
Hilya masih belum bisa tidur, dia masih kepikiran tentang Julian. Ingin sekali rasa Hilya membawa Julian bersamanya, namun ia tak mungkin melakukannya karena melihat posisi bunda Lola dan ayah Dion.
Lama berpikir Hilya pun akhirnya tertidur dengan pulas. Keesokan harinya Hilya dan Syifa sudah siap untuk ke kampus. Syifa dan Hilya sedang sarapan bersama dengan Ayah dan Bunda.
"Assalamu'alaikum tante" ucap Zidan yang baru datang
"Wa'alaikum salam" ucap mereka barengan.
"Eh Zidan, sini sarapan bareng" ucap Bunda Lola
"Makasih tante" ucap Zidan yang langsung duduk di samping Hilya
"Dih langsung mau, gak ada basa basi dulu" ucap Hilya
"Ngapain harus basa basi, orang gue makan di rumah calon mertua gue sendiri" ucap Zidan yang membuat semuanya tertawa kecuali Hilya.
Mereka pun sarapan bersama dan setelah itu langsung berangkat ke kampus. Di perjalanan Hilya yang duduk di depan dengan Zidan hanya diam dan Syifa juga hanya berbicara sekali-kali.
"Eh itu Disa kan" ucap Hilya yang membuat Syifa melihat kearah yang di tunjuk Hilya
"Eh iya bener, kok dia jalan kaki ya" ucap Syifa
"Kak berhenti dulu dong" ucap Hilya
Hilya dan Syifa turun dari mobil,mereka menghampiri Disa.
"Disa" panggil Hilya fan Syifa
"Ka..kalian, kalian ngapain?" tanya Disa yang gugup
"Kita mah ke kampus" ucap Syifa
"Kamu kenapa jalan kaki?" tanya Hilya
"Gak kok tadi aku di antar sama ayah aku, cuma karena tempat kerja ayah aku dan kampus berlawanan arah, jadi aku turun di sini" ucap Disa.
"A..aku duluan ya" ucap Disa lagi
"Bareng kita aja" ucap Hilya yang tersenyum
("Aduh Hilya kamu teh jangan begini, kamu gak perlu baik sama aku, rasa bersalah ku menjadi lebih dan lebih lagi"batin Disa)
"Gak apa-apa aku bakal naik taksi kok" ucap Disa yang merasa gak enak.
"Udah bareng kita aja" ucap Syifa yang melihat Disa menatap Hilya
"Udah gak perlu ngerasa gak enak sama kita, ayok" ucap Syifa yang menarik tangan Disa.
Hilya tersenyum melihat tingkah Syifa. Mereka pun masuk ke dalam mobil.
"Kak Zidan kasih tumpangan buat sahabat aku satu lagi ya" ucap Hilya
"Ayo jalan nanti telat" ucap Syifa.
Zidan pun melajukan mobilnya dan setelah sepuluh menit kemudian mereka pun sampai ke kampus.
Tamara geng kesel melihat Hilya yang di bukakan pintu oleh Zidan, Tamara menjadi lebih kesal saat melihat Disa juga pergi bareng mereka.
"Sialan ya tuh cewek, dia langsung bisa baikan sama si cewek murahan itu" ucap Tamara yang kesal.
"Tau tuh, munafik banget" sahut Vina
"Dasar muka dua, di depan kita aja benci sama si cewek ini, tapi di belakang kita malah berteman" ucap Tamara yang melihat Hilya, Syifa dan Disa lewat di dekat mereka.
__ADS_1
"Aku duluan ya, terimakasih tumpangannya" ucap Disa pada Hilya dan Syifa
"Kenapa lo mau duluan, malu ketahuan pernah berbuat jahat sama mereka?" tanya Rosa
"Gak tau malu banget, baru aja kemarin mau celakain orang, tapi sekarang udah sok-sokan deketin lagi" sindir Vina
"Susah kalau sama cewek kampung, ular berkepala tujuh" ucap Tamara yang membuat Vina dan Rosa tertawa.
"Heh kalian gak malu ya, kating tapi malah ngebully adik letting. Bukan seharusnya kalian bimbing kita ya supaya membuat nama kampus ini menjadi lebih baik" ucap Hilya
"Lagian yang tadi kakak bilang ular kepala tujuh bukan Disa, tapi kalian" ucap Hilya lagi.
"Gak inget ya kemarin kakak teh mau ngasih obat sakit perut ke aku, tapi malah nuduh Disa" ucap Hilya yang tak takut dengan Tamara geng.
