
Didalam rumah Disa mendengar ucapan dari Hilya maupun Nando. Disa hanya bisa terduduk dan menangis, mengingat setiap perkataan kasar yang ia keluarkan untuk orang-orang yang telah membantu dia terutama pada Hilya.
"Maafkan aku Hil, maafkan aku semuanya. Aku malu berteman dengan kalian, aku malu jika suatu saat kelian mengetahui aku sudah menjadi perempuan kotor. Aku gak mau kalian terseret dalam masalah besar ini" batin Disa sambil menangis.
"Aku harap kalian semua bisa selalu bahagia tanpa harus masuk dalam masalah aku, maafkan aku, hikssss... hikss... " sambung Disa.
Di mobil Hilya hanya terdiam duduk bersender dan menatap keluar dengan tatapan kosong.
Syifa, Alan yang berada di mobil yang sama dengan Hilya mencoba untuk mencairkan suasana.
"Eh kita ke taman yok" ucap Alan
"Bener banget, ke taman yok jalan-jalan" sambung Syifa.
"Aku mau pulang aja" ucap Hilya yang memejamkan matanya.
"Hil... " ucap Syifa yang langsung disela oleh Hilya.
"Aku mau pulang Syifa" ucap Hilya dengan suara yang gemetaran menahan tangis.
"Kita pulang aja" ucap Zidan dengan tatapan dingin.
"Mulai besok gue gak mau lihat lo dekat lagi sama tuh cewek" ucap Zidan yang fokus nyetir, namun tak ada respon apapun dari Hilya.
Alan menatap Syifa yang terus melihat kearah Hilya dengan raut wajah sedih. Sedangkan di mobil Rifi, mereka juga membahas kejadian tadi.
"Kasian gue sama si Hilya, udah panik sama tuh cewek aneh, datang ke rumah dia buat mastiin keadaan dia, eh malah ngebentak Hilya" ucap Fajar.
"Disa benar-benar keterlaluan ya, dia kenapa sih" ucap Kia yang kesal.
"Mending lo pada jauhi aja tuh cewek" ucap Fajar lagi.
"Kalau itu semua sama Hilya deh" ucap Fia
"Hilya tuh orangnya baik banget, dari dulu masa Disa sedih, Syifa sedih bahkan kita dalam masalah, Hilya selalu bantuin kita kok, jadi aku gak yakin sih Hilya bakal jauhi Disa" ucap Fia.
"Mending kita semua jauhi dia aja, toh dia yang minta kan" ucap Nando dengan tatapan kosong
"Lo yakin Nan, mau jauhi Disa? " tanya Rifi
"Dia yang mintakan" ucap Nando lagi
"Kita semua gak tau apa yang terjadi, jadi biarin aja waktu yang nentuin semua, kalian tinggal jalanin aja apa yang udah tersedia" ucap Rifi yang fokus nyetir.
"Oh ya lo berdua mau kita anatar ke rumah lo masing-masing atau ke rumah Hilya? " tanya Rifi
"Kita kumpul di rumah Hilya aja dulu " ucap Fia.
Mereka pun sampai di rumah Hilya, dan Hilya langsung masuk ke kamarnya.
"Hil... Hilya... " teriak Syifa yang melihat Hilya langsung masuk ke rumah.
"Hilya tunggu" teriak Syifa lagi yang berhasil menahan Hilya.
__ADS_1
"Hilya kamu gak usah pikirin ucapan Disa tadi ya" ucap Fia.
"Jauhi aku kalau kalian gak mau mendapat masalah" ucap Hilya dengan air mata yang sudah mengalir dan pergi.
Syifa mengepal tangannya karena marah.
"Neng kenapa? " tanya bik Murni, namun Syifa tak menjawab malah pergi.
"Eh Syifa mau kemana? " tanya Fia sambil teriak
"Aduh ini teh kenapa? " tanya bik Murni yang panik
"Masalah kecil kok bik" ucap Alan
"Biar gue yang nyusul tuh bocah, lo pada di sini aja atau balik aja terserah" ucap Alan yang pergi.
Syifa memanggil taksi yang lewat di depan rumah, dan dia langsung naik ke dalam taksi.
"Syifa" teriak Alan
Alan langsung masuk ke mobilnya dan mengejar taksi yang di tumpangi oleh Syifa. Sedangkan di dalam rumah Hilya, Zidan meminta mereka semua untuk pulang.
