucap Tamara.
"Aku senang deh, bisa berduaan sama kamu kayak gini" ucap Tamara yang mulai mengelus paha Zidan.
"Iya" sahut Zidan sambil pura-pura senyum.
"Eughh Zidan aku tuh sayang sama kamu... eumm.. hehehe" ucap Tamara yang sudah mulai terkena efek dari obat itu.
Melihat obat sudah bekerja, Alan, Rifi, Haris dan Fajar pun menghampiri Zidan.
"Kayaknya obatnya udah bekerja deh" ucap Haris.
"Sekarang kita bawa dia ke dalam" ucap Alan.
"Bawain" ucap Zidan.
Fajar pun membawa Tamara masuk ke dalam rumah itu dan menempatkan dia di sofa.
"Kita mulai sekarang" ucap Zidan.
"Har, lu yang nanya" ucap Alan.
"Lah kok gue? " tanya Haris.
"Iya lo aja lah" ucap Alan.
"Tap... " ucap Haris yang langsung di sela oleh Rifi.
"Menurut buku panduan, efeknya akan hilang dalam waktu 30 menit" ucap Rifi.
"Tenang kita datang kok, kalau di undang" ucap Fajar.
"Bawa kado yang besar" ucap Haris yang bercanda.
"Nanti gue kasih rumah" ucap Zidan.
"Bacot lu" ucap Haris yang duduk di depan Tamara.
Obat itu membuat Tamara hanya duduk bengong dengan tatapan kosong, namun dia akan menceritakan apapun yang ditanya dan dijawabnya dengan jujur. Zidan duduk di belakang kamera dan menyaksikan semuanya.
"Nama lo siapa? " tanya Haris yang mencoba menanyakan
"Tamara Putri Wijaya" ucap Tamara.
"Eum oke, Lu kenal sama yang namanya Irwanto dan Abian? " tanya Haris lagi
"Irwanto papa tiri sekaligus sugar daddy gue" ucap Tamara yang membuat semuanya terkejut.
"Sedangkan Abian, teman ranjang gue" ucap Tamara lagi.
"Gila ni cewek" ucap Fajar pelan.
"Ssstttt" ucap Rfii.
"Bisa gak lo ceritain dari pertama pertemuan lo dengan Irwanto" ucap Haris lagi.
"Gue pertama kali bertemu dengan papa saat di Bar, gue suka lihat papa dan begitu juga dengan papa, akhirnya gue dan papa berhubungan dan hubungan kami masuk ke lebih dalam lagi" ucap Tamara.
"Gue sempat Hamil anaknya papa, tapi gue menggugurkannya karena Gue gak mau malu" ucap Tamara lagi.
"Karena gue gak mau jauh dari papa, gue memperkenalkan mama pada papa sehingga keduanya memilih untuk menikah setelah membuat rencana membunuh istri dari papa" ucap Tamara lagi.
"Setelah sehari seminggu istri pertama papa meninggal, dia kembali ke jakarta untuk menikah dengan mama, walaupun dia bilang pada anak kandungnya dia menikah setelah 3 bukan lebih istri pertamanya meninggal, itu semua bohong" ucap Tamara.
"Papa tau betul bahwa anaknya tak akan mau ikut dengannya ke Jakarta, apalagi datang untuk menghadiri pernikahan papa dan mama gue, jadi dia bilang pada anaknya yang ternyata Hilya, kalau dia menikah ketika tiga bulan istri pertamanya meninggal" ucap Tamara lagi yang membuat Zidan menahan emosi.
"Lo masih berhubungan dengan Irwanto saat dia udah jadi papa lo? " tanya Haris yang kerasa jijik dengan Tamara.
__ADS_1
"Bahkan jika mama sudah tidur, papa akan datang ke kamar gue" ucap Tamara yang sukses membuat Zidan, Alan, Rifi, Fajar maupun Haris terkejut.
"Sampai sekarang? " tanya Haris dan mendapatkan anggukan dari Tamara.
"Terus hubungan lo dan Abian? " tanya Haris.
"Dia sempat mergokin gue dan papa di hotel, terus di situ Abian juga ikut bersama kami melakukan hal itu, dan hati itu gue, papa dan Abian melakukannya bersama" ucap Tamara yang sukses membuat Fajar mual.
"uuweeekkk,," Fajar yang ingin muntah,
"Sumpah gue udah gak kuat dengannya, gue tunggu di luar" ucap Fajar yang pergi ke luar.
"Gue juga ikut" sahut Rifi.
"Cepat lanjutin Har" ucap Zidan.
"Setelah kejadian itu" tanya Haris.
"Abian merekam kejadian malam itu, lalu dia menjadikan rekaman itu sebagai senjatanya dan mengancam kami" ucap Tamara.
"Dia meminta papa untuk menjodohkan dia dengan Hilya apapun caranya, karena papa tak berhasil menjodohkan Abian dam Hilya, akhirnya papa membuat rencana untuk menjebak Zidan dan Disa, gunanya untuk membuat Hilya benci dengan Zidan" ucap Tamara yang membuat Zidan marah.
"Brengsek" ucap Zidan yang ingin menghampiri Tamara.
"Sabar Dan, dikit lagi" ucap Alan.
"Abian setuju dengan itu dan dia mulai menculik Disa, dan melakukan rencana itu. gue harus terus melayani Abian sampai rencananya berhasil, karena gue juga ingin Zidan dan Hilya saling membenci sampai akhirnya Zidan menjadi milik gue" ucap Tamara yang sukses membuat wajah Zidan merah karena emosi.
"Bukannya lo suka sama papa Tiri lo? " tanya Tamara.
"Cuma buat untuk saling memuaskan nafsu, gue cinta sama Zidan, gua bakal ngelakuin apapun untuk mendapatkan Zidan" ucap Tamara.
"Sialan" ucap Zidan.
"Tahan dulu" ucap Alan yang menahan Tamara.
"Har sebaiknya udah cukup, kita akhiri di sini aja" ucap Alan yang melihat Zidan semakin emosi.
"Sebaiknya kita bawa dia ke mobilnya dan kita balik ke Jakarta, nanti dia juga sadar sendiri" ucap Alan lagi.
"Oke" ucap Haris yang membawa Tamara ke mobilnya.
Alan mengambil semua kamera yang sudah mereka setting tadi dan langsung keluar dari rumah itu.
"Udah selesai? " tanya Rifi.
"Udah" ucap Alan.
"Kita balik ke Jakarta sekarang" ucap Alan.
"Mana Fajar? " tanya Alan lagi.
"Tuh di mobil, dari tadi dia muntah terus, sekarang dia mulai pusing" ucap Rifi.
"Kita balik sekarang" ucap Haris.
"Ayo" ucap Rifi.
"Ntar gue kunci rumah dulu" ucap Haris.
Mereka pun langsung menuju ke mobil dan langsung pergi dari sana.
...****************...
...****************...
...****************...
Hai guys dukung terus author ya
jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.
maaf jika ada kata-kata yang typo
byebye....
...****************...
...****************...
__ADS_1