"Hahaha, definisi ngomongin diri sendiri ularrrr" ucap Syifa
"Ayo Disa masuk" ucap Hilya
"Byyeee ularrrr wleekkk" ejek Syifa
"Sialan ya tuh anak" ucap Tamara yang kesal.
"Gue bakal buat dia di keluarin dari kampus, kalau engga gue bakal buat dia sendiri yang ingin keluar dari kampus ini" ucap Tamara
"Mending lo gak usah ganggu mereka deh" ucap Fajar yang muncul dari belakang.
"Lo gak mau berurusan dengan Zidan kan" ucap Rifi
"Kalau tau gue ya, mending fokus kuliah aja, dari pada mempermalukan diri sendiri" ucap Fajar dan kemudian pergi
"Ihhh resek banget sih" teriak Tamara
"Gue gak bakal menyerah" ucap Tamara.
"Iya Sa" Sahut Hilya sambil tersenyum
"Kasian juga ya Disa" ucap Syifa yang melihat Disa pergi.
"Iya, kita masuk yuk" ucap Hilya.
Hilya dan Syifa pun masuk ke ruang kelas mereka. Abian langsung menghampiri Hilya
"Pagi Hil" ucap Abian
"Syif kita duduk di sebelah sana yok" ucap Hilya yang mengabaikan Abian
"Yok Hil" Sahut Syifa
"Hilya, Hilya tunggu dulu" ucap Abian yang menahan Hilya
"Lepasin,, apaan sih" ucap Hilya
"Kamu kenapa sih, sampai kapan kamu mau menjauh terus dari aku" ucap Abian
"Kalau kamu ngejauhin aku karena gak enak sama Disa, kamu tenang aja aku udah putusin Disa" ucap Abian lagi
"Sakit ya,minggir sana" ucap Hilya yang langsung menuju ke tempat dia duduk.
"Hai Hilya, Syifa" ucap Nando yang duduk di belakang Hilya dan Syifa
"Hai Nando" sapa mereka berdua bareng
"Gimana hari ini, semangat?" tanya Nando
__ADS_1
"Pasti dong" ucap Hilya yang tersenyum
Melihat Hilya berbicara dengan Nando membuat Abian cemburu. Dosen pun masuk ke ruang kelas Hilya.
"Selamat pagi semuanya" ucap Dosen tersebut
"Perkenalkan nama saya Irene Gustina, kalian boleh panggil saya miss Irene" ucap miss Irene.
"Pagi miss Irene" sahut semua mahasiswa
"Oh ya di jurusan kita akan bertambah dua mahasiswi yang pindah jurusan" ucap miss Irene yang membuat Hilya dan Syifa saling tatapan dan tersenyum.
"Silahkan masuk" ucap miss Irene
"Ini adalah Shafia dan Zakia mereka pindah dari jurusan Sastra ke jurusan kita" ucap miss Irene.
"Kalian berdua silahkan duduk" ucap miss Irene
"Makasih miss" sahut keduanya.
("Mereka ngapain sih pindah ke sini, ini bisa buat aku susah buat dekati Hilya lagi"batin Abian).
Di ruang kelas Disa terduduk sendiri termenung, sampai datang dua mahasiswi yang mem-bully Disa.
"Eh ada si pick me girl nih" ucap Laras
"Termenung aja nih kenapa lu gak ada teman" sahut Ulfa yang menarik tas Disa
"Balikin tas aku" ucap Disa
"Lo boleh tuh ngambil dompet gue dan masukin ke tas mahasiswi sebelah, gue juga boleh dong ngambil tas lo dan ngebuang ke tong sampah" ucap Laras.
"Balikin tas aku" ucap Disa
"Gak" bentak Ulfa
"Oh ya guys, kita udah dapat izin buat bully ni orang. Jadi kalau kalian mau bully dia silahkan aja, tidak akan ada yang bakal larang" ucap Ulfa
"Bener banget, bahkan jika ada yang berani bantuin dia, maka kak Tamara bakal kasih kalian pelajaran" ucap Laras.
"Dan lo mau ini tas, brakkk tuh ambil" ucap Laras yang melempar tas Disa ke tong sampah.
Disa mengambil tasnya yang kotor dan keluar dari ruang kelas, jujur Disa ingin sekali menangis namun dia tak tau harus menunjukkan tangisannya pada siapa.
Brughhhh Disa menabrak seseorang.....
...****************...
...****************...
...****************...
Hai guys dukung terus author ya
jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.
maaf jika ada kata-kata yang typo
byebye....
...****************...
...****************...
__ADS_1