"Mending lo pada balik aja dulu, biar Hilya lebih tenang" ucap Zidan
"Lo berdua antar mereka pulang" ucap Zidan pada Fajar dan Rifi.
"Oke" sahut keduanya.
"Tapi kita masih mau di sini" ucap Fia.
Mereka pun pergi dari rumah Hilya, sedangkan Nando masih berdiri membeku di sana.
"Lo duduk aja di situ dulu, pulang bareng gue" ucap Zidan
"Tunggu bentar" sambung Zidan.
"Bik tolong buatkan dia minuman yang dingin" ucap Zidan pada bik Murni.
"Baik den" ucap bik Murni.
Zidan pergi menuju ke kamar Hilya.
Tok.... tok... tok... Zidan terus mengetuk pintu kamar Hilya namun tak di bukakan eh Hilya.
"Mau menyendiri sampe kapan lo? " tanya Zidan di balik pintu kamar Hilya
"Sebenarnya tadi gue ke sini mau ngakak lo ke rumah gue, Julian kangen sama lo, cuma tadi lo duluan yang ngajak gue ke sana, ya gue mau-mau aja" ucap Zidan yang masih di depan kamar Hilya.
"Ya kalau gue tau bakal gini, mending gue langsung aja bawa lo ke rumah gue" ucap Zidan.
"Hil,,,, Julian ngirim pesan terus nih, minta lo cepat datang ke sana, gue harus balas apa? " tanya Zidan.
"Oke gue balas aja lo gak bisa ya, walaupun nanti Julian bakal sedih sih, cuman gak akan masalah deh kayaknya" ucap Zidan lagi.
__ADS_1
Zidan terus membujuk Hilya untuk membukakan pintu kamarnya. Sedangkan di sisi lain Syifa sudah sampai lagi di depan rumah Disa, begitu pun Akan yang mengikuti Syifa tadi.
"Syif,,, Syifa" ucap Alan yang menarik tangan Syifa yang terlihat marah.
"Apaan sih kak, lepasin"ucap Syifa yang kesal.
"Hey, sahabat lo lagi butuh lo sekarang, mending kita balik" ucap Alan
"Gak" ucap Syifa yang langsung menekankan bel rumah Disa.
tong... tong.... tong... tong... bunyi bel berkali-kali yang dilakukan oleh Syifa.
"Kita balik aj... " ucap Alan yang kemudian terdiam saat Disa keluar dari rumahnya.
"Kalian tekan bel rumah orang bis.. " ucap Disa dengan cepat yang akhirnya terdiam saat melihat Syifa.
"Ngapain lagi ke sini? " tanya Disa dengan memasang wajah cueknya
Plakkkkkk satu tamparan mendarat di pipi Disa karena ulah Syifa membuat Alan terkejut.
"Apa-apaan sih kamu Syif" ucap Disa yang meninggikan suaranya.
"Kamu teh manusia yang gak bisa ngucapin terimakasih ya, kamu tuh manusia egois" ucap Syifa
"Ingat gak dulu saat kamu sedih, Hilya yang selalu bersama kamu. Bahkan saat Hilya sedang menemani almarhumah bundanya di rumah sakit dia masih nyempetin buat jemput kamu yang kabur dari rumah" ucap Syifa dengan suara lantang.
"Emang masalah apa sih yang kamu hadapi, sampai kamu nyalahin Hilya sebagai biang masalah dalam hidup kamu, masalah apa? " teriak Syifa yang matanya memerah.
"Asal kamu tau ya, orang yang kamu anggap biang masalah di hidup kamu teh, dia yang selalu berdiri di depan untuk ngelindungin kamu dari si pembully itu" ucap Syifa.
"Gak bisa kah kita seperti dulu lagi Sa, Hilya benar-benar sudah melupakan Abian dalam hidupnya, bahkan Hilya membenci Abian yang telah membuat kamu begini Disa" ucap Syifa yang sudah menangis.
"Sadar Disa sadar, kamu teh harus sadar. Kamu bukan Disa yang dulu kami kenal, sampai kapan kamu mau nyakitin Hilya terus, sampai kapan kamu mau buat Hil... " ucap Syifa yang kemudian langsung disela oleh Disa.
"Stopp.. teriak Disa yang membuat Syifa dan juga Alan kaget.
"Berhenti.....
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Hai guys dukung terus author ya
jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.
maaf jika ada kata-kata yang typo
byebye....
__ADS_1
...****************...
...****